Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

28 April 2013

Urun Pendapat terhadap Pernyataan, "Saya Tidak Mengerti, Bagaimana Bisa Menanam Pohon Dikatakan Dapat Merusak Hutan"

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Pada tulisan sebelumnya saya telah menyampaikan bahwa saya memperoleh kesempatan belajar banyak hal dari menghadiri lokakarya pengelolaan DAS yang dilaksanakan di Camplong pada 25-27 Desember 2013. Selain belajar mengenai apa itu DAS dan pengelolaan DAS, saya memperoleh pelajaran yang sangat berharga mengenai apa itu forum dan partisipasi. Kedua istilah ini terdengar begitu umum sehingga tidak semua orang berpikir terlalu serius ketika mengucapkannya. Selain itu saya juga memperoleh pelajaran lain yang juga sangat berharga bahwa ternyata banyak pihak tidak sepenuhnya mengerti apa itu hutan. Hutan merupakan bagian penting suatu DAS sehingga juga menjadi topik pembicaraan dalam lokakarya tersebut. Selain itu perwakilan dinas kehutanan dari beberapa kabupaten juga hadir sehingga pembicaraan mengenai hubungan antara hutan dan DAS juga menjadi semakin menarik.

Bapak, Bagaiamana Bisa Dikatakan Forum bila Hanya Kami yang Dituntut sedangkan Para Pejabat Enggan Berpartisipasi?

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Pada 25-27 April 2013 saya mendapat kehormatan untuk menjadi peserta lokakarya pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang diselenggarakan oleh Charles Darwin University (CDU) di Camplong, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT. Sebenarnya, saya bukan orang yang mempunyai latar belakang pengetahuan yang cukup mengenai DAS, apalagi pakar DAS. Sebagai mahasiswa CDU, saya diminta untuk membantu mengorganisasikan lokakarya tersebut oleh salah seorang supervisor saya. Saya pun memanfaatkan kesempatan ini untuk sekaligus belajar mengenai apa itu DAS dan pengelolaan DAS dengan meminta ijin untuk sekalian diperkenankan menjadi peserta. Apalagi setelah melihat daftar orang-orang yang akan menjadi pembicara, saya berharap bisa belajar banyak dari mengikuti lokakarya ini. Lihat saja, selain pakar dari CDU, ada perwakilan BPDAS Benain-Noelmina yang tentunya sangat memahami urusan pengelolaan DAS, ada Ketua UNDP Strengthening Community-Based Watershed Management Program, ada Ketua Forum DAS NTT yang tentu saja adalah orang yang paling tahu mengenai plus minus pengelolaan DAS di provinsi ini.

21 April 2013

Mendengarkan Ben Mboi Bertutur tentang Pemimpin

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Ia datang dengan bertongkat, jalannya tidak lagi tegak dan gagah. Ini sangat berbeda dengan kurang lebih 27 tahun lalu, ketika pada akhir 1985 saya dipanggil untuk berbicara mengenai pengendalian kutu loncat lamtoro (Heteropsylla cubana) di Aula Kantor Gubernur NTT. Sebagai seorang dosen yang baru saja lulus S1, saya sebenarnya tidak tahu harus menyampaikan apa, tetapi karena saya merasa harus melakukan sesuatu dan mempunyai sedikit latar belakang ekologi maka saya mencoba menjelaskan, bagaimana suatu organisme berstatus sebagai organisme pengganggu (hama) sebagai dasar untuk memberikan rekomendasi pengendalian. Tapi sebelum saya selesai berbicara, ia memotong saya. Ia mengibaratkan kutu loncat lamtoro sebagai pasukan musuh. Memang benar, organisme pengganggu tumbuhan adalah memang musuh. Ia melanjutkan, cara paling tepat untuk mengalahkan musuh adalah dengan memotong jalur logistiknya. Karena itu, katanya melanjutkan, untuk mengendalikan kutu loncat lamtoro maka seluruh pohon lamtoro di Provinsi NTT harus dipangkas. Ketika itu ia seorang gubernur, gubernur era Orde Baru pula, siapa yang kuasa untuk membantah.

