Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

26 September 2012

'Naur Sesangi': Janji tetap harus ditepati, sekalipun sesudah mati...

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Saya mempunyai seorang kemenakan laki-laki yang sekarang sedang kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di kota Denpasar, Bali. Menurut ibunya, yang adalah adik bungsu saya, ketika masih kecil dahulu, kemenakan saya ini pernah sakit cukup parah. Ketika itu, lagi-lagi menurut ibunya, kakek kemenakan saya, atau mertua laki-laki adik saya, berkaul bahwa bila kemenakan saya sembuh maka beliau akan menghaturkan sesajen pada hari otonan, yaitu hari kelahiran yang berulang setiap enam bulan kalender Bali. Tapi sampai meninggal, kakek kemenakan saya ini tidak pernah memberitahu siapapun mengenai kaulnya, tidak juga memberitahu ayah dan ibu kemenakan saya. Suatu ketika, sekitar sebulan lalu, kemenakan saya mengalami kecelakaan lalu lintas di Denpasar. Sebagaimana lazimnya orang Bali, orang tua kemenakan saya menanyakan kepada 'balian', semacam paranormal khas Bali, apa kira-kira yang menyebabkan kemenakan saya mengalami kecelakaan. Maka, singkat cerita, melalui sang 'balian', kakek kemenakan saya mengatakan bahwa beliau mempunyai kaul yang harus dibayar.


Maka orang tua kemenakan saya dan keluarga besar pun menyelenggarakan upacara dalam rangka membayar kaul tersebut. Kebetulan, pada saat yang sama saya sedang berada di Bali, dalam rangka mengikuti upacara persembahyangan di pura keluarga besar Pasek Gelgel di Desa Aan, Kabupaten Kelungkung. Dengan begitu, saya pun berkesempatan menghadiri upacara membayar kaul kemenakan saya tersebut. Upacaranya memang tidak besar-besaran, tetapi paling tidak memberikan kesempatan untuk berkumpuk dengan seluruh saudara dari adik ipar saya, termasuk juga dengan menantu adik saya, suami kemenakan sulung sqya. Upacaranya kebetulan berangkaian dengan piodalan di Pura Dalem desa pekraman saya setelah piodalan di pura keluarga besar saya. Setelah itu, saya juga menyempatkan diri mengikuti persembahyangan di Pura Dang Kahyangan Perancak. Jadinya, selama seminggu saya mengisi waktu dengan mengikuti persembahyangan.

Menghaturkan sembah naur sesangi
Natab, bagian dari prosesi naur sesangi
Ibunda mempersiapkan daging ayam
panggang untuk dicicipi
Jangan dihabiskan Dek, sisakan
untuk para sepupu...
Foto keluarga setelah upacara ...
benar-benar keluarga besar
Para sepupu dengan bermacam-macam
gaya ...

Kembali ke upacara membayar kaul kemenakan saya. Di kalangan masyarakat Bali Hindu, kaul disebut 'sesangi' dan membayar kaul disebut 'naur sesangi'. Pada dasarnya, 'sesangi' merupakan janji untuk mempersembahkan sesuatu bila permohonan orang yang membuat 'sesangi' terpenuhi. Dalam kaitan dengan kemenakan saya, kakeknya memohon agar kemenakan saya sembuh dari sakit yang dideritanya. Karena kemenakan saya memang sembuh dari sakitnya maka 'sesangi' harus dibayar. Tapi sebagaimana layaknya para calon pejabat politik masa kini, entah itu calon presiden/wakil presiden, gubernur/wakil gubernur, bupati/wakilbupati, walikota/wakil walikota, janji begitu mudah diucapkan pada saat kampanye, tetapi begitu mudah pula terlupakan setelah terpilih. Semasih hidup, kakek kemenakan saya mungkin juga seperti itu. Setelah meninggal dunia, tentu saja hal seperti itu tidak berlaku lagi, jani tetap harus dipenuhi.

Andaikan saja para pejabat kita setelah mati harus 'naur sesangi', harus menepati semua janji yang pernah dibuat semasa berkampanye, maka mungkin mereka akan berpikir seribu kali sebelum begitu mudah mengumbar janji. Dan bila janji-jani pembangunan yang terlanjur dibuat para pemimpin itu seluruhnya harus dibayar, angan-angan konstitusi untuk mencapai masyarakat adil dan makmur mungkin akan lebih cepat bisa diwujudkan.
Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?