Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

13 Mei 2013

Bangga Menyebut Diri Mega-Biodiversity, tetapi Lalai Memperkenalkan dan Menjaga Keanekaragaman Hayati

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Suatu kali, seorang sejawat bertanya kepada saya, apakah rumput merumpun bersosok tegak yang tingginya bisa mencapai 2 m di Timor Barat ini namanya Andropogon atau Heteropogon? Saya bukan pakar rumput, apalagi pakar taksonomi rumput yang seharusnya menjawab pertanyaan ini. Saya hanya seorang guru kecil yang senang berkenalan dengan berbagai jenis tumbuhan, dan tentunya juga dengan rumput. Sebagai seorang guru kecil, saya kebetulan dipercaya untuk mengajar ilmu gulma, satu matakuliah yang saya ampu bersama dengan sejawat tadi. Karena tidak bisa menjawab, sebetulnya saya ingin bertanya kepada seorang guru besar, tetapi universitas tempat kami mengajar tidak mempunyai guru besar taksonomi. Oleh karena itu, saya bertanya kepada Prof. Google, guru besar online yang siap ditanya nebgenai apa saja, kapan saja dan di mana saja tersedia akses Internet. Jawaban yang diberikan oleh Prof. Google adalah saya disarankan mengunjungi situs GrassWorld dan situs AusGrass2. Saya tahu kalau grass dalam hal berarti rumput sehingga saya pun bergegas mengunjungi situs tersebut.


Ternyata saya menemukan jawaban yang sangat detil atas pertanyaan yang diajukan sejawat saya tersebut. Untungnya, saya mengerti bahasa Inggris, termasuk berbagai istilah bahasa Inggris yang dipergunakan di kalangan taksonomi (bayangkan kalau saya bertanya kepada guru besar yang tidak mengerti bahasa Inggris, belum tentu jawaban yang diberikan bisa selengkap yang saya peroleh). Mencari jawaban dari buku? Nanