Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

27 Desember 2013

Open House: Bukankah Tidak Akan Menjadi Kurang Terhormat Bila Pejabat Mendatangi Rumah Bawahannya?

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Ini adalah Natal pertama bagi seorang teman saya yang sekarang menjadi pejabat di sebuah instansi pemerintah, sebut saja sebagai kepala dinas. Pagi-pagi ia sudah mengirim pesan singkat kepada saya, dan pasti juga ke seluruh pegawai di kantornya, bahwa ia menunggu kedatangan saya di rumahnya. Tentu saja ini adalah sebuah kehormatan. Selama ini saya memang selalu datang mengucapkan selamat Natal kepada seorang teman, tanpa pernah diminta, tapi kali ini saya diminta datang mengucapkan selamat Natal oleh seorang pejabat. Saya datang sesuai dengan jam yang dijadwalkan. Puluhan orang berbaris untuk menunggu giliran bersalaman, sementara puluhan lainnya duduk di kursi yang telah disediakan, menikmati makan siang. Saya pun ikut melakukan sebagaimana yang dilakukan yang lain, menyampaikan ucapan selamat dan kemudian menikmati makan siang yang disediakan. Lalu saya ngobrol dengan seseorang yang duduk di sebelah saya, tentu setelah menyampaikan selamat Natal juga.

13 Desember 2013

Negeri Terkapling-kapling dan Tercabik-cabik

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Berapakah jumlah provinsi di Indonesia kini? Ini mungkin pertanyaan yang tidak begitu sulit untuk dijawab. Tapi coba Anda jawab, berapa jumlah kabupaten/kota, kecamatan, dan desa/kelurahan di Indonesia kini? Pertanyaan ini mungkin akan membuat Anda harus menarik napas panjang sebelum menjawab tidak tahu. Untuk mencari tahu memang tidak terlalu sulit, silahkan saja misalnya kunjungi Daftar Kabupaten/Kota di Indonesia yang dimuat oleh Wikipedia. Anda akan memperoleh jawaban 414 kabupaten, 1 kabupaten administrasi, 92 kota, dan 5 kota administrasi, seluruhnya berjumlah 512. Untuk mencari jumlah kecamatan dan desa/kelurahan, klik tautan kabupaten/kota dan silahkan Anda jumlahkan sendiri untuk memperoleh angka totalnya. Dan jangan Anda lupa, itu jumlah pada saat tulisan ini ditayangkan, besok lusa mungkin sudah bertambah sebab daerah di negeri ini beranak pianak bagaikan kutu loncat. Di antara satuan pemerintahan daerah tersebut, provinsi, kabupaten/kota (kecuali kota di Provinsi DKI Jakarta), dan desa merupakan satuan administrasi dan politik (dengan pemilukada), lainnya hanya satuan administrasi (tanpa pemilukada).

09 Desember 2013

Memprotes Alasan Para Dokter Berdemonstrasi

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Sehabis mengajar, dosen-dosen yang mengajar pada jam yang sama akan bisa saling bertemu. Pada umumnya hanya bertegur sapa, tetapi sesekali juga ngobrol. Topik obrolan bermacam-macam, mulai dari kondisi proses belajar mengajar yang semakin memprihatinkan sampai pada hal-hal yang sedang menjadi sorotan media massa. Saperti siang tadi, obrolan juga dimulai dengan kondisi mahasiswa sekarang ini yang cenderung ke kampus dengan acuh, jarang yang mau bertanya, dan bahkan banyak pula yang terlambat menghadiri kuliah, sampai 1 jam. Tapi kemudian obrolan beralih ke soal demonstrasi para dokter. Para dokter, dengan digerakkan oleh organisasi profesi mereka, melakukan demonstrasi untuk menolak putusan hakim MA yang menurut pendapat mereka 'mengkriminalisasi' profesi dokter. Namanya saja obrolan, isinya pasti bermacam-macam. Apalagi yang telibat beberapa dosen dan pegawai, sebut saja Piet, Yos, dan John (maaf, bukan nama sebenarnya sehingga saya tidak menyebut dengan sapaan Pak), dan tentu saja saya sendiri.

07 Desember 2013

Back to Basic: Mengembalikan Undana ke Jati Diri Lahan Kering Kepulauan

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Pernah mendengar ungkapan 'Think Globally, Act Locally'? Bila Anda adalah seorang environmentalis, mungkin akan mengatakan ungkapan itu sebagai semboyan dalam ilmu lingkungan. Mungkin Anda benar, tetapi diperdebatakan siapa yang pertama kali menggunakan. Ada yang mengatakan digunakan pertama kali oleh David Bower, sebagai semboyan Friends of the Earth (FOE) pada saat pendiriannya pada 1969. Tapi ada pula yang mengatakan pertama kali digunakan oleh Rene Dubos, penasihat Conference on Human Environment pada 1972. Nama-nama lain yang dikaitkan dengan ungkapan tersebut adalah Jaques Ellul, Buckminster Fuller, Hazel Henderson, Saul Alisky, dan bahkan istri penyanyi kondang John Lenon, Yoko Ono. Bagi warga Undana, nama yang akan disebut pasti adalah mantan rektor Frans Frans Umbu Datta. Tapi itu dalam kaitan dengan visi The University of Nusa Cendana, Global Oriented University.

06 Desember 2013

Perjalanan Dinas: Jalan-jalan untuk Memperbaiki Kesejahteraan Para Pejabat

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Beberapa hari lalu, saya ngobrol dengan seorang teman. Kami sebenarnya berencana ke rumah rektor baru Undana, untuk memberikan ucapan selamat. Tetapi karena turun hujan, kami mengurungkan niat pergi. Maklum, kalau memaksa pergi dengan sepeda motor, kami akan kebasahan. Tentu kurang elok bertamu dengan basah kuyup, apalagi saat itu pasti banyak tamu orang-orang penting. Maka kamipun ngobrol di rumah saya, mengenai banyak hal. Tapi karena dia adalah seorang staf di sebuah kantor pemerintah, obrolanpun berkisar di seputar urusan kantor. Kebetulan akhir tahun, obrolan kamipun berkisar soal anggaran perubahan (APBNP dan APBDP). Bukan soal anggaran secara keseluruhan, melainkan anggaran perjalanan dinas dan bagaimana pejabat di kantornya menggunakan anggaran tersebut.

