Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

29 Januari 2012

Kurikulum Berbasis Kompetensi: Angan-angan Selangit yang Bermetamorfosis Menjadi Pembohongan Publik

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Kurikulum berbasis kompetensi telah disusun. RKPS dengan rencana yang selangit juga telah dibuat untuk setiap matakuliah yang sebagian besar mempunyai 1 SKS praktikum. Untuk pelaksanaan praktikum, panduan praktikum juga sudah dibuat dengan minimal terdiri atas 4 topik. Rencananya lagi, setiap dosen akan diminta untuk membuat SOP
(standard operation prosedur) proses pembelajaran. Bukan main. Rencana memang boleh hebat, tetapi bagaimana bila setiap tahun tidak tersedia anggarannya? Kompetensi memang mudah untuk diucapkan, tetapi tidak murah untuk dilaksanakan. Semua rencana memang dapat dibuat, tetapi percuma saja kalau tidak dapat dilaksanakan. Rencana itu ibarat cita-cita. Cita-cita boleh setinggi langit, tetapi bila tidak ada upaya untuk menggapainya apakah akan dengan sendirinya tercapai?

Bagaimana bisa terjadi setiap tahun tidak tersedia anggaran biaya praktium tentu bukan urusan dosen, apalagi mahasiswa. Dosen dan mahasiswa tahu bahwa untuk melaksanakan praktikum seharusnya tersedia anggaran biaya. Syukur-syukur kalau anggaran biaya yang tersdia masuk akal (dalam arti mencukupi untuk pelaksanaan 4 topik minimum yang dipersyaratkan). Bertahun-tahun besar biaya praktikum sudah sangat menyedihkan. Dan dalam beberapa tahun terakhir bahkan tidak perlu disedihkan lagi karena memang tidak lagi tersedia anggaran biaya praktikum. Akibatnya, setiap tahun nilai praktikum dihadiahkan begitu saja kepada mahasiswa. Artinya, nilai praktikum diberikan padahal mahasiswa tidak melaksanakan praktikum. Kalaupun memang melaksanakan, praktikum yang dilaksanakan jauh dari topik praktikum yang direncanakan dalam panduan. Padahal itu terjadi pada saat kurikulum mulai diubah dari kurikulum biasa-biasa saja menjadi kurikulum berbasis kompetensi. Mudah-mudahan saja hal ini bukan bagian dari upaya untuk menghasilkan lulusan berstandar internasional.

Bagaimana bisa terjadi setiap tahun tidak tersedia anggaran biaya praktium memang bukan urusan dosen dan mahasiswa. Itu adalah kewenangann dan tanggung jawab para pengambil kebijakan. Tapi memberi dan menerima nilai praktikum sekedar sebagai hadiah tentu saja kemudian menjadi masalah moral dan etika bagi dosen dan mahasiswa. Bukankah ini sama artinya dengan mengajarkan kebohongan kepada mahasiswa sehingga kemudian ketika mahasiswa menjadi pemimpin kelak menjadi dasar bagi mereka untuk melakukan pembohongan publik? Bukankah ini merupakan awal pembelajaran melakukan korupsi dari mula-mula melakukan korupsi nilai matakuliah untuk kemudian ketika mahasiswa kelak setelah lulus dan menjadi pemipin sudah memperoleh pelajaran dasar untuk melakukan korupsi uang rakyat? Siapakah kemudian yang lebih berdosa, dosen yang mengajarkan dasar-dasarnya atau mahasiswa yang kemudian setelah lulus dan menjadi pemimpin berimprovisasi secara kreatif untuk menerapkanya?

Tentu saja pertanyaan-pertanyaan di atas tidak cukup untuk direnungkan, melainkan perlu dicarikan solusinya. Dosen dan mahasiswa perlu bersama-sama mencari solusi untuk keluar dari jebakan melakukan pembohongan dan melaksanakan pembelajaran korupsi. Solusi yang dapat ditempuh adalah melaksanakan parktikum gabungan matakuliah yang dikkordinasikan sendiri oleh mahasiswa dengan pembiayaan secara iuran. Cara ini sebenarnya kurang logis dari segi pembiayaan karena ketika membayar SPP mahasiswa sebenarnya telah membayar biaya praktikum. Tetapi yang sebenarnya lebih tidak logis adalah mengapa kalau mahasiswa sudah membayar biaya praktikum bias terjadi anggaran biaya praktikum tidak bias dicairkan? Dan tentu saja kemudian menjadi bertambah tidak logis kalau mahasiswa yang sebenarnya tidak pernah melaksanakan praktikum bias memperoleh nilai praktikum. Rupanya, dalam kehidupan nyata memang tidak semua dapat dilogikakan. Kehidupan adalah realitas dan pelaksanaan praktikum seyogianya disiasati sesuai dengan realitas yang terjadi. Bila tidak, kata-kata berbasis kompetensi hanya manis untuk diucapkan untuk kemudian berubah menjadi kebohongan besar (seperti kata para pemuka agama) ketika diterapkan untuk menghasilkan lulusan berstandar internasional.

Tantangannya kemudian adalah bagaimana bias mewujudkan praktikum gabungan ini tanpa menumbuhkan kecurigaan dari pihak-pihak tertentu. Realitas memang seringkali tidak masuk akal. Bahwa fakultas pertanian seharusnya adalah tempat belajar ilmu yang berbasis teknis ilmiah. Dalam kenyataannya, bukan berarti bebas dari arena percaturan politik. Dan dalam percaturan politik, kepercayaan (trust) hanyalah sekedar kepentingan. Di sini memang tantangannya, sehingga meskipun sebagian besar dosen sudah bergelar magister dan doktor, bukan berarti segalanya dengan sendirinya menjadi lebih baik dan lebih hebat. Gelar magister dan gelar doktor hanyalah sekedar modal manusia (human capital). Untuk mewujudkan visi yang hebat juga diperlukan modal sosial (social capital), yaitu bagaimana menumbuhkan rasa saling percaya (mutual trust) untuk kemudian dapat mewujudkan sinergi melalui kegiatan bersama dan kerjasama (joint action and cooperation). Inilah yang dilipakan, kalau sudah bergelar magister dan doktor maka semuanya dengan sendirinya menjadi hebat.
Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?