Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

12 Januari 2013

Mengawen: Sebuah Kontradiksi Memprihatinkan dari Beragam Ritual

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Saya belum benar-benar mengerti mengapa disebut mengawen, yang saya tahu mengamen. Saya sudah menanyakan kepada beberapa orang, tetapi tidak ada yang bisa menjawab mengapa disebut mengawen. Tetapi di kampung saya, istilah mengawen digunakan untuk merujuk kepada kegiatan membuka kawasan hutan untuk dijadikan kawasan budidaya pertanian. Bagi warga kampung saya, yang pekerjaannya hampir semuanya sebagai petani, mengawen menjadi sebuah kesempatan untuk memperoleh sumber pendapatan. Risiko bencana masa depan yang ditimbulkan oleh kegiatan mengawen tertutupi oleh ketamakan ingin memiliki rumah bagus, ingin mempunyai motor dan mobil, dan pemenuhan berbagai kebutuhan lainnya. Bagi saya mengawen adalah sebuah kontradiksi, kontradiksi antara kehidupan masyarakat yang begitu peduli dengan ritual keagaan di satu sisi dan kehidupan keberagaaman dalam keseharian di sisi lain.

Kampung saya bernama Banjar Bungbungan, dusun yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan dalam wilayah Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Warga dusun ini pada mulanya sebagian besar berasal dari Desa Bungbungan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, sehingga dusun tempat kelahiran saya ini disebut Banjar Bungbungan. Mereka ditransmigrasikan lokal pada sekitar tahun 1930-an, ketika itu masih jaman penjajahan Belanda. Mereka membuka hutan, tentu saja dengan seijin pemerintah Belanda pada saat itu, dan setiap rumah tangga diberikan 2 ha lahan yang mula-mula ditanami jagung dan padi ladang, kemudian kopi, dam kini cengkeh, kakao, dan pisang.  Di bagian ujung mengarah ke sungai dari setiap bentang lahan terdapat lahan yang disebut telajakan, yang pada awalnya tidak dibuka tetapi pada 1960 dibuka oleh beberapa warga setempat dan warga dusun tetangga. Kini tidak setiap rumah tangga masih menguasai 2 ha lahan sebab lahan dibagikan kepada seluruh anak laki-laki yang menetap di dusun.

Ketika saya masih bersekolah SD, saya sering masuk ke dalam kawasan hutan, terutama bersama kakek saya. Kakek saya sebenarnya tidak begitu suka saya mengikutinya ke hutan, tetapi karena saya merengek, maka beliau tidak bisa selalu menolaknya. Kakek saya ke hutan untuk mencari kayu bahan bangunan atau sekedar mengunjungi hutan. Kakek saya pernah bercerita bahwa kawasan hutan bukanlah tempat yang tidak ada penghuninya. Kawasan hutan, menurut kakek saya, dihuni oleh mahluk halus dengan dunianya sendiri. Kata kakek saya, mahluk halus penghuni kawasan hutan itu tidak dapat dilihat oleh semua orang, melainkan hanya oleh orang-orang tertentu. Waktu kecil, saya percaya begitu saja, sekarang saya percaya dalam konteks filsafat Tri Hita Karana dan konteks ekologi, terhadap apa yang diceritakan kakek saya. Dari kakeklah saya mendapat pelajaran pertama bagaimana bisa menikmati keindahan hutan, bagaimana mengenal berbagai jenis tumbuhan dan satwa. Dan dari kakek pula saya memperoleh pelajaran menyayangi tumbuhan dan satwa sebelum mengerti apa itu Tri Hita Karana.

Sampai pada akhir pemerintahan Orde Baru, kawasan hutan di sebelah utara dusun kelahiran saya masih relatif terjaga. Warga berani masuk hutan hanya untuk mengambil kayu, bukan untuk merambah kawasan hutan untuk dijadikan kawasan budidaya. Tetapi kemudian terjadilah reformasi yang diiringi dengan otonomi daerah dan pemilihan umum secara langsung. Karena bupati kemudian dipilih melalui pemilihan langsung maka bupati yang sedang menjabat dan ingin supaya dapat dipilih untuk masa jabatan kedua harus membuat program yang pro rakyat. Maka Bupati Winasa, supaya bisa terpilih untuk masa jabatan kedua, membuat banyak program pro rakyat, di antaranya membuat jalan sampai ke batas kawasan hutan. Warga tentu saja senang, tetapi kalangan seperti saya ini tentu segera maklum, tujuan tersembunyi apa yang ada di balik semua program semacam itu. Dan memang benar saja, jalan itu menghantarkan Winasa mejadi bupati untuk masa jabatan kedua dan sekaligus menjadi awal dari pembiaran perambahan kawasan hutan.