04 Desember 2013

Down to Earth: Menjadikan Universitas Lebih Membumi

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Kemarin, ketika Prof. Fred Benu dilantik sebagai rektor Undana menggantikan Prof. Frans Umbu Datta, saya menerima kiriman majalah alumni dari almamater saya, McGill University, dengan feature story: The Heather Decade, McGill's 16th Principal Steps Down and Looks Back (Dasawarsa Heather, Rektor ke-16 McGill Menyelesaikan Jabatan dan Melihat Kembali Masa-masa Ketika Menjabat). Prof. Heather Munroe-Blum adalah mantan rektor McGill University dengan capaian sangat mengesankan selama 10 tahun ia memimpin. Sepulang dari mengikuti prosesi pelantikan, yang dilaksanakan tertutup, saya menyempatkan diri membaca majalah alumni tersebut. Tentu saja saya tidak bermaksud membandingkan Undana dengan McGill University. Saya tahu masing-masing mempunyai kelebihan sendiri-sendiri. Pun saya tidak bermaksud membandingkan Prof. Fred Benu dengan Prof. Heather Munroe-Blum. Saya tahu masing-masing mempunyai kelebihan sendiri-sendiri. Dan saya juga tahu mereka menjadi rektor dengan cara yang berbeda.

27 Oktober 2013

Legenda Jayaprana-Layonsari: Apa yang Kita Warisi Kini?

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Kaluarga saya di kampung, di pedalaman Desa Yehembang, Kabupaten Jembrana, Bali, sering melakukan persembahyangan di berbagai pura sebagai rangkaian perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Pada Hari Raya Galungan dan Kuningan kali ini, mereka melakukan persembahyangan di Pura Jayaprana dan pura-pura sekitarnya, termasuk di Pura Pulaki, Pura Melanting, dan Pura Pabean. Pada perayaan kali ini saya sedang berada di kampung sehingga mendapat kesempatan mengikutinya. Di antara pura-pura ini, Pura Jayaprana berkaitan dengan legenda percintaan romantis dan sekaligus tragis, antara I Nyoman Jayaprana dan Ni Nyoman Layonsari, mirip dengan kisah percintaan Romeo dan Yuliet karya Shakespeare.

25 September 2013

Kita Setara dengan Mahluk Hidup Lain, tapi ...

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Suatu hari pada 2007, saya berkesempatan, dalam rangka penelitian vegetasi, menjelajah Timor Barat bersama dengan Dr. Hendik Ataupah (meninggal dunia Juni lalu). Dalam perjalanan dari Barate menuju Naikliu di pesisir utara Timor Barat, saya ingat benar, dua kali almarhum meminta berhenti secara mendadak. Pertama ketika bertemu dengan dua orang anak muda, yang seorang memanggul senapan angin, yang seorang lagi menenteng beberapa ekor burung yang telah mati, dirangkai dengan tali daun gebang. Dalam bahasa daerah, almarhum meminta agar kedua anak muda berhenti. Kemudian, almarhum menerangkan dengan panjang lebar bahwa menembak burung merupakan kegiatan merusak lingkungan. Kedua ketika melihat pembakaran hutan dan penggergajian kayu di kawasan hutan menjelang sampai di Naikliu. Almarhum mengumpulkan semua orang yang ada di situ dan kembali menjelaskan bahwa membakar dan menggergaji kayu di kawasan hutan merupakan kegiatan merusak lingkungan.

19 September 2013

Vickynisasi: Penelanjangan Gaya Berbahasa Para Petinggi

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Beberapa waktu terakhir ini, media massa beramai-ramai memberitakan gaya bahasa baru yang disebut Vickynisasi. Bermula dari tayangan Youtube wawancara dengan Vicky Prasetyo pada acara pertunangannya dengan artis dangdut Zaskia Gotik, gaya berbahasa Indonesia dengan menggunakan banyak istilah absurd yang dicampur dengan bahasa Inggris tanpa mengikuti aturan tata bahasa dan tata ucap, tiba-tiba menjadi populer. Ada istilah 'konspirasi kemakmuran', 'harmonisisasi', 'tidak boleh ego', 'mengkudeta yang menjadi keinginan', 'statusisasi', dan 'labil ekonomi', antara lain, yang dicampur dengan kalimat, tepatnya sekedar rangkaian kata-kata 'twenty nine my age'. Sejumlah pengamat memaknai ini sebagai upaya Vicky untuk melakukan mobilisasi vertikal. Artinya, dia berusaha menggunakan istilah 'sulit' dan bahasa Inggris supaya dianggap dari kalangan kelas atas. Ada pula yang mengatakan cara berbahasa seperti ini merupakan ancaman terhadap Bahasa Indonesia. Mungkin pendapat kedua ini terlalu berlebihan. Sesungguhnya, penggunaan Bahasa Indonesia di negeri ini telah lama kacau.

15 September 2013

Peluncuran dan Bedah Buku Revisitasi Lahan Kering: Soal Isi dan Roh sebuah Buku

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Pada 10 September 2013, buku "Revisitasi Lahan Kering: Diskusi Ringan Seputar Lahan Kering dan Pertanian Lahan Kering" diluncurkan dan dibedah di Restoran Grand Mutiara. Sebagai penulis kedua, saya merasa mendapat sebuah kehormatan dari dua orang. Pertama, dari Prof. Fred Benu selaku penulis pertama buku tersebut, yang mempercayai seorang dosen minimalis seperti saya, menulis bersandingan. Kedua, dari mantan Gubernur NTT, dr. Ben Mboi, yang sudah berkenan memberikan kata pengantar dan sekaligus membedah buku tersebut. Namun, menulis mendampingi seorang guru besar bukan tanpa konsekuensi. Saya kaget ketika pembawa acara menyebut nama saya dengan embel-embel doktor dan profesor, padahal saya hanya seorang guru kecil. Bahkan, di kampus yang mengukur keberhasilan seseorang dengan gelar dan jabatan akademik, saya dikategorikan hanya sebagai dosen minimalis. Konsekuensi lainnya, orang mungkin berharap lebih, jauh melebihi kapasitas saya sebagai seorang guru kecil yang dengan tertatih-tatih ingin menunjukkan bahwa dosen minimalis tidak hanya menjadikan kampusnya sekedar sebagai tempat 'gantung kaki'. Saya hanya ingin menunjukkan, seorang guru kecil sekalipun masih bisa berbuat sesuatu tanpa harus menunggu embel-embel doktor dan guru besar.

31 Agustus 2013

GMO: Janji Menghapuskan Kelaparan dan Kemiskinan Bermuatan Kepentingan Kekuasaan dan Keuntungan

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Dalam beberapa hari terakhir ini saya diolok-olok oleh teman sendiri karena berbeda pendapat soal GMO. Saya sudah jelaskan kepada dia, bahwa saya bukan anti GMO sebagai ilmu. Yang saya tolak adalah klaim bahwa 'GMO lebih hebat daripada mahluk hidup bukan GMO', semacam mahluk hidup ajaib, dan bahwa 'GMO akan menghapuskan kelaparan dan kemiskinan dari muka bumi'. Begitupun, teman saya ini terus membanjiri saya dengan email berisi tautan ke berita media massa arus utama yang dalam beberapa kurun waktu terakhir, setidak-tidaknya sejak majalah Time menjadikan golden rice sebagai berita utama pada 2010, begitu gencar memberitakan (baca mempromosikan) GMO. Untung saja, teman saya ini tidak sampai menyebut saya sebagai 'low-life', 'murdering creeps', 'profiteering on ignorance', 'a murdering bastards', 'anti-human, with murderous agenda', sebagaimana yang dilakukan oleh Patrick Moore, mantan aktivis lingkungan yang berbalik haluan, terhadap GMWatch.

24 Agustus 2013

Ekstrem

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Kemarin saya mendapat kiriman tulisan blog dari seorang teman. Isinya tentang upaya sebuah LSM internasional yang begitu peduli melestarikan paus. Saking pedulinya, LSM ini mengabaikan kenyataan bahwa masyarakat setempat telah secara turun temurun memburu paus sebagai cara bertahan hidup. Kawan saya mengatakan, di negara-negara Barat orang sibuk memikirkan anjing peliharaan yang mengalami obesitas. Mereka mungkin tidak tahu kalau di banyak negara berkembang, masih banyak orang mengalami kelaparan. Atau, kalaupun mereka tahu, mereka tidak peduli. Teman saya yang lain, seorang dengan latar belakang pendidikan sejarah, agronomi, dan biokimia, menyebut hal seperti ini euforia anak-anak kota, city kids' euphoria, katanya. Saking merasa harus sadar lingkungan, anak-anak kota seperti itu bersikeras melarang menebang sebatang pohon tua di sebelah rumah, sampai akhirnya pohon tua itu tumbang menhancurkan rumah yang ditimpanya.

22 Agustus 2013

Kegalauan Seorang Kawan

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Tadi siang, ketika saya bersiap-siap pulang setelah selesai memberikan tutorial, tiba-tiba dia berdiri di sebelah, menanyakan kabar. Kami memang jarang bertemu, setidak-tidaknya offline. Saya pun menanyakan, apa kesibukannya sekarang. Dia mengatakan biasa-biasa saja, tidak ada pekerjaan. Saya katakan kalau saya juga sama, paling kalau pun sibuk, hanyalah menulis untuk mengisi blog, kalau itu boleh disebut kesibukan. Kami pun sama-sama tertawa, entah untuk apa, mungkin sama-sama menertawai diri sendiri. Tapi itu membuat kami nyaman untuk memulai obrolan, sekenanya, di emperan gedung administrasi fakultas sebuah universitas berwawasan global.

17 Agustus 2013

Merayakan Hari Kemerdekaan: Diskursus Seputar Arti Merdeka

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Hari ini untuk kesekian kalinya kita merayakan Hari Kemerdekaan. Dan untuk kesekian kalinya pula, di mana-mana dilaksanakan apel pengibaran dan penurunan bendera. Lalu di mana-mana, pemerintah menyelenggarakan pawai dan pameran pembangunan, tidak lain dan tidak bukan untuk menunjukkan kepada rakyat bahwa pemerintah telah berhasil mengisi kemerdekaan dengan pembangunan. Dan di mana-mana spanduk berbentangan, berisi ucapan selamat, tentu saja oleh para pejabat dan oleh mereka yang sedang berkampanye untuk bisa menjadi pejabat. Begitulah, hari ini, 17 Agustus 2013, 68 tahun sudah lamanya kita merdeka. Orde berganti orde, rezim berganti rejim, pemerintahan berganti pemerintahan. Tapi apakah memang kita sudah merdeka?

11 Agustus 2013

Monokultur: Betapa Penyeragaman Masih Terjadi di Mana-mana

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Tadi pagi saya membuka email menemukan seorang teman meminta saya mengikuti tautan yang ia kirimkan. Biasanya saya sering mengabaikan permintaan seperti ini. Tapi kali ini, entah mengapa, saya mengikuti permintaannya. Setelah tautan saya ikuti, saya sampai pada tulisan kolumnis The New York Times, Thomas L. Friedman, dengan judul Kansas and Al Qaeda. Apakah terjadi serangan Al Qaeda kembali di AS? Ternyata bukan itu. Tulisan ini membandingkan praktik budidaya monokultur yang dilakukan di Kansas dengan tujuan Al Qaeda untuk menyeragamkan Islam. Keduanya dengan menggunakan minyak bumi sebagai sumber energi, yang satu untuk menggerakkan traktor dan yang satunya lagi untuk mempersenjatai diri. Friedman berusaha menunjukkan, dengan pertanian monokultur sebagai analogi, bahwa penyeragaman masyarakat, atas nama agama sekalipun, akan berujung pada kehancuran. Untuk memperkuat argumentasinya, Friedman mengajukan bukti-bukti sejarah mengenai kecemerlangan Islam pada abad ke-8 sampai ke-13 pada masa yang disebutnya sebagai Islam polikultur.

10 Agustus 2013

Bingung, Harus Menulis Apa

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Dalam satu bulan terakhir ini, saya bingung harus menulis apa. Begitu banyak sebenarnya yang terjadi, sebegitu banyak yang bisa ditulis. Tetapi saya bingung, harus menulis yang mana. Orang bilang, menulis memerlukan inspirasi. Mungkin benar juga, tetapi kebingungan saya bukan berkaitan dengan inspirasi. Lagipula, saya bukan seorang sastrawan yang perlu menunggu inspirasi untuk menulis. Jangankan sastrawan, seorang penulis pun tidak. Saya hanya suka menulis, itu saja. Maka saya pun bingung, mengapa dalam satu bulan terakhir ini saya tiba-tiba menjadi tidak tahu, harus menulis apa.

30 Juni 2013

Mempertanyakan Proses Suksesi: Akan Menuju ke Mana?

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Hadiah paling bernilai yang terima pada saat pernikahan saya akhir tahun lalu adalah sebuah buku. Itu karena buku tersebut ditulis dan dihadiahkan sendiri oleh penulisnya, yang juga adalah sahabat saya, seorang guru besar FMIPA sebuah universitas terkemuka. Karena berbagai kesibukan, saya baru sempat kembali membaca buku tersebut. Meskipun judulnya 'Ekologi Tumbuhan', buku tersebut juga mencakup bab-bab yang menurut saya lebih cocok sebagai bagian dari buku ekologi umum. Tapi sahabat saya pasti mempunyai pertimbangan lain, mengapa memasukkan bab-bab ekologi umum tersebut ke dalam buku ekologi tumbuhan. Bagi saya, bagian yang cukup menarik adalah dari buku tersebut adalah bab mengenai suksesi. Setidak-tidaknya, bab ini menarik bagi saya dalam kaitan dengan minat saya pada bidang ekologi dan dalam kaitan dengan penggunaannya dalam bidang lain. Kita semua tahu, kata suksesi begitu jamak diucapkan orang akhir-akhir ini, terutama di kalangan politisi, sehingga jangan-jangan orang mengira bahwa istilah ini berasal dari ilmu politik daripada dari ekologi.