16 April 2013

Dosen Terlalu Sibuk dengan Mengejar Gelar dan Mengerjakan Proyek sehingga Tidak Sempat Mengikuti Perkembangan

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Ingin tahu gosip paling keren di kalangan dosen akhir-akhir ini? Melanjutkan sekolah adalah jawabannya. Alasannya, menurut kabar burung, Ditjen Dikti akan mengeluarkan aturan baru bahwa untuk bisa naik ke Golongan IV dan ke jabatan fungsional Lektor Kepala, dosen harus mempunyai gelar akademik Doktor (atau Doctor of Phylosophy bagi yang lulusan luar negeri dan tidak mau disamakan dengan lulusan dalam negeri). Meskipun baru hanya kabar burung dan dosen seharusnya menggunakan data sebagai dasar pengambilan keputusan, gosip ini ditanggapi sangat serius oleh banyak dosen. Apalagi dengan ketentuan yang sudah berlaku bahwa untuk menjadi guru besar seorang dosen harus berpendidikan S3, dan lebih-lebih setelah tunjangan guru besar dinamakan tunjangan kehormatan yang jumlahnya bagaikan bumi dan langit berbeda dengan tunjagan dosen bukan guru besar, maka semakin riuhlah kasak kusuk ingin melanjutkan sekolah. Para pimpinan fakultas dan universitas menangkap ini sebagai sebuah kemajuan, tentu saja, dan menyebut dosen yang masih bergelar sarjana dan magister sebagai dosen minimalis yang menjadi dosen bukan karena panggilan jiwa, melainkan karena lamaranannya sebelumnya telah ditolak di mana-mana.

14 April 2013

Negeri yang Membanggakan Formalitas Gelar dan Jabatan

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Di negeri ini sekarang, gelar dan jabatan adalah segala-galanya. Karena itu, jangan heran bila orang mencantumkan gelar doktor dan jabatan profesor sampai di KTP, SIM, dan kartu peserta pemilu. Mungkin boleh juga untuk menggertak orang. Tapi bisa juga sebaliknya, kepengennya menggertak tapi justru dipermalukan. Bagaimana seandainya bila seseorang dengan gelar doktor dan jabatan profesor di SIM-nya tiba-tiba terkena razia polisi karena STNK-nya mati? Kalau yang kena razia di SIM-nya tidak tertera gelar berderet mungkin tidak perlu merasa terlalu malu. Tapi begitulah, di negeri di mana formalitas adalah di atas segalanya maka yang bodoh bisa menjadi merasa telah menjadi sangat pintar hanya karena mempunyai gelar akademik lebih tinggi. Berikut ini adalah cerita seorang tenaga honorer yang akan diangkat menjadi CPNS pada sebuah dinas pemerintah yang membidangi permasalahan pertanian.

08 April 2013

Siapa yang Berani Menanyakan, Apakah Dosen dan Guru Besar Pemegang Hak Paten Menggunakan Microsoft Windows dan Office Asli?

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Paten kini ditempatkan oleh Dikti sebagai capaian tertinggi dosen peneliti. Paten diberi angka kredit paling tinggi dibandingkan dengan produk penelitian lainnya, yaitu maksimum 40. Nilai angka kredit ini sama dengan nilai angka kredit menulis buku referensi, tetapi buku referensi sebenarnya bukan produk langsung penelitian. Artikel jurnal internasional, sebagai produk langsung penelitian, diberikan nilai angka krefit lebih rendah. Dosen pemegang hak paten, dengan begitu, merasa sebagai dosen paling hebat sehingga begitu sulit untuk bisa ditemui mahasiswa. Padahal, paten yang diperoleh belum tentu ada yang membeli, menawar pun belum tentu juga ada. Tapi begitulah, di negeri yang serba formalitas ini, banyak dosen lebih suka membanggakan formalitas daripada memahami apa sebenarnya formalitas yang mereka jalani. Bahkan, pematenan varietas tanaman, bagi dosen semacam ini, dianggap melindungi kepentingan petani, meski dalam kenyataan yang terjadi sebaliknya.
Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?