Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

28 April 2013

Urun Pendapat terhadap Pernyataan, "Saya Tidak Mengerti, Bagaimana Bisa Menanam Pohon Dikatakan Dapat Merusak Hutan"

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Pada tulisan sebelumnya saya telah menyampaikan bahwa saya memperoleh kesempatan belajar banyak hal dari menghadiri lokakarya pengelolaan DAS yang dilaksanakan di Camplong pada 25-27 Desember 2013. Selain belajar mengenai apa itu DAS dan pengelolaan DAS, saya memperoleh pelajaran yang sangat berharga mengenai apa itu forum dan partisipasi. Kedua istilah ini terdengar begitu umum sehingga tidak semua orang berpikir terlalu serius ketika mengucapkannya. Selain itu saya juga memperoleh pelajaran lain yang juga sangat berharga bahwa ternyata banyak pihak tidak sepenuhnya mengerti apa itu hutan. Hutan merupakan bagian penting suatu DAS sehingga juga menjadi topik pembicaraan dalam lokakarya tersebut. Selain itu perwakilan dinas kehutanan dari beberapa kabupaten juga hadir sehingga pembicaraan mengenai hubungan antara hutan dan DAS juga menjadi semakin menarik.

Pembicaraan mengenai hutan menjadi hangat karena peserta mempunyai pemahaman yang berbeda-beda mengenai hutan. Seorang peserta yang berlatar belakang kehutanan berkeberatan bila menanam pohon dikatakan belum tentu dapat memperbaiki hutan. "Saya tidak mengerti, bagaimana bisa menanam pohon dikatakan bisa merusak hutan. Hutan merupakan kumpulan pohon sehingga menanam pohon dengan sendirinya akan memperbaiki hutan". Mengartikan hutan sebagai sekedar kumpulan pohon memang secara etimologis tidak salah, tetapi tentu saja secara ekologis sangat tidak tepat. Hutan secara ekologis merupakan suatu tipe ekosistem yang dicirikan oleh adanya pohon sebagai komponen menonjol. Dalam hal ini, pohon terdiri atas jenis-jenis yang telah beradaptasi dengan kondisi setempat sehingga dapat memberikan dukungan kehidupan terhadap komponen ekosistem lainnya, terutama satwa liar. Hutan, dalam konteks ini, tentu saja bukan sekedar kompulan pohon, melainkan kumpulan jenis-jenis pohon tertentu yang telah beradaptasi dengan kondisi iklim dan tanah setempat. Melalui proses adaptasi yang panjang, kumpulan jenis-jenis pohon yang telah beradaptasi tersebut mampu memberikan dukungan kehidupan terhadap satwa liar yang juga merupakan komponen hutan, selain pohon. Jenis-jenis pohon yang telah beradaptasi dengan kondisi iklim dan tanah setempat tersebut kemudian dikenal sebagai jenis-jenis pohon lokal.
Hutan sebagai entitas ekologis sebenarnya telah dianut dalam Undang-undanh No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Pasal 1 undang-undang ini mendefinisikan hutan sebagai:
... suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahka (Pasal 1 Butir 2)
Hanya saja, penggunaan istilah 'sumber daya hayati' jelas menunjukkan semangat yang menjiwai undang-undang ini adalah semangat kapitalisme yang memandang segala sesuatu sebagai sumberdaya, sebagaimana juga manusia dikerdilkan menjadi sekedar sebagai sumberdaya, bukan sebagai kehidupan seutuhnya, yang tentunya bernilai lebih daripada sekedar sumberdaya. Dalam undang-undang ini juga didefinisikan kawasan hutan sebagai:
... wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh Pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap (Pasal 1 Butir 3).
Definisi mengenai hutan di atas menyatakan dengan sangat jelas bahwa hutan bukanlah sekedar kumpulan jenis-jenis pohon. Definisi mengenai kawasan hutan menyatakan bahwa kawasan hutan tidak selalu terdiri atas hutan dan sebaliknya hutan tidak selalu berada dalam kawasan hutan. Hanya saja, yang kemudian menjadi pertanyaan, mengapa masih bisa terjadi, aparat kehutanan masih mengartikan hutan sebagai kumpulan jenis-jenis pohon?

Kombinasi berbagai jenis pohon yang membentuk hutan menyediakan makanan bagi berbagai jenis satwa liar yang hidup dalam kawasan hutan. Jenis-jenis satwa liar yang hidup dalam kawasan hutan tersebut juga merupakan hasil adaptasi panjang terhadap jenis-jenis pohon yang membentuk hutan. Bayangkan apa yang terjadi dengan jenis-jenis mamalia dan burung pemakan buah beringin bila yang ditanam adalah jenis pohon jati, johar, dan mahoni. Belum lagi, apakah jenis-jenis pohon jati, johar, dan mahoni mempunyai kemampuan yang sama dalam meresapkan air hujan ke dalam tanah sebagaimana kemampuan jenis pohon beringin? Dalam hal komposisi jenis, sangat jelas bahwa menanam pohon jati, johar, dan beringin pada kawasan yang sebelumnya ditumbuhi oleh berbagai jenis pohon lain akan mengubah tipe hutan campuran menjadi tipe hutan sejenis. Dengan demikian, pengubahan hutan campuran menjadi hutan sejenis tentu saja bukan merupakan tindakan memperbaiki hutan, melainkan merusak hutan karena akan menyebabkan berbagai satwa liar akan kehilangan sumber pakan.