28 Juni 2013

Tidak Lagi Ada Seribu Kunang-kunang di Kampungku

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Kunang-kunang
"Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela." Kutipan ini berasal dari cerita pendek Umar Kayam, Seribu Kunang-kunang di Manhattan (silahkan baca dahulu sebelum melanjutkan membaca tayangan ini). Saya belum membaca cerita pendek ini, ketika dahulu, di masa kanak-kanak, menyaksikan bukan hanya seribu, melainkan beribu-ribu kunang-kunang di kampung saya. Kini, jangankan seribu, mencari beberapa ekor saja mungkin sudah tidak lagi mudah. Anak-anak kecil di kampung saya mungkin juga tidak lagi suka bermain dengan kunang-kunang, atau bahkan mungkin tidak lagi pernah tahu apa sebenarnya itu kunang-kunang. Atau mungkin, apakah mereka masih perlu bermain dengan kunang-kunang, memasukkannya ke dalam kapas dan membiarkannya berkelap-kelip di ruang gelap? Pada saat ini kunang-kunang dari Manhattan telah lama menerangi rumah-rumah kampung, lorong-lorong kampung. "Lampu-lampu yang berkelipan di belantara pencakar langit yang kelihatan dari jendela mengingatkan Marno pada ratusan kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah embahnya di desa."

26 Juni 2013

SBY: Begitu Mudah Meminta Maaf kepada Pihak Asing, Begitu Sulit Meminta Maaf Kepada Rakyat Sendiri

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Pada 25 Juni 2013, saya menyaksikan di MetroTV, Presiden SBY meminta maaf kepada negara jiran, Malaysia dan Singapura, atas kabut asap asal Sumatera yang melanda kota-kota negeri jiran tersebut. "Saya selaku Presiden Republik Indonesia meminta maaf dan meminta pengertian saudara-saudara kami di Singapura dan Malaysia," katanya. Setelah tayangan pidato, MetroTV menayangkan wawancara dengan seorang tokoh masyarakat. Menurut tokoh masyarakat tersebut, Presiden tidak perlu minta maaf kepada kedua negeri jiran tersebut. Alasan yang disampaikan tokoh masyarakat yang diwawancarai, kabut asap terjadi bukan dengan disengaja oleh negara maupun bangsa Indonesia, melainkan oleh oknum tertentu. Tokoh masyarakat tersebut justeru menyatakan bahwa Presiden seharusnya meminta maaf kepada masyarakat karena ketidakmampuannya selama dua priode kepemimpinannya dalam mengatasi permasalahan asap.

25 Juni 2013

Dr. Hendrik Ataupah: Seorang Nasionalis yang Mencintai Alam dengan Sepenuh Hati (bagian 2 dari 2 tulisan)

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Dr. Ataupah berulang kali menyampaikan keinginannya agar kampus Undana dapat menjadi lokasi di mana orang dapat melihat contoh berbagai jenis tumbuhahan yang tumbuh di kawasan savana (beliau menyebut savana dengan menggunakan ejaan sabana). Karena itu, ketika Rektor Prof. Frans Umbu Datta menunjuk saya sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Arboretum (Puslitbang Arboretum), saya berharap menjadikan kawasan bagian depan kampus Undana senagai kawasan pengembangan arboretum. Tetapi rupanya Rektor, dengan visi menjadikan Undana sebagai universitas berorientasi gobal (global oriented university), berkeinginan membangun gapura global dan memindahkan rektorat ke tepi jalan raya. Sebagai bawahan ketika itu, tentu saja saya harus menyesuaikan dengan visi pimpinan. Namun ketika hal itu saya sampaikan kepada Dr. Ataupah, beliau justeru menyayangkan keputusan saya. Menurut beliau, saya lebih baik mengundurkan diri saja dari jabatan Kepala Puslitbang Arboretum karena tidak ada gunanya lagi bila tidak diajak bicara mengenai penataan kampus. Saya tidak sepenuhnya menuruti nasihat beliau, tetapi kemudian, dengan alasan berkonsentrasi pada studi lanjut, saya menyampaikan kepada Rektor untuk mengangkat Kepala Puslitbang Arboretum baru.

Dr. Hendrik Ataupah: Seorang Nasionalis yang Mencintai Alam dengan Sepenuh Hati (bagian 1 dari 2 tulisan)

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Saya bertemu beliau pertama kali di ‘sonaf’ (istana raja) Mollo Selatan di Kesetnana, Soe, pada tahun-tahun pertama saya datang di Kupang. Ketika itu, 1985 atau 1986, saya diajak oleh sahabat saya, Welhelmus I.I. Mella yang biasa kami panggil Emu, bersama dengan beberapa teman, kalau tidak salah Tonny Djogo dan Andi Renggana, berkunjung ke rumah orang tuanya, yang kebetulan adalah mantan temukung (raja kecil) Mollo Selatan. Ketika kami sedang mengobrol, tiba-tiba datang seorang yang rambutnya sudah mulai memutih, entah dari mana, membawa segepok spesimen berbagai jenis tumbuhan. Tiba-tiba saja orang tua ini bertanya kepada kami, apa nama jenis-jenis tumbuhan yang dibawanya. Kami mencoba memeriksa, tidak ada yang tahu. Tiba-tiba Emu memperkenalkan saya, dengan menyebutkan bahwa saya dosen baru bidang perlindungan tanaman, seharusnya lebih tahu daripada mereka yang dosen ilmu tanah. Setelah saya mencoba kembali memeriksa, saya hanya mampu menggeleng, malu. Orang tua itu adalah Hendrik Ataupah, dosen antropologi FISIP (ketika itu masih FIA) Undana, yang sedang melakukan penelitian untuk menyelesaikan disertasi antropologi ekologi di Universitas Indonesia.

26 Mei 2013

Dahulu Membakar untuk Panen Pangan, Kini Membakar untuk Panen Mangan

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Saya mendapat kehormatan untuk menjadi anggota tim penelitian mengenai dampak penambangan mangan di Timor Barat yang diketuai oleh Dr. Bronwyn Myers dari Charles Darwin University. Dahulu, ketika saya memimpin pusat penelitian mengenai lingkungan hidup di universitas tempat saya bekerja, saya memang sering melakukan penelitian mengenai analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). Dari pengalaman melakukan penelitian mengenai AMDAL tersebut, saya menyadari bahwa AMDAL telah berubah dari instrumen yang seharusnya untuk menyelamatkan lingkungan menjadi instrumen untuk melegitimasi perusakan lingkungan. Karena itu, sudah sejak lama saya tidak lagi bersedia melakukan penelitian mengenai AMDAL. Kali ini saya bersedia menjadi anggota tim karena penelitian ini dilakukan di luar kerangka AMDAL, melainkan merupakan penelitian biasa untuk mengetahui berbagai dampak yang ditimbulkan oleh penambangan mangan yang kini merebak di wilayah Timor Barat.

