Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

30 September 2012

Seminar Internasional atau Diskusi Ngalor Ngidul?

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Tayangan Tamu oleh:  
Max Junus Kapa
Mahasiswa Program Doktor Universitas Udayana

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah spanduk di Jl. El Tari (salah satu jalan protokol di Kota Kupang, terletak persis di depan Kantor Gubernur NTT), tentang akan diselenggarakan seminar internasional dalam rangka ulang tahun emas Universitas Nusa Cendana (Undana). Tema yang diangkat dalam seminar tersebut adalah: “The Impact of Cilmate Change on Food Sovereignty and Community Welfare in Semi-arid Regions” yang dalam Bahasa Indonesia kurang lebih: “Dampak Perubahan Iklim terhadap Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan Masyarakat di Wilayah Semi-ringkai”. Wah, hebat juga Undana, kata saya dalam hati, karena begitu peka terhadap isyu yang mengglobal saat ini, sehingga menjadi relevan dengan visinya sebagai universitas berwawasan global.


Tapi, tunggu dulu. Kekaguman saya mulai terusik ketika saya membaca spanduk itu secara lebih teliti terutama mengenai tema seminar ini. Saya sulit menarik benang merah antar komponen dalam tema ini. Paling tidak, ada tiga hal penting yang mengusik saya karena sulit mencari hubungan secara bermakna antar perubahan iklim, kedaulatan pangan, dan wilayah semi-ringkai.

Pertama, setahu saya, tidak ada hubungan langsung antara perubahan iklim dengan kedaulatan pangan, mengingat kedaulatan pangan lebih banyak ditentukan oleh kebijakan. Kalau antara perubahan iklim dengan ketahanan pangan, jelas mempunyai hubungan langsung, karena bila iklim berubah maka akan berakibat pada gagal panen sehingga ketahanan pangan menjadi terganggu. Untuk memastikan hal ini, saya mencoba menghubungi salah seorang contact person yang kebetulan adalah bekas dosen saya. Beliau mengatakan bahwa tema itu sudah benar dan ada hubungan antara perubahan iklim dan kedaulatan pangan. Ketika saya mengajukan argumen, beliau menyarankan saya untuk melihat penjelasannya pada brosur seminar. Maka karena penasaran, esok harinya saya pun mencari brosur itu di kampus saya.

Setelah membaca brosur, saya bukan menjadi paham, justeru sebaliknya menjadi bertambah bingung. Kebetulan btosur yang saya dapatkan sudah dilampiri dengan daftar pemateri dan materi yang akan dibahas dalam seminar dua hari tersebut (dari 19 pembicara yang diharapkan hadir, ternyata hanya 10 yang bisa hadir). Dalam latar belakang yang tercantum di brosur disebutkan bahwa berdasarkan potensi lokalnya, Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur telah ditetapkan oleh pemerintah pusat, sebagai gerbang utama untuk pariwisata dan sebagai kawasan pendukung pangan nasional melalui produksi peternakan dan perikanan. Di situ juga dijelaskan bahwa kedaulatan pangan dimaknai sebagai hak masyarakat untuk mengakses pangan dalam jumlah yang cukup, sehat, dan berterima secara budaya yang dihasilkan melalui metode yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dari pengertian ini, timbul pertanyaan apakah saat ini masyarakat di daerah ini sudah berdaulat terhadap pangannya sehingga jika terjadi perubahan iklim, maka segalanya akan berantakan? Bukankah yang terjadi sampai saat ini justeru masyarakat belum memiliki kedaulatan terhadap pangan? Bukankah sampai saat ini kita tengah direcoki dengan bahan pangan impor termasuk pangan pokok kita yakni beras? Lalu mengapa demikian? Jawabnya tentu saja karena kebijakan yang tidak berpihak kepada para petani dan bukan karena perubahan iklim. Yang sering menghilangkan kedaulatan masyarakat atas pangan adalah kebijakan yang salah, termasuk penyeragaman pangan dan kebijakan liberalisme dan pasar bebas. Kebijakan mengenai perdagangan produk pertanian organik yang lagi ‘ngetrend’ saat ini sebagai isu pertanian yang ramah lingkungan, ternyata tidak mudah untuk bias dijangkau oleh petani kecil, yang memang sejak awal tidak (mampu) menggunakan pupuk dan pestisida sintetis (karena harganya yang mahal), karena adanya sejumlah standar yang ditetapkan dalam perdagangan bebas yang sulit dipenuhi petani kecil. Dengan begitu, pertanian organik justeru menguntungkan negara maju.

Kedua, perubahan iklim dan wilayah semi-ringkai. Konsep wilayah semi-ringkai sesungguhnya merupakan konsep yang dibangun berdasarkan kondisi iklim suatu tempat, sehingga ia merupakan bentuk klasifikasi iklim. Dengan demikian jika pola iklim berubah, logikanya wilayah semi-ringkai itu juga akan berubah entah menjadi wilayah ringkai atau sebaliknya menjadi wilayah basah (humid), bergantung pada pola perubahan iklim itu sendiri. Juga bisa terjadi, wilayah yang dulunya ringkai menjadi semi-ringkai atau wilayah yang humid (basah) menjadi semi-ringkai. Nah, pertanyaanya adalah, wilayah semi-ringkai yang mana yang menjadi penekakan dalam seminar ini, yang saat ini memang semi-ringkai atau yang kemungkinan nanti akan menjadi semi-ringkai? Jika NTT dan NTB yang menjadi penekanan, sesuai latar belakang dalam brosur sebagai wilayah semi-ringkai, maka tentunya hal ini akan menjadi negasi terhadap konsep perubahan iklim itu sendiri, dalam pengertian jika NTT dan NTB masih dipandang semi-ringkai maka sesungguhnya tidak terjadi perubahan iklim.

Tujuan dari seminar ini sendiri sungguh luar biasa, yakni: (1) Berbagi informasi terkini mengenai perubahan iklim dan dampaknya terhadap kedaulatan pangan dan kesejahteraan masyarakat yang berada di daerah semi-ringkai, (2) Merumuskan strategi jangka pendek dan jangka panjang dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap kedaulatan pangan dan kesejahteraan masyarakat di daerah semi-ringkai.

Setelah melihat topik-topik materi yang akan disajikan, saya agak pesimis apakah tujuan tersebut (terutama tujuan kedua) dapat tercapai, mengingat saya tidak melihat adanya sinkronisasi antar topik-topik materi yang dibicarakan. Topik-topik yang disajikan, menurut saya, cenderung ngalor-ngidul sehingga tidak fokus. Saya tidak melihat intisari mengenai kedaulatan pangan dalam topik-topik tersebut, karena lebih cenderung ke arah ketahanan pangan. Tapi entahlah, mengingat pembicara yang hadir adalah para pakar yang dihimpun oleh institusi yang berwawasan global, sehingga prediksi saya yang minimlais ini belum tentu benar. We do not know alias walahualam!!!

Bagaimanapun juga, saya menghargai kerja ekstra keras panitia seminar demi terselenggaranya seminar ini. Paparan di atas sama sekali tidak bermaksud untuk meremehkan kerja keras panitia yang harus bias menyelenggarakan sebuah seminar internasional dalam tenggat waktu beberapa bulan. Yang saya sampaikan di sini hanya sekedar bentuk pemikiran yang siapa tahu bisa bermanfaat di masa yang akan datang. Selamat Ulang Tahun UNDANA, semoga namamu akan harum mewangi sewangi cendana!!!!

Tanggapan:
Keaulatan Pangan: Tanggapan terhadap Tayangan Tamu oleh Max Junus Kapa
Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?