Belum lagi bila yang ditanam adalah jenis-jenis pohon penghasil kayu bernilai ekonomis tinggi seperti jati dan mahoni di kawasan hutan konservasi. Dan ironisnya, inilah yang selalu dilakukan oleh instansi kehutanan. Hutan konservasi merupakan hutan yang dicadangkan untuk menjaga fungsi ekologis, tetapi justru yang ditanam jenis-jenis pohon dengan fungsi ekonomis. Akibatnya, selain tidak dapat mendukung kehidupan satwa liar, penanam jenis-jenis bernilai ekonomis tinggi juga mendorong terjadinya penebangan liar. Dalam hal ini seharusnya dibedakan jenis-jenis pohon apa yang ditanam untuk menjaga fungsi ekologis dan jenis-jenis apa untuk meningkatkan fungsi ekonomis. Menanam jenis-jenis pohon penghasil kayu bernilai ekonomis tinggi untuk fungsi ekologis (konservasi) sama saja artinya dengan menumpuk emas di lapangan terbuka yang akan mengundang siapa saja untuk mencuri. Sampai sekarang, saya belum pernah mendengar instansi kehutanan menanam jenis-jenis beringin, padahal jenis-jenis pohon ini merupakan jenis yang dapat menyediakan pakan bagi berbagai jenis satwa liar dan kayunya tidak bernilai ekonomis sehingga tidak rawan menghadapi ancaman penebangan liar.

Kata menanam sendiri mempunyai arti yang memang tidak dengan sendirinya dapat memperbaiki hutan. Kata menanam sebenarnya bukan merupakan bagian dari peristilahan hutan, melainkan merupakan peristilahan pertanian. Dalam hutan, jenis-jenis pohon tumbuh dengan sendirinya; dalam pertanian jenis-jenis tumbuhan tumbuh karena ditanam. Oleh karena itu, berbagai jenis tumbuhan yang bersangkut-paut dengan dunia pertanian disebut tanaman. Dalam pertanian, tumbuhan yang ditanam perlu dipelihara supaya dapat memberikan hasil. Pemeliharaan dilakukan dengan berbagai cara, dengan cara mengairi, memupuk, menyiang, menjaga dari serangan organisme pengganggu (hama, penyebab penyakit, dan gulma), memangkas, dan sebagainya. Dengan kata lain, dalam pertanian, menanam tidak dengan sendirinya dapat memberikan hasil yang diharapkan. Jenis-jenis pohon hutan juga merupakan tumbuhan sehingga dapat ditanam untuk membuat hutan tanaman (plantation forest). Tetapi hutan tanaman tidak sama dengan hutan alam; hutan tanaman bahkan lebih menyerupai perkebunan daripada hutan alam. Sebagaimana halnya dalam perkebunan, jenis-jenis pohon yang ditanam tidak dengan sendirinya bisa menjadi hutan tanaman bila tidak dipelihara, apalagi dapat memperbaiki hutan sebagaimana halnya hutan alam.

Bila orang memahami apa itu sebenarnya hutan maka akan menjadi jelas bahwa gerakan menanam sejuta pohon merupakan gerakan yang tidak mempunyai dasar ilmiah yang jelas. Pertama, perlu dipertanyakan jenis pohon apa yang ditanam. Bila yang ditanam adalah jenis-jenis pohon introduksi maka gerakan semacam ini justeru akan merusak hutan alih-alih sebagai gerakan lingkungan hidup untuk menyelamatkan hutan. Kedua, menanam tidak dengan sendirinya dapat membuat anakan yang ditanam tumbuh menjadi pohon. Apalagi di daerah beriklim kering seperti halnya si NTT, tanpa disiram anakan pohon akan mati karena kekeringan. Belum lagi kebakaran yang dapat menghanguskan bukan hanya anakan yang baru ditanam, bahkan pohon yang sudah berumur tahunan sekalipun. Ketiga, gerakan menanam sejuta pohon, bila tidak disertai dengan pemeliharaan dalam jangka panjang, hanya merupakan pengamburan uang negara. Tanyakan kepada instansi yang selama ini bertugas menanam pohon, berapa jumlah anakan pohon yang telah ditanam dan berapa yang benar-benar tumbuh menjadi pohon. Bila saja semua anakan yang ditanam tumbuh, hutan di NTT ini tentunya sudah menutupi bukan hanya wilayah daratan, melainkan juga sampai ke laut.

Bagi Anda ingin tahu lebih banyak mengapa menanam pohon tidak selamanya berarti melestarikan hutan, silahkan kunjungi situs Biosecurity in Forestry (ketahanan hayati kehutanan) atau baca publikasi berikut:
Untuk mengetahui jenis-jenis mahluk hidup (termasuk pohon) yang dikategorikan sebagai spesies asing invasif, silahkan kunjungi Global Invasive Species Database (Basis Data Spesies Invasif Global). Khusus untuk jenis-jenis (spesies) yang bersifat invasif pada sektor kehutanan, silahkan kunjungi Forest Invasive Species Home yang disediakan oleh FAO.

Saya menulis ini karena tidak sempat menyampaikannya pada lokakarya karena lokakarya memang tidak dimaksudkan untuk secara khuus membahas hal ini. Namun saya merasa perlu menyampaikan hal ini, khususnya kepada peserta dari instansi kehutanan, bukan dengan maksud menggurui, melainkan sekedar sebagai cara berbagi pendapat. Melalui lokakarya saya memperoleh pengetahuan mengenai definisi hutan dari kalangan kehutanan, melalui kesempatan ini saya ingin berbagi pendapat pengertian hutan berdasarkan latar belakang ekologis, bidang yang saya geluti selama ini.
Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?