Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

25 September 2012

Pembangunan: Mendekatkan atau justeru menjauhkan?

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Kali ini, kembali saya memperoleh kesempatan untuk pulang ke kampung kelahiran saya. Saya mengatakan kembali memperoleh kesempatan karena memang ini merupakan kesempatan ke sekian kali. Sejak menyelesaikan pendidikan dasar, saya sudah meninggalkan kampung kelahiran, Banjar Bungbungan, Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Saya menyelesaikan pendidikan dasar di SD Bungbungan, yang kala itu berlokasi di Banjar Kaleran, di sebelah selatan banjar tempat kelahiran saya. Kemudian, saya melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri Negara, kini SMP Negeri 1 Negara, dan melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA Negeri Negara, kini SMA Negeri 1 Negara sampai kelas 1, kini kelas 10. Setelah itu, saya melanjutkan pendidikan di luar Bali, di Pulau Sumbawa, Pulau Lombok, Kanada, dan Australia, dan bahkan bekerja juga di luar Bali. Tidak mengherankan bila pengetahuan saya mengenai kampung kelahiran saya sangat terbatas.


Meskipun berada di luar Bali, saya cukup sering pulang ke kampung halaman, tetapi tidak pernah bisa tinggal lama di kampung. Bahkan ketika masih SMA pun, saya sudah terbiasa pulang ke kampung halaman, terutama untuk mengikuti upacara agama. Orang tua saya berasal dari Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Karena itu, keluarga besar saya berada di desa tersebut. Bukan hanya itu, pura leluhur saya juga berada di desa tersebut, yaitu Pura Kyai Agung Pasek Gelgel di Desa Aan. Saya, sebagaimana halnya semua orang Bali lainnya, sebenarnya mempunyai marga, hanya saja tidak mencantumkan nama marga sebagai bagian dari nama diri seperti halnya suku-suku lainnya. Dalam hal ini, marga saya adalah Pasek Gelgel Aan. Seluruh marga Pasek Gelgel mempunyai pura bersama, yaitu Pura Lempuyang Madya di Kabupaten Karangasem. Sebagai anggota marga, yang dalam bahasa Bali disebut 'treh', saya berkewajiban untuk bersembahyang di pura-pura tersebut.

From Maturan di Pura Goa Lawah dan Pasek Gelgel di Aan
From Maturan di Pura Goa Lawah dan Pasek Gelgel di Aan

Setiap kali saya pulang kampung, saya selalu melihat banyak perubahan. Pada akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an, perubahan yang paling mencolok adalah infrastruktur. Jalan raya Denpasar-Gilimanuk yang semulq merupakan jalan satu jalur, dibangun menjadi dua jalur berlapis aspal hot mix. Jalan dari pusat desa Yehembang ke kampung kelahiran saya yang semula merupakan jalan tanah yang berdebu pada musim kemarau dan berlumpur pada musim hujan, dibangun menjadi jalan beraspal. Kampung kelahiran saya yang semula gelap gulita pada malam hari, berubah menjadi diterangi listrik swadaya masyarakat dan kemudian  listrik PLN. Demikian juga dengan air minum, semula masyarakat harus mengambil air bersih dari sungai di bagian kanan dan kiri lokasi kampung dengan cara memikul atau menjunjung di atas kepala, kemudian memperoleh layanan air bersih PDAM. Untuk ke pasar yang terletak di pusat desa, semula orang harus memikul hasil bumi untuk dijual dan belanjaan dari pasar dengan berjalan kaki sejauh 14 km pergi pulang, kemudian bisa menggunakan kendaraan. Semula masyarqkat menggunakan angkutan sewaan, kini hampir semua orang memiliki sepeda motor dan bahkan mobil.

Dahulu, sepulang sekolah, kami anak-anak harus membantu orang tua bekerja di tegal, yaitu lahan yang ditanami tanaman perkebunan. Semula tanaman perkebunan yang dominan adalah kopi robusta, kemudian berganti dengan cengkeh, vanili dan kakao, dan kini pisang. Dahulu, setelah membantu orang tua di tegal, menjelang malam kami bermain bersama. Kemudian, anak-anak sekolah lebih suka menatap televisi. Dan kini, sepulang sekolah anak-anak sibuk dengan telepon seluler dan motor. Dibandingkan dengan membaca buku pelajaran, anak-anak sekolah lebih suka membaca pesan singkat atau memperbarui status Facebook dan Twitter. Teknologi telekomunikasi dan informasi telah mengubah total kehidupan di kampung. Namun pembangunan yang saya rasakan membawa drastis perubahan adalah intrastruktur transportasi. Jalan raya Denpasar-Negara yang semula hanya dua jalur kini sudah bertambah lebar. Meskipun demikian, jalan lebar bukannya menjadikan kampung kelahiran dapat saya capai dalam waktu semakin singkat, melainkan justeru sebaliknya. Waktu tempuh Denpasar-Negara sejauh 96 km yang semula hanya sekitar 2-3 jam dengan kendaraan umum, kini menjadi 4-5 jam atau bahkan lebih.