18 Mei 2013

Maaf Bapak, Saya Bukan Pakar Kehutanan, Saya Hanya Belajar Ekologi di Hutan Batas Dusun

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Suatu kali, rektor meminta saya untuk mewakilinya menjadi narasumber pada suatu lokakarya mengenai rehabilitasi lahan kritis. Kebetulan saat itu saya memimpin sebuah pusat penelitian yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Karena itu, saya menyajikan makalah dengan topik menanam pohon belum tentu berarti melestarikan lingkungan. Saya memnyampaikan makalah dengan topik seperti itu karena setelah menjelajah banyak kawasan hutan di provinsi NTT, saya mendapati hutan yang tidak ada bedanya dengan hutan di tempat lain. Di mana-mana saya menemukan daftar panjang jenis-jenis pohon introduksi yang ditanam setelah terlebih dahulu membabat kawasan savana yang dikategorikan sebagai lahan kritis. Sejak semula saya sudah mengantisipasi, topik yang saya sampaikan akan mendapat penolakan dari aparat kehutanan. Dan memang benar, tetapi bukan hanya dari orang-orang kehutanan. Seorang tokoh adat yang hadir dengan berpakaian adat berdiri dengan gagah mengacungkan tangan.

Karib Lingkungan Salah Kaprah: Asalkan Menurut Orang Barat, Kita Pikir Selalu Benar

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Saya menulis tayangan ini setelah berkunjung the situs Ecology, suatu situs denga tagline "the ecology global network". Misi situs ini sungguh bukan main-main, menggunakan teknologi informasi dan komunikasi modern untuk memberi informasi, mendidik, dan menginspirasi masyarakat global untuk menghormati, memulihkan, dan melindungi ekosostem alami dan binaan dan untuk mendorong setiap orang menjadi penjaga lingkungan di mana kita hidup. Saya tertarik mengunjungi situs ini karena saya memang tertarik pada ekologi. Tentu saja, setelah membaca misinya, saya semakin tertarik untuk menjelajahinya. Karena saya mengajar di fakultas pertanian, maka yang saya jelajahi pertama adalah bagian mengenai pertanian.

13 Mei 2013

Bangga Menyebut Diri Mega-Biodiversity, tetapi Lalai Memperkenalkan dan Menjaga Keanekaragaman Hayati

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Suatu kali, seorang sejawat bertanya kepada saya, apakah rumput merumpun bersosok tegak yang tingginya bisa mencapai 2 m di Timor Barat ini namanya Andropogon atau Heteropogon? Saya bukan pakar rumput, apalagi pakar taksonomi rumput yang seharusnya menjawab pertanyaan ini. Saya hanya seorang guru kecil yang senang berkenalan dengan berbagai jenis tumbuhan, dan tentunya juga dengan rumput. Sebagai seorang guru kecil, saya kebetulan dipercaya untuk mengajar ilmu gulma, satu matakuliah yang saya ampu bersama dengan sejawat tadi. Karena tidak bisa menjawab, sebetulnya saya ingin bertanya kepada seorang guru besar, tetapi universitas tempat kami mengajar tidak mempunyai guru besar taksonomi. Oleh karena itu, saya bertanya kepada Prof. Google, guru besar online yang siap ditanya nebgenai apa saja, kapan saja dan di mana saja tersedia akses Internet. Jawaban yang diberikan oleh Prof. Google adalah saya disarankan mengunjungi situs GrassWorld dan situs AusGrass2. Saya tahu kalau grass dalam hal berarti rumput sehingga saya pun bergegas mengunjungi situs tersebut.

08 Mei 2013

Pendidikan Tinggi Bergaya SD Inpres: Akankah Membawa Indonesia Unggul dalam Pendidikan Tinggi?

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Semua tahu apa itu SD Inpres, tetapi mungkin tidak semua tahu alasan didirikannya SD Inpres. Pada tahun 1970-an, sebagian besar penduduk Indonesia tidak menyelesaikan pendidikan dasar. Pada saat itu, jumlah SD masih sangat terbatas sedangkan jumlah anak-anak usia SD diperkirakan akan meningkat mengingat sebelumnya belum ada program KB. Pada saat yang sama, pemerintah perlu meningkatkan kinerjanya yang dalam bidang pendidikan berarti harus meningkatkan jumlah penduduk yang menyelesaikan pendidikan dasar. Oleh karena itu kemudian pemerintah meluncurkan program pembangunan SD secara besar-besaran. Karena merupakan program khusus maka diluncurkan melalui Instruksi Presiden. Dan karena tekanan untuk segera meningkatkan jumlah penduduk yang menyelesaikan pendidikan dasar maka sekolah dijadikan crash program, sama seperti program massal dan darurat lainnya seperti misalnya program Bimas, Inmas, dan Insus pada saat itu. Semuanya harus dilakukan dalam waktu sesingkat-singkatnya untuk menghasilkan sebanyak-banyaknya. Bila ada sekolah yang muridnya banyak tidak naik kelas atau tidak lulus maka yang disalahkan adalah para guru yang dinilai sebagai tidak bisa mengajar. Kelulusan murid dalam ulangan maupun ujian harus mendekati 100% supaya guru dan sekolah dapat dikatakan berhasil.

28 April 2013

Urun Pendapat terhadap Pernyataan, "Saya Tidak Mengerti, Bagaimana Bisa Menanam Pohon Dikatakan Dapat Merusak Hutan"

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Pada tulisan sebelumnya saya telah menyampaikan bahwa saya memperoleh kesempatan belajar banyak hal dari menghadiri lokakarya pengelolaan DAS yang dilaksanakan di Camplong pada 25-27 Desember 2013. Selain belajar mengenai apa itu DAS dan pengelolaan DAS, saya memperoleh pelajaran yang sangat berharga mengenai apa itu forum dan partisipasi. Kedua istilah ini terdengar begitu umum sehingga tidak semua orang berpikir terlalu serius ketika mengucapkannya. Selain itu saya juga memperoleh pelajaran lain yang juga sangat berharga bahwa ternyata banyak pihak tidak sepenuhnya mengerti apa itu hutan. Hutan merupakan bagian penting suatu DAS sehingga juga menjadi topik pembicaraan dalam lokakarya tersebut. Selain itu perwakilan dinas kehutanan dari beberapa kabupaten juga hadir sehingga pembicaraan mengenai hubungan antara hutan dan DAS juga menjadi semakin menarik.

Bapak, Bagaiamana Bisa Dikatakan Forum bila Hanya Kami yang Dituntut sedangkan Para Pejabat Enggan Berpartisipasi?