Sebagaimana masyarakat Bali pada umumnya, masyarakat di kampung saya sangat taat menjalankan ritual agama. Dalam sehari mereka selalu 'mesasaiban' dan 'ngaturang canang'. Kaum perempuan selalu disibukkan dengan kegiatan membuat bebanten untuk berbagai jenis hari keagamaan dan 'piodalan pura' yang sambung menyambung. Kaum lelaki selalu disibukkan dengan mempersiapkan bahan membuat bebanten dan tempat upacara. Sekian kali saya pulang kampung, saya selalu menemukan warga yang sibuk mempersiapkan upacara daripada tidak. Sekian macam bebanten, sekian jenis upacara, dengan segala kerumitan yang tentu saja memerlukan perhatian yang tidak sedikit. Dan itu tentu saja juga sangat mendapat perhatian dari bupati Winasa ketika itu. Itu semua dilakukan untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan Sang Mahapencipta, dengan sesama, dan dengan lingkungan alam. Itu sesuai dengan ajaran Tri Hita Karana, ajaran untuk menjaga keharmonisan hubungan, sebagaimana diamanatkan dalam Yayurveda XVI.48: Berbuatlah agar semua orang, binatang-binatang dan semua makhluk hidup berbahagia.

Setiap 25 hari sebelum hari raya Galungan, pada setiap Sabtu Kliwon Wuku Wariga, orang-orang di kampung saya selalu merayakan apa yang dikenal dengan Tumpek Wariga atau Tumpek Pengatag atau Tumpek Uduh atau Tumpek Bubuh. Pada hari tumpek ini warga menghaturkan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Sangkara, dewa penguasa tumbuh-tumbuhan yang dikonkretkan melalui mengupacarai pepohonan. Dengan demikian, sejatinya, perayaan hari Tumpek Wariga memberi pesan mendalam agar manusia mengasihi dan menyayangi alam dan lingkungan yang telah berjasa menopang hidup dan penghidupannya. Demikian juga pada setiap Sabtu Kliwon Wuku Uye, warga di kampung saya selalu merayakan Tumpek Uye atau Tumpek Kandang, membuat upacara memuja keagungan Tuhan Yang Mahaesa sebagai Siva atau Pasupati, yang memelihara semua makhluk di alam semesta ini. Pemujaan ini diwujudkan dengan memberikan upacara selamatan terhadap semua binatang, khususnya binatang ternak dan binatang peliharaan.

Apakah arti semua perayaan ini dalam kehidupan sehari-hari warga di kampung saya? Bagi saya, mereka seakan-akan hidup di dua dunia: dunia ritual dan dunia keseharian. Dalam dunia ritual mereka begitu taat, tetapi ketaatan ini dilanggar begitu saja dalam kehidupan keseharian. Dunia ritual dan dunia keseharian seakan-akan merupakan dua dunia yang berbeda. Saya pun teringat Profesor Andrew P. Vayda, seorang guru besar antropologi dan ekologi manusia dari Rutgers University, New Jersey, AS, yang memperkenalkan metodologi kontekstualisasi progresif untuk mempelajari hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Saya bukan mahasiswanya, tetapi saya pernah bekerja bersamanya, dan kerjasama itu sangat mempengaruhi saya. Bagi Prof. Vayda, kearifan lokal di bidang lingkungan hidup memang penting, tetapi kearifan lokal di bidang lingkungan itu saja, tidak dengan sendirinya akan melestarikan lingkungan hidup. Sebuah kearifan lokal di bidang lingkungan, betapapun terdengar sangat arif, tetap tidak akan berarti apa-apa bila dilaksanakan hanya pada tataran ritual, bukan dalam tataran kehidupan sehari-hari.

Tri Hita Karana serta perayaan Tumpek Waiga dan Tumpek Uye memang bukan kearifan lokal. Tetapi filsafat Tri Hita Karana dan perayaan Tumpek Wariga dan Tumpek Uye ini mengalami ironi sebagaimana halnya ironi yang dialami oleh banyak kearifan lokal. Dalam berbagai bentuk, filsafat dan ritual tersebut berhenti pada wujud fisik upacara semata, sedangkan pelaksanaan dalam kehidupan sehari-hari sangat jauh berbeda, kalau tidak boleh dikatakan bertolak belakang. Warga sepertinya tidak terbebani apapun dalam melakukan perambahan. Ketika kemudian ada warga yang mengalami petaka, penyelesaiannya juga ritual. Mereka melakukan upacara untuk menebus, maka kemudian semuanya selesai. Tidak perlu ada penyesalan, apalagi perasaan berdosa. Begitu mereka telah melakukan ritual menebus, maka semuanya seakan-akan kembali dengan sendirinya seperti sediakala.

Pernah saya bertanya kepada beberapa orang di kampung, apakah mereka tidak khawatir bencana yang bisa ditimbulkan oleh kegiatan mengawen ini. Dari mereka yang pernah saya ajak ngobrol, mereka pada dasarnya memahami bahwa perambahan hutan dapat menimbulkan kekeringan dan banjir. Hanya saja, jawaban mereka kemudian adalah sederhana saja, "Bila saya sendiri tidak melakukannya, sedangkan sebagian besar orang di sini melakukannya, akibatnya sama saja. Maka daripada saya hanya menonton dan tidak memperoleh apa-apa, maka lebih baik saya ikut. Malahan kalau tidak ikut, saya takut dianggap menjadi mata-mata petugas". Apakah tidak ada orang yang bisa memberikan penyadaran? "Bli, sebaiknya Bli tidak melakukan itu. Saya tidak ingin Bli dimusuhi oleh warga". Saya pun tidak bisa menanggapi, tetapi saya tahu bahwa saya tidak boleh tinggal diam. Setidak-tidanya melalui tulisan-tulisan saya.
Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?