View Larger Map

Saya pun bertanya-tanya, mengapa hal ini bisa terjadi. Yang jelas, ruas jalan tetap, tetapi jumlah kendaraan terus bertambah. Di satu pihak, hal ini tentu menunjukkan bahwa pembangunan telah berhasil memakmurkan masyarakat. Sebab, hanya dengan perekonomian yang lebih baik maka masyarakat baru bisa membeli kendaraan bermotor. Saya pun teringat, seorang pejabat di kota tempat saya bekerja pernah berargumentasi bahwa kemacetan lalu lintas merupakan indikasi keberhasilan pembangunan. Kalau sudah begini, bagaimana kita bisa berharap pemerintah bisa merumuskan kebijakan transportasi publik yang jelas. Di berbagai negara maju yang pernah saya kunjungi, transportasi publik ditangani langsung oleh pemerintah. Di Indonesia, bidang yang seharusnya merupakan layanan pemerintah, justeru diserahkan kepada swasta. Maka jalan pun macet oleh ratusan dan bahkan ribuan angkutan perkotaan yang saling bersaing mendapatkan penumpang untuk kemudian memperlakukan penumpang tidak lebih daripada barang. Ditambah lagi dengan pajak kendaraan pribadi yang sangat berpihak kepada orang kaya, orang-orang kaya pun terus menambah jumlah kendaraan pribadinya tanpa harus takut membayar pajak yang semakin mahal untuk setiap tambahan kendaraan tambahan yang dimilikinya.

Maka pada kesempatan pulang kampung kali ini saya harus bersabar menempuh jalan sepanjang 80 km dari Terminal Ubung di Denpasar sampai di halte depan pasar Desa Yehembang selama lebih dari 4 jam. Di dalam bis, saya juga harus bersabar mendengar telepon seluler milik penumpang lain yang berdering bersahutan dengan beraneka nada dering dan volume. Penumpang seperti tidak perlu merasa malu mengganggu kenyaman penumpang lain dengan dering telepon seluler dan pembicaraan telepon mereka. Di sepanjang jalan kendaraan truk tronton dan gandeng merayap sambung menyambung, saling berhimpitan dengan mobil dan sepeda motor pribadi berbagai merek. Di sebuah tanjakan saya melihat sebuah truk tronton macet mengambil satu lajur jalan sehingga kendaraan dari kedua arah harus saling menunggu giliran melintas. Polisi lalu lintas pun menjadi sibuk, tetapi kemacetan tetap tidak bisa diatasi.

Ketika di kampung saya menceritakan hal ini, seorang kerabat mengatakan bahwa sebenarnya pernah ada wacana untuk membangun jalan layang Denpasar-Gilimanuk. Namun, kata kerabat saya, wacana ini ditentang oleh masyarakat Bali, khususnya masyarakat Bali Hindu. Alasannya, jalan layang akan menutup akses masyarakat melakukan upacara 'melasti' yang diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian upacara  menyambut tahun baru Saka. Pada saat 'melasti' ini, masyarakat desa adat mengusung 'pratima' ke pantai. Kata kerabat saya, 'pratima' tidak boleh diusung di bawah bangunan buatan manusia. Saya memaklumi alasan tersebut. Namun, daripada menghadapi kemacetan yang semakin hari semakin macet, mengapa tidak dicarikan jalan keluarnya. Bukankah di atas jalan layang dapat dibuat jembatan layang sebagai akses mengusung 'pratima' ke pantai? Dalam perjalanan kembali ke Kupang, di dalam pesawat udara adik saya bertanya, sambil menunjuk ke kompartemen bagasi di atas tempat duduk penumpang, "Bukan tidak mungkin di dalam koper di atas itu disimpan pakaian dalam. Bagaimana kalau 'pedanda' naik pesawat terbang, di mana dia harus duduk supaya tidak berada di bawah tempat pakaian dalam?" Saya tidak bisa menjawab, sebab saya pun tengah bingung memikirkan, sampai kapan Bali masih bisa mempertahankan bangunan tidak boleh lebih tinggi dari 2-3 tingkat?
Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?