Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

27 November 2012

Kampung Kelahiran: Seorang Warga Negara yang Kehilangan Negeri

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Dalam sebulan ini saya tidak memperbarui tayangan pada blog ini. Kebetulan, selama dua minggu lebih saya berada di kampung, di Desa Yehembang, Jembrana, Bali. Namanya di kampung, meski di Bali sekalipun, Internet masih merupakan barang mahal. Saya hanya mengakses Internet untuk memeriksa email melalui telepon seluler. Lagi pula, suasana di kampung tidak memungkinkan saya mempunyai waktu untuk menulis. Saya disibukkan dengan kunjungan silaturahmi ke sana ke mari bertemu dan keluarga dan sahabat lama. Dan tentu saja berkunjung ke kawasan hutan, tempat yang pada masa kecil dahulu sering saya datangi sekedar untuk merasakan keteduhannya. Selebihnya, menulis membutuhkan inspirasi. Dalam beberapa waktu ini, saya bingung, tidak tahu harus menulis apa.

Kampung yang saya kunjungi sekarang sudah sangat berbeda dengan kampung saya dahulu, apalagi di masa kecil saya. Letaknya memang tidak berubah, berbatasan dengan kawasan hutan lindung sekitar 7 km masuk dari jalan raya Denpasar-Gilimanuk. Dahulu, untuk sampai ke kampung, saya harus berjalan kaki karena tidak ada kendaraan yang bisa masuk. Bukan saja karena pada waktu itu jalan belum beraspal, tetapi juga karena belum banyak orang yang mampu membeli kendaraan. Yang melewati jalan menuju kampung saya hanyalah gerobak ditarik sapi atau kerbau, yang disebut cikar. Saya masih ingat, pada saat masih bersekolah di SD, yang letaknya kurang lebih 3 km ke arah pusat desa dari arah kampung, kami para murid sering mengikuti konvoi cikar mengangkut hasil bumi. Mereka terutama harus berkonvoi pada musim hujan, karena bila terjerembab di lumpur, bisa saling membantu.

Kini cikar sudah lama menghilang. Mula-mula digantikan oleh mobil pickup yang digunakan untuk mengangkut orang. Itu terjadi pada saat jalan tanah berubah menjadi jalan aspal pada saat saya kuliah pada tahun 1980-an. Pada saat itu terjadi perubahan besar-besaran. Bukan hanya jalan, tetapi juga listrik dan air bersih. Kampung yang semula gelap menjadi terang oleh cahaya lampu listrik di malam hari. Mula-mula dari listrik yang dibangkitkan dengan menggunakan generator swadaya masyarakat sampai kemudian dari lampu listrik yang masuk melalui jaringan PLN. Warga pun tidak lagi perlu datang ke sungai untuk mandi sebab jaringa air bersih yang airnya diambil dari sungai di sebelah barat kampung sudah mulai masuk ke rumah. Sebelum jaringan air bersih ini masuk, penduduk pergi ke sungai di sebelah timur dan barat desa untuk mandi dan mengambil air bersih untuk memasak dan minum. Yang mengambil air minum pada umumnya adalah kaum perempuan, dengan cara menjinjing di kepala mendaki jalan setapak menyusuri jurang yang terjal. Kaum laki-laki, sepulang dari mandi biasanya membawa hasil kebun atau kadang-kadang memikul batu kali untuk bahan bangunan.

Kini jalan ke kampung saya sudah beraspal mulus. Orang sudah banyak mampu membeli sepeda motor dan bahkan mobil. Orang dari kampung yang bekerja di kota juga sudah banyak, dan bahkan di antara mereka ada yang menjadi pejabat. Mereka, bila pulang kampung, terutama pada saat upacara keagamaan, akan menggunakan sepeda motor dan mobil pribadi, tidak lagi ada yang bersedia menggunakan kendaraan umum, mungkin ingin menunjukkan bahwa mereka sudah menjadi orang yang berhasil. Saya pulang kampung dengan menggunakan kendaraan umum, mula-mula naik bis dari kota Denpasar ke arah Gilimanuk dan kemudian naik ojek dari pusat desa Yehembang menuju ke kampung. Orang-orang di kampung ada yang bertanya, mengapa naik ojek. Saya menjawab sekenanya saja, sebab kenyataannya saya memang tidak mempunyai mobil. Saya tidak mau menggunakan mobil sewaan sebab nanti orang akan mengira mobil itu milik saya. Selebihnya, saya lebih suka apa adanya, menjadi orang biasa-biasa saja. Seandainya orang tidak harus membeli mobil untuk menunjukkan bahwa mereka sudah berhasil, mungkin kemacetan di jalan raya bisa dikurangi.

