Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

17 Januari 2013

Membedah Pertanian NTT melalui Sudut Pandang Ketahanan Hayati Masyarakat (Bagian 1 dari 2 Bagian)

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal sebagai provinsi dengan wilayah kering dan sering mengalami rawan pangan. Banyak pihak memandang keadaan wilayah kering ini sebagai penyebab terjadinya rawan pangan dan berbagai permasalahan lainnya. Bahkan juga ada pihak-pihak tertentu yang menjadikan keadaan wilayah kering ini sebagai bencana, bukan untuk tujuan apa, tetapi sekedar untuk memperoleh bantuan rawan bencana. Maka kekeringan dan rawan pangan seakan-akan menjadi komoditas yang laku ditawarkan untuk memperoleh bantuan. Lalu singkatan NTT pun diplesetkan menjadi "Nasib Tidak Tentu" dan "Nanti Tuhan Tolong". Apakah sesungguhnya memang demikian? Bahwa keadaan wilayah kering adalah penyebab rawan pangan yang selalu saja terjadi secara berulang di provinsi ini?
Letak geografis yang berdekatan dengan Australia menyebabkan wilayah provinsi NTT sangat dipengaruhi oleh keadaan kering benua Australia. Ketika bertiup angin muson timur, angin kering bertiup dari benua Australia melintasi Laut Timor dan kemudian Laut Sabu. Karena angin ini melintasi Laut Timor yang tidak luas maka angin ini hanya mampu menyebabkan terjadinya pengangkatan orografis yang menyebabkan hujan ringan di pesisir selatan bagian tengah pulau Timor. Kemudian, setelah melintasi pulau ini, angin yang sama melintasi Laut Sabu, menyebabkan terjadinya pengangkatan orografis yang menyebabkan hujan di pesisir selatan pulau Flores yang tidak berada dalam bayang-bayang hujan yang ditimbulkan oleh Gunung Mutis di pulau Timor, yaitu pulau Flores bagian tengah dan barat. Hal yang sama berlaku pada pesisir selatan pulau Sumba, tetapi karena pulau Sumba tidak mempunyai gunung-gunung yang tinggi maka hujan karena pengangkatan orografis ini menjadi kurang berarti. Hujan terjadi ketika bertiup angin muson barat, tetapi karena wilayah NTT berada dalam bayang-bayang hujan yang ditimbulkan oleh pulau-pulau di sebelah baratnya maka hujan biasanya turun terlambat. Namun karena berada dekat dengan jalur badai tropis di pesisir utara Australia, wilayah NTT sering menerima hujan dengan curah yang sangat tinggi dalam waktu singkat.
Letak geografis dan pulau-pulau dalam rangkaian busur dalam yang bersifat vulkanik dan busur luar yang bersifat non-vulkanik
From Membedah Pertanian NTT
Pulau Flores dan pulau-pulau di sebelah barat dan timurnya, yang membentuk rangkaian busur dalam, bersifat vulkanik dengan rangkaian gunung berapi yang menjulang tinggi, sedangkan pulau-pulau Sumba, Sabu, Rote, Semau, dan Timor, yang membentuk rangkaian busur luar, bersifat non-vulkanik, tanpa gunung-gunung tinggi. Sumba bahkan cenderung merupakan pulau yang datar, sedangkan Timor mempunyai rangkaian pegunungan utara dengan Gunung Mutis sebagai puncaknya dan rangkaian pegunungan selatan yang lebih rendah. Sifat vulkanik tersebut, ditambah dengan curah hujan yang lebih tinggi, menyebabkan Flores, terutama bagian Selatan, lebih subur daripada pulau-pulau lainnya. Secara keseluruhan, iklim dengan musim kemarau yang panjang menyebabkan sistem pertanian di wilayah Provinsi NTT didominasi oleh perladangan untuk membudidayakan tanaman pangan semusim, terutama padi ladang, jagung, kacang-kacangan, dan umbi-umbian. Namun demikian, sistem pertanian yang lazim terdapat di wilayah yang lebih basah juga berkembang, antara lain sawah dan perkebunan rakyat, walaupun dalam luas terbatas. Di bagian pegunungan berkembang budidaya sayuran dataran tinggi, sedangkan di sekitar perkotaan berkembang budidaya sayuran dataran rendah.