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Pada 25-27 April 2013 saya mendapat kehormatan untuk menjadi peserta lokakarya pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang diselenggarakan oleh Charles Darwin University (CDU) di Camplong, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT. Sebenarnya, saya bukan orang yang mempunyai latar belakang pengetahuan yang cukup mengenai DAS, apalagi pakar DAS. Sebagai mahasiswa CDU, saya diminta untuk membantu mengorganisasikan lokakarya tersebut oleh salah seorang supervisor saya. Saya pun memanfaatkan kesempatan ini untuk sekaligus belajar mengenai apa itu DAS dan pengelolaan DAS dengan meminta ijin untuk sekalian diperkenankan menjadi peserta. Apalagi setelah melihat daftar orang-orang yang akan menjadi pembicara, saya berharap bisa belajar banyak dari mengikuti lokakarya ini. Lihat saja, selain pakar dari CDU, ada perwakilan BPDAS Benain-Noelmina yang tentunya sangat memahami urusan pengelolaan DAS, ada Ketua UNDP Strengthening Community-Based Watershed Management Program, ada Ketua Forum DAS NTT yang tentu saja adalah orang yang paling tahu mengenai plus minus pengelolaan DAS di provinsi ini.

21 April 2013

Mendengarkan Ben Mboi Bertutur tentang Pemimpin

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Ia datang dengan bertongkat, jalannya tidak lagi tegak dan gagah. Ini sangat berbeda dengan kurang lebih 27 tahun lalu, ketika pada akhir 1985 saya dipanggil untuk berbicara mengenai pengendalian kutu loncat lamtoro (Heteropsylla cubana) di Aula Kantor Gubernur NTT. Sebagai seorang dosen yang baru saja lulus S1, saya sebenarnya tidak tahu harus menyampaikan apa, tetapi karena saya merasa harus melakukan sesuatu dan mempunyai sedikit latar belakang ekologi maka saya mencoba menjelaskan, bagaimana suatu organisme berstatus sebagai organisme pengganggu (hama) sebagai dasar untuk memberikan rekomendasi pengendalian. Tapi sebelum saya selesai berbicara, ia memotong saya. Ia mengibaratkan kutu loncat lamtoro sebagai pasukan musuh. Memang benar, organisme pengganggu tumbuhan adalah memang musuh. Ia melanjutkan, cara paling tepat untuk mengalahkan musuh adalah dengan memotong jalur logistiknya. Karena itu, katanya melanjutkan, untuk mengendalikan kutu loncat lamtoro maka seluruh pohon lamtoro di Provinsi NTT harus dipangkas. Ketika itu ia seorang gubernur, gubernur era Orde Baru pula, siapa yang kuasa untuk membantah.

16 April 2013

Dosen Terlalu Sibuk dengan Mengejar Gelar dan Mengerjakan Proyek sehingga Tidak Sempat Mengikuti Perkembangan

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Ingin tahu gosip paling keren di kalangan dosen akhir-akhir ini? Melanjutkan sekolah adalah jawabannya. Alasannya, menurut kabar burung, Ditjen Dikti akan mengeluarkan aturan baru bahwa untuk bisa naik ke Golongan IV dan ke jabatan fungsional Lektor Kepala, dosen harus mempunyai gelar akademik Doktor (atau Doctor of Phylosophy bagi yang lulusan luar negeri dan tidak mau disamakan dengan lulusan dalam negeri). Meskipun baru hanya kabar burung dan dosen seharusnya menggunakan data sebagai dasar pengambilan keputusan, gosip ini ditanggapi sangat serius oleh banyak dosen. Apalagi dengan ketentuan yang sudah berlaku bahwa untuk menjadi guru besar seorang dosen harus berpendidikan S3, dan lebih-lebih setelah tunjangan guru besar dinamakan tunjangan kehormatan yang jumlahnya bagaikan bumi dan langit berbeda dengan tunjagan dosen bukan guru besar, maka semakin riuhlah kasak kusuk ingin melanjutkan sekolah. Para pimpinan fakultas dan universitas menangkap ini sebagai sebuah kemajuan, tentu saja, dan menyebut dosen yang masih bergelar sarjana dan magister sebagai dosen minimalis yang menjadi dosen bukan karena panggilan jiwa, melainkan karena lamaranannya sebelumnya telah ditolak di mana-mana.

14 April 2013

Negeri yang Membanggakan Formalitas Gelar dan Jabatan

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Di negeri ini sekarang, gelar dan jabatan adalah segala-galanya. Karena itu, jangan heran bila orang mencantumkan gelar doktor dan jabatan profesor sampai di KTP, SIM, dan kartu peserta pemilu. Mungkin boleh juga untuk menggertak orang. Tapi bisa juga sebaliknya, kepengennya menggertak tapi justru dipermalukan. Bagaimana seandainya bila seseorang dengan gelar doktor dan jabatan profesor di SIM-nya tiba-tiba terkena razia polisi karena STNK-nya mati? Kalau yang kena razia di SIM-nya tidak tertera gelar berderet mungkin tidak perlu merasa terlalu malu. Tapi begitulah, di negeri di mana formalitas adalah di atas segalanya maka yang bodoh bisa menjadi merasa telah menjadi sangat pintar hanya karena mempunyai gelar akademik lebih tinggi. Berikut ini adalah cerita seorang tenaga honorer yang akan diangkat menjadi CPNS pada sebuah dinas pemerintah yang membidangi permasalahan pertanian.

08 April 2013

Siapa yang Berani Menanyakan, Apakah Dosen dan Guru Besar Pemegang Hak Paten Menggunakan Microsoft Windows dan Office Asli?

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Paten kini ditempatkan oleh Dikti sebagai capaian tertinggi dosen peneliti. Paten diberi angka kredit paling tinggi dibandingkan dengan produk penelitian lainnya, yaitu maksimum 40. Nilai angka kredit ini sama dengan nilai angka kredit menulis buku referensi, tetapi buku referensi sebenarnya bukan produk langsung penelitian. Artikel jurnal internasional, sebagai produk langsung penelitian, diberikan nilai angka krefit lebih rendah. Dosen pemegang hak paten, dengan begitu, merasa sebagai dosen paling hebat sehingga begitu sulit untuk bisa ditemui mahasiswa. Padahal, paten yang diperoleh belum tentu ada yang membeli, menawar pun belum tentu juga ada. Tapi begitulah, di negeri yang serba formalitas ini, banyak dosen lebih suka membanggakan formalitas daripada memahami apa sebenarnya formalitas yang mereka jalani. Bahkan, pematenan varietas tanaman, bagi dosen semacam ini, dianggap melindungi kepentingan petani, meski dalam kenyataan yang terjadi sebaliknya.

25 Maret 2013

Cinta Sejati di Batas Cakrawala Gurun Namibia

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Pada suatu dinihari menjelang akhir bulan Maret 2013, bulan deadline saya harus sudah memasukkan disertasi ke universitas tempat saya melanjutkan pendidikan, saya belum bisa tidur. Malam sebelumnya saya mengalami demam dengan panas tinggi, setelah siang dan malam, sepulang dari mengajar, harus menyelesaikan revisi dari supervisor, yang saya tunggu-tunggu sejak akhir 2012. Revisinya sebenarnya hanya ringan, hanya saja karena naskah mengalami perubahan format setiap kali dibuka dengan Word versi berbeda, saya harus memformat ulang dan memeriksa banyak kata-kata yang disatukan dan referensi EndNote yang dikacaukan. Dan sebenarnya bukan melakukan revisi itu yang lebih melelahkan. Saya menjadi susah tidur karena masih harus menunggu dua bab lagi pada hari-hari terakhir. Dan dalam susah tidur seperti itu, yang bisa saya lakukan hanyalah menonton siaran TV tentang alam, budaya, dan satwa liar. Malam itu saya berhenti berpindah saluran ketika sampai pada saluran Animal Planet yang sedang menayangkan film dokumenter, "Daniel and Our Cats".

10 Maret 2013

Mendikbud Menjawab: Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk Mempersiapkan Generasi Muda Menyongsong Abad ke-21

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Menanggapi sorotan banyak pihak terhadap Kurikulum 2013, Mendikbud menjawab dengan dengan menulis di Kompas untuk menjelaskan dari sisi mana seharusnya kurikulum baru tersebut dipandang. Dari sisi pemerintah, Kurikulum 2013 tidak bisa ditawar-tawar karena sudah merupakan harga mati. Namanya saja sudah memuat angka tahun 2013, bagaimana bisa ditunda. Maka untuk mempersiapkan penerapan kurikum yang katanya untuk menjawab tantangan masa depan bangsa ini pada bulan April 2013, sebagaimana dikatakan oleh Kepala Badan Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dan  Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemendikbud, akan dilatih 666 instruktur nasional (entah mengapa dipilih angka 666, bukan 845 alias agustus tahun 1945) untuk nantinya pada bulan Mei 2013 melatih sekitar 40.000 guru inti. Instruktur nasional berangka 666 tersebut katanya akan direkrut dari kalangan dosen, widyaiswara, dan guru teladan yang memiliki catatan prestasi tingkat nasional. Guru inti hasil pelatihan oleh 666 instruktur nasional ini selanjutnya akan melatih sekitar 700.000 guru kelas selama 5 hari setara dengan 52 jam pelatihan.

03 Maret 2013

Meneliti Pangan Lokal: Apa Sebenarnya yang Dimaksud dengan Pangan Lokal?

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Saya mendapat kehormatan untuk menjadi peserta diskusi kelompok fokus mengenai pangan lokal yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Pikul. Dalam TOR (Terms of Reference) yang disampaikan menyertai undangan disebutkan bahwa tujuan diskusi adalah menngelaborasi dan menemukan definisi dan kriteria pangan lokal sebagai basis pemetaan. Butir-butir yang didiskusikan mencakup (1) Apa yang disebut sebagai pangan lokal (asli)? dan (2) Apakah berkaitan dengan: (a) jarak proses produksi-penjualan-konsumsi, lokasi tanam serta keaslian bibit? (b) jarak untuk mendapatkan benih, kemampuan pembibitan, serta pengetahuan dan keahlian dalam melakukan pembibitan?, dan (c) budaya mengingat menurut sumber-sumber tertentu, pangan dapat disebut sebagai pangan lokal apabila terkandung dalam nyanyian, kidung, ataupun doa-doa yang dipanjatkan dalam upacara-upacara adat?

23 Februari 2013

Buruk Muka Cermin Dibelah: Memaknai Pidato Seorang Rektor

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Apakah semua dosen universitas harus menjadi guru besar? Silahkan cari jawabannya dari pidato rektor pada pengukuhan seorang guru besar pada Sabtu, 10 November 2012. Memang benar bahwa di Amerika Serikat dan Kanada, semua dosen universitas adalah profesor. Tapi untuk menjadi dosen di universitas-universitas di sana, orang harus bergelar doktor. Dan jabatan akademik terendah dosen di sana adalah asisten profesor. Di negeri ini? Semangat menggebu mau meniru Amerika, tetapi mengangkat dosen ulusan S1. Baru-baru ini memang telah mulai mempersyaratkan dosen lulusan S2, tapi dalam praktiknya, tetap mengangkat dosen lulusan S1 melalui jalur khusus (jalur kedekatan hubungan pribadi tentu saja). Menjadi doktor dan guru besar memang terhormat, tetapi bagaimana kalau perilakunya justeru tidak mampu menjaga kehormatan? Mari kita balik pertanyaannya, apakah kalau tidak menjadi doktor dan guru besar menandakan sebuah kegagalan bagi seorang dosen? Jangan-jangan, yang terjadi di negeri ini, justeru kegagalan memaknai hakekat pendidikan.

11 Februari 2013

Korupsi, Musibah, Dagang Sapi, dan Fakta Integritas: Teladan untuk Anak Negeri?

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Bila Anda membuka saluran berita televisi dalam beberapa minggu terakhir, niscaya Anda akan dijejali dengan berita yang itu-itu juga, korupsi dan segala macamnya, yang setelah diikuti, terdakwanya paling-paling hanya diganjar hukuman 2-4 tahun. Mengorup uang rakyat bermilyar-milyar, bahkan bertrilyun-trilyun (bila dihitung yang dilakukan secara berjamaah), hanya dihukum 2-4 tahun, siapa takut? Saya pun mulai menghitung-hitung, dengan gaji seperti yang saya terima sekarang, saya tidak mungkin dapat mengumpulkan uang sebegitu banyak dalam waktu 2-4 tahun. Lalu, ketika terdakwa korupsi divonis, selain hanya hukuman penjara yang begitu singkat, dendanya pun tidak juga terlalu berat (dibandingkan dengan jumlah uang yang dikorupsi) untuk bisa memberikan efek jera. Maka jangan bertanya, mengapa Wikipedia sampai membuat artikel khusus Korupsi di Indonesia.

Belajar Mengenal Alam untuk Mencintai Alam dan Sesama (dan Mengalahkan Diri Sendiri)

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Suatu kali, saya sangat jenuh dengan pekerjaan menyunting tulisan. Untuk mengusir jenuh, saya mencoba menelusuri situs dan blog mengenai alam Indonesia. Saya menemukan beberapa, tetapi tidak banyak. Dan di antara yang beberapa tersebut, tidak ada satu pun yang bercerita mengenai alam Nusa Tenggara Timur (NTT). Memang ada sejumlah situs mengenai alam NTT, tetapi itu dibuat bukan dengan tujuan untuk mengenal, melainkan untuk memperkenalkan dan menjual. Memperkenalkan dan menjual memang tidak salah, tetapi alangkah eloknya bila selain itu, juga bertujuan untuk mengenal. Dengan mengenal maka kita bisa belajar, kita bisa menghargai (dalam arti mengagumi dan bukan hanya menjual), dan syukur bila kemudian bisa menyayangi dan mencintai. Maka entah mengapa, tiba-tiba saja kerinduan saya muncul kembali, barangkali saja di kota tempat tinggal saya, Kupang, ada yang mempunyai kerinduan sebagaimana kerinduan saya, belajar lebih banyak mengenai alam.

19 Januari 2013

NTT Academia Award 2012: Terima Kasih untuk Sebuah Idealisme dan Keluarga Baru

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Saya tidak sempat menonton pertunjukan monolog Abdi Keraf, saya dan istri tiba terlambat. Kami bukan sengaja ingin datang terlambat, tetapi kami mengijinkan Edi, sopir taksi plat hitam yang kami sewa hari itu, untuk terlebih dahulu mengantar penumpang lain. Kami menggunakan taksi karena khawatir turun hujan, biasanya kami menggunakan sepeda motor saja. Begitulah, pada saat kami tiba di tempat acara Penganugerahan NTT Academia Award 2012, di aula Universitas Kristen Artha Wacana, acara sudah berlangsung. Kami, dan pada saat itu disertai sahabat kami Remi Natonis, langsung mengambil tempat yang disediakan. Ketika itu, seorang mahasiswi sedang membacakan puisi karya Gerson Poyk, penerima award untuk kategori Literature and Humanity. Lalu, disusul pembacaan puisi oleh Opa Gerson sendiri, maaf, perkenankan saya memanggil beliau dengan panggilan opa. Beliau lahir pada 16 Juni 1931 di Namodale, Ba'a, sekarang ibukota Kabupaten Rote Ndao.

17 Januari 2013

Membedah Pertanian NTT melalui Sudut Pandang Ketahanan Hayati Masyarakat (Bagian 2 dari 2 Bagian)

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Pada bagian 1 dari tulisan ini sudah saya uraikan kondisi lingkungan biofisik yang mendeterminasi wujud pertanian NTT. Saya juga telah menguraikan pendekatan yang digunakan pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan pertanian, yaitu kebijakan pembangunan pertanian berbasis komoditas. Pendekatan alternatif yang sudah berkembang secara alami sesuai dengan kondisi lingkungan biofisik yang ada adalah pendekatan sistem, tetapi ini diabaikan. Kebijakan pembangunan didasarkan atas konsep revolusi hijau dengan memandang pertanian sebagai proses produksi yang dapat dioptimalisasi secara matematik melalui penggunaan masukan secara intensif untuk tujuan memaksimalkan produktivitas. Walhasil, stabilitas dan ekuitabilitas sistem terabaikan dan produksi tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Pada bagian ini saya akan menguraikan bagaimana modal sosial dan tatakelola pemerintahan menentukan ketahanan hayati (biosecurity) pertanian NTT. Kemudian saya akan mengakhiri tulisan ini dengan menguraikan penggunaan ketahanan hayati sebagai pendekatan pembangunan pertanian NTT.

Membedah Pertanian NTT melalui Sudut Pandang Ketahanan Hayati Masyarakat (Bagian 1 dari 2 Bagian)

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal sebagai provinsi dengan wilayah kering dan sering mengalami rawan pangan. Banyak pihak memandang keadaan wilayah kering ini sebagai penyebab terjadinya rawan pangan dan berbagai permasalahan lainnya. Bahkan juga ada pihak-pihak tertentu yang menjadikan keadaan wilayah kering ini sebagai bencana, bukan untuk tujuan apa, tetapi sekedar untuk memperoleh bantuan rawan bencana. Maka kekeringan dan rawan pangan seakan-akan menjadi komoditas yang laku ditawarkan untuk memperoleh bantuan. Lalu singkatan NTT pun diplesetkan menjadi "Nasib Tidak Tentu" dan "Nanti Tuhan Tolong". Apakah sesungguhnya memang demikian? Bahwa keadaan wilayah kering adalah penyebab rawan pangan yang selalu saja terjadi secara berulang di provinsi ini?

12 Januari 2013

Mengawen: Sebuah Kontradiksi Memprihatinkan dari Beragam Ritual

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Saya belum benar-benar mengerti mengapa disebut mengawen, yang saya tahu mengamen. Saya sudah menanyakan kepada beberapa orang, tetapi tidak ada yang bisa menjawab mengapa disebut mengawen. Tetapi di kampung saya, istilah mengawen digunakan untuk merujuk kepada kegiatan membuka kawasan hutan untuk dijadikan kawasan budidaya pertanian. Bagi warga kampung saya, yang pekerjaannya hampir semuanya sebagai petani, mengawen menjadi sebuah kesempatan untuk memperoleh sumber pendapatan. Risiko bencana masa depan yang ditimbulkan oleh kegiatan mengawen tertutupi oleh ketamakan ingin memiliki rumah bagus, ingin mempunyai motor dan mobil, dan pemenuhan berbagai kebutuhan lainnya. Bagi saya mengawen adalah sebuah kontradiksi, kontradiksi antara kehidupan masyarakat yang begitu peduli dengan ritual keagaan di satu sisi dan kehidupan keberagaaman dalam keseharian di sisi lain.

Sekolah Bertaraf Internasional: Sebuah Pengakuan terhadap Rasa Rendah Diri Bangsa

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Selasa 8 Januari 2013, Mahkamah Konstitusi (MK), setelah menimbang dan melihat bukti serta keterangan, mengabulkan permohonan para penggugat untuk membatalkan Pasal 50 ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal ini telah menjadi dasar hukum penyelenggaraan sekitar 1.300 sekolah berlabel SBI/RSBI. Dengan dibatalkannya ayat 3 tersebut maka penyelenggaraan sekolah bertaraf internasional (SBI) dan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) menjadi tidak mempunyai pijakan hukum sehingga penyelenggaraan satuan pendidikan berkurikulum internasional oleh pemerintah tak lagi diperbolehkan.

07 Januari 2013

Menikah: Sebuah Perjalanan Panjang

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Kami, saya I Wayan Mudita dan calon istri Ida Ayu Lochana Dewi, pada akhirnya menikah. Resepsi diadakan pada 20 Desember 2012 dan upacara pawiwahan (akad nikah) pada 21 Desember 2012. Tanggal resepsi dan pawiwahan bukan kami tetapkan sendiri, melainkan ditetapkan oleh sulinggih (pendeta Hindu) berdasarkan pada perhitungan hari baik. Kebetulan saja tanggal resepsi maupun tanggal pawiwahan merupakan kombinasi angka yang cantik, 20122012 dan 21122012. Pada hari pernihakan, kami telah saling bertemu sejak 12 tahun sebelumnya, sebuah perjalanan yang sangat panjang sampai pada akhirnya kami menikah. Bukan kemauan kami untuk menunggu sampai sekian lama, melainkan keadaan yang membuat kami harus menunggu.
Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?