Suasana kampung dahulu sangat kental dengan suasana perdesaan. Rumah-rumah sebagian besar beratap ilalang, berdinding anyaman bambu atau papan dan berlantai tanah. Kini hampir semua rumah beratap genteng, berdinding tembok, dan berlantai keramik, dan bahkan dengan ornamen khas Bali. Dahulu pekarangan rumah berpagar hidup tanaman kembang sepatu atau puring, jarang yang mempunyai pintu gerbang, apalagi pintu gerbang berkunci. Kini pekarangan berpagar tembok, bahkan dengan gapura berkunci, dan ada yang menggunakan tembok dan gapura dengan ukiran Bali. Saya tidak mengggunakan istilah arsitektur Bali di sini, karena saya ragu, di balik semua kemewahan itu, apakah masih ada yang peduli dengan asta kosala dan asta bhumi, yang menjadi dasar arsitektur Bali. Bahkan pura pun sudah dibangun kembali, dibangun supaya sesuai dengan perkembangan jaman. Bukan hanya bangunannya yang diganti, tetapi halamannya diperluas, lantainya dicor, pagar pembatasnya dibuat dengan tembok. Semua ini membuat kampung kelahiran saya menjadi terkesan maju.

Perubahan benar-benar semakin menjadi-jadi setelah jalan menuju kampung saya diteruskan pembangunannya sampai ke batas hutan dan kemudian di sepanjang batas hutan, mengelilingi kawasan kampung menyeberangi sungai yang mengalir di sebelah timur kampung. Pembangunan jalan itu sudah tentu tidak lepas dari kebijakan otonomi daerah dan pemilihan kepala daerah (pemilukada), dalam hal ini pemilihan bupati sebagai raja kecil di daerah. Setiap kali diselenggarakan pemilukada untuk memilih bupati dan wakil bupati, berbagai cara dilakukan agar masyarakat memilih calon tertentu. Calon yang masih menjabat (lazim disebut incumbent), tentu saja dapat mengatur kebijakan pemerintah untuk memenangi pemilikada, termasuk kebijakan pembangunan jalan menuju kawasan hutan. Kebijakan seperti ini mempermudah penduduk ('memfasilitasi') untuk merambah kawasan hutan. Ini dilakukan untuk apa lagi, kalau bukan untuk memperoleh du{ungan suara. Kawasan hutan lindung memang bukan dalam kewenangan pemerintah kabupaten, me|ainkan kewenangan pemerintah provinsi. Masyarakat pun kemudian beramai-ramai merambah hutan, menggganti kawasan hutan menjadi kawasan budidaya tanaman perkebunan rakyat. Tentu saja masyarakat merasa berhutang budi sehingga calon pejabat bupati dan wakil bupati incumbent pun memenangi pemilukada dan menjabat kembali untuk periode kedua.


Lihat Kampung dalam peta lebih besar
Kini saya tidak lagi dapat menemui kawasan hutan yang di masa kecil sering saya datangi. Saya tidak lagi bisa menemui pohon-pohon besar dengan tumbuhan memanjat dan liana bergelantungan. Juga tidak bisa lagi mendengar jeritan suara monyet dan kicauan burung-burung hutan. Pendar nyala kunang-kunang di malam hari sudah lama pula digantikan oleh cahaya lampu listrik. Dan kini, hutan pun sudah berganti menjadi kebun pisang dan kakao dan suara jeritan monyet dan kicau burung berganti oleh suara lagu pop yang diputar dengan menggunakan telepon seluler yang dibawa sebagai alat berjaga-jaga oleh orang-orang yang sedang pergi ke kebun, untuk memungkinkan mereka dihubungi oleh anggota jaringan ketika ada petugas kehutanan provinsi datang. Perambahan memang tidak lagi dilakukan secara perorangan, melainkan sudah terorganisasi dalam bentuk jaringan. Ditambah dengan oknum petugas yang lebih suka mendapat uang rokok daripada bercapai-capai keluar masuk hutan, maka perambahan hutanpun menjadi sesuatu yang seperti antara ada dan tiada. Maka tidak kemudian mengherankan, ketika hujan sungai akan banjir sesaat dengan air pekat berlumpur, sedangkan pada musim kemarau sungai mengering dengan air berlumut menggenang di sana sini.

Bila hutan sudah dibabat maka air sungai dengan sendirinya akan menyusut. Tapi warga kampung sepertinya tidak ada yang peduli. Bagi mereka, membabat hutan adalah kesempatan untuk meraih kesejejahteraan. Kesempatan untuk membangun rumah modern dan membeli sepeda motor dan mobil. Dan entah, apakah ajeg Bali cukup diwujudkan dengan mengucapkan salam Om Swastyastu dan membuat canang. Dan Tri Hita Karana yang seharusnya menjadi dasar ajeg Bali sepertinya tidak lagi dilaksanakan secara imbang. Hubungan manusia dengan alam semesta dan waktu (bhuta kala) dilaksanakan melalui upacara caru dan membuat ogoh-ogoh, sedangkan hutan terus saja dibabat dan telajakan terus dibangun sehingga satwa liar tidak lagi mempunyai tempat untuk hidup. Maklum, mereka tidak mungkin ada yang pernah membaca buku Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed (Kehancuran: Bagaimana Masyarakat Memilih untuk Gagal atau Berhasil Melanjutkan Masa Depan) oleh Jared M. Diamond, guru besar geografi dan fisiologi di University of California, Los Angeles (UCLA), untuk bisa mengerti apa itu namanya ekosida, memporak-porandakan lingkungan hidup untuk mengancurkan masa depan sendiri.

Sebagai orang yang sudah lebih dari 25 tahun bekerja dan tinggal di daerah lain, saya bukan lagi siapa-siapa di kampung kelahiran saya sendiri. Saya memang sudah sering menyampaikan keprihatinan saya ini kepada sahabat lama dan kerabat, tetapi sepertinya mereka memilih untuk lebih baik berdamai dengan perubahan daripada berpartisipasi dalam perubahan. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak ingin ribut dengan warga yang sebagian besar memang menikmati kemajuan kesejahtraan dari merambah hutan dan telajakan. Mereka khawatir akan dikatakan iri hati. Kalau warga sudah seperti ini, saya pun harus tahu diri untuk tidak mengusik kedamaian yang mereka nikmati, setidaknya untuk sementara saat ini. Saya bukan anti pembangunan dan modernisasi, tetapi bukan pembangunan seperti ini yang saya impikan. Saya tidak menyukai pemerintahan yang sentralistik, tetapi tidak pernah membayangkan bahwa desentralisasi menjadi seperti ini. Dan saya pun menjadi asing di kampung kelahiran. Bahkan saya tidak berani lagi menyebut kampung kelahiran saya ini sebagai kampung sendiri.

Dalam penerbangan kembali dari kampung, di dalam pesawat yang terseok-seok menembus awan musim barat, saya merasa sebagai anak bangsa yang kehilangan negeri. Saya merasa tercerabut dalam segala hal, dan bahkan sebagai warga negara. Secara pemerintahan, saya bukan lagi warga resmi kampung kelahiran saya. Tetapi di tempat sekarang saya bekerja selama lebih dari 25 tahun, saya tetap dianggap sebagai pendatang. Sebagai pendatang, saya harus merelakan hak kewarganegaraan saya hanya untuk memilih, tidak bisa untuk dipilih. Ibaratnya, saya hanya seperti orang yang tinggal 'kos' di rumah orang. Dan anak-anak saya pun tidak bisa mewakili daerah tempat kelahirannya sendiri dalam berbagai kesempatan, hanya karena mereka bukan merupakan putra daerah. Sementara itu, di kampung kelahiran saya, anak-anak saya adalah orang asing karena mereka tidak lagi bisa berbicara menggunakan bahasa daerah (bahasa bapak, bukan bahasa ibu, sebab ibu mereka berasal dari daerah lain lagi). Sesungguhnya, di mana tanah air yang bernama Indonesia itu kini? Apakah Sumpah Pemuda masih bermakna dan Pancasila memang masih berdaulat?



Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?