Perkembangan berbagai sistem pertanian ini sebenarnya dimungkinkan oleh kondisi iklim kering. Akan tetapi, para pembuat kebijakan pembangunan pertanian di provinsi ini selalu melihat iklim kering sebagai pembatas dan bahkan sebagai kendala. Di satu sisi iklim kering dituding sebagai penyebab rawan pangan, tetapi di sisi lain kekeringan dimanfaatkan untuk memperoleh bantuan penganggulangan bencana. Kekeringan memang dapat menimbulkan bencana, tetapi iklim kering merupakan keadaan yang seharusnya disiasati melalui perumusan kebijakan pembangunan pertanian yang tepat. Secara turun-temurun, kelompok etnik yang menjadi penduduk di wilayah ini telah mengembangkan sistem pertanian yang berbasis keanekaraman hayati lokal sebagai cara hidup. Sistem perladangan misalnya, dikembangkan dengan sistem pertanaman tumpangsari yang mencakup tanaman tiga bersaudari: jagung/padi ladang, labu, dan kacang-kacangan. Dengan sistem pertanaman tumpangsari ini, risiko gagal panen karena kekeringan, curah hujan berlebihan, atau gangguan organisme pengganggu tumbuhan, dapat diperkecil. Akan tetapi, kebijakan pembangunan pertanian di provinsi ini tidak pernah mengadopsi kearifan lokal ini, melainkan dirumuskan dalam paket pengembangan usahatani berbasis komoditas. Ironisnya lagi, program-program berbasis komoditas ini dibuat untuk mengembalikan kejayaan masa lalu, kejayaan sebagai penghasil jagung misalnya, bukan untuk menjawab tantangan ke depan.

Sistem pertanian yang berkembang di wilayah Provinsi NTT didominasi oleh perladangan, tetapi juga berkembang sistem sawah, tegalan, dan perkebunan rakyat
From Membedah Pertanian NTT
Tanaman pangan yang secara tradisional dibudidayakan di wilayah Provinsi NTT sebenarnya bukan hanya serealia, tetapi juga umbi-umbian dan buah. Tanaman umbi-umbian dan buah ini merupakan 'lumbung di ladang' karena tidak memerlukan penyimpanan, melainkan diambil pada saat menjelang memasak
From Membedah Pertanian NTT
Pembangunan pertanian berbasis komoditas dilakukan dengan pendekatan revolusi hijau dengan menggunakan masukan sarana produksi secara intensif. Pertanian dipandang semata-mata sebagai usahatani yang menggunakan pemodelan matematik untuk meningkatkan efisiensi produksi. Capaian pembangunan pertanian berbasis komoditas ini diukur dengan menggunakan indikator angka rata-rata produktivitas dan pendapatan usahatai. Padahal, di balik angka rata-rata ini terdapat banyak angka pencilan yang diabaikan begitu saja. Dan juga, penggunaan produktivitas dan pendapatan rumah tangga sebagai indikator capaian mengabaikan indikator lainnya yang sebenarnya tidak kalah penting, yaitu stabilitas dan ekuitabilitas. Stabilitas menunjukkan sejauh mana sistem pertanian dapat tahan dalam menghadapi gangguan, gangguan dari kekeringan dan organisme pengganggu misalnya, sedangkan ekuitabilitas menunjukkan sejauh mana kemajuan dapat dinikmati oleh semua petani. Sesungguhnya, rawan pangan terjadi bukan hanya karena kekeringan atau curah hujan berlebihan, tetapi lebih-lebih karena pengabaian stabilitas dan ekuitabilitas dalam kebijakan pembangunan pertanian berbasis komoditas ini.

Untuk meningkatkan produktivitas digunakan sarana produksi secara intensif. Bukannya mempromosikan minimum tillage, tetapi justeru pengunaan traktor. Bukannya menggunakan benih/bibit lokal, melainkan benih unggul berdaya hasil tinggi tetapi rentan dalam menghadapi organisme pengganggu. Bukannya membangun stasiun penakar hujan untuk dapat menentukan saat tanam dan memprakirakan terjadinya bencana kekeringan dan hujan berlebihan secara lebih tepat, tetapi membangun jaringan irigasi modern. Bukannya menjaga hutan dari pembalakan sehingga dapat mengurangi dampak kekeringan dan banjir, tetapi justeru menyediakan biaya sangat besar untuk merehabilitasi hutan yang dibiarkan rusak. Bukannya memberi perhatian pada organisme pengganggu, tetapi lebih memperhatikan sarana dan parasarana pengendalian (pestisida serta alat dan mesin yang diperlukan). Petani disuruh menanam, tetapi tidak diberitahu bagaimana cara mengantisipasi gangguan oleh berbagai jenis organisme pengganggu yang dengan mudah dapat menghancurkan tanaman unggul berdaya hasil tinggi, lebih-lebih di wilayah beriklim kering yang sesuai untuk perkembangan berbagai jenis organisme pengganggu tetapi kurang sesuai untuk pertumbuhan tanaman unggul.

Kebijakan pembangunan pertanian berbasis komoditas mengabaikan kenyataan bahwa pertanian sebenarnya bukan hanya soal hitung-hitungan ekonomi dan teknologi, tetapi juga soal hubungan manusia dengan Sang Maha Pencipta, dengan sesama, dan dengan lingkungannya. Hubungan ini melibatkan modal sosial dan tatakelola pemerintahan untuk membentuk sistem pertanian bukan hanya merupakan sistem biofisik, melainkan sistem ekologis sosial. Modal sosial merupakan sumberdaya pengetahuan yang diperlukan untuk dapat melakukan tindakan melalui jaringan dengan mengacu pada tatanaman, norma, dan nilai yang ada guna mewujudkan sumberdaya identitas yang dapat menjadi motivasi untuk bersedia bertindak demi kebaikan bersama. Pada pihak lain, tatakelola pemerintahan merupakan penggunaan kekuasaan dan kewenangan untuk melakukan pelayanan publik melalui pembentukan dan koordinasi kelembagaan dengan didasari atas tatana~, norma, dan prinsip yang dapat diterima oleh semua pihak. Modal sosial dan tatakelola pemerintahan ini menjadi perekat untuk mewujudkan karakteristik sistem ekologis sosial. Karakteristik sosial ekologis ini mencakup potensi untuk berkembang, keterkaitan antar komponen yang menentukan fleksibilitas sistem dalam menghadapi perubahan, dan resiliensi yang menentukan sejauh mana sistem dapat memulihkan diri dari gangguan.

Modal sosial merupakan pemanfaatan sumberdaya untuk membangun jaringan yang diperlukan untuk mewujudkan aumberdaya identitas yang diperlukan orang-orang untuk bertindak demi kepentingan bersama
From Membedah Pertanian NTT
Tatakelola pemerintahan terdiri atas tiga tingkatan yang saling berkaitan: (1) penggunaan kekuasaan dan kewenangan untuk melakukan pelayanan publik, (2) pembentukan dan koordinasi kelembagaan untuk memungkinkan pelayanan publik dapat dilaksanakan, dan (3) pmbentukan tatanan, prinsip, dan norma sebagai dasar seluruh proses tatakelola
From Membedah Pertanian NTT
Sistem ekologis sosial mempunyai tiga karakteristik utama yang saling berkaitan: potensi untuk berkembang dan menentukan arah perkembangan, keterkaitan komponen yang menentukan fleksibilitas sistem dalam menghadapi perubahan, dan resiliensi yang merupakan kemampuan sistem untuk mengembalikan diri setelah mengalami goncaangan
From Membedah Pertanian NTT
Bagaimana modal sosial dan tatakelola menentukan kemampuan sistem pertanian dalam menghadapi ancaman oleh organisme pengganggu akan dibahas pada bagian 2 dari tulisan ini. Contoh diberikan dengan menggunakan pembangunan pertanian berbasis komoditas untuk tanaman jagung, jeruk keprok, dan kakao. Pada bagian kedua juga akan diuraikan bagaimana seharusnya pertanian di wilayah kering NTT dikembangkan untuk meminimalisasi ancaman gangguan yang disebabkan oleh organisme pengganggu.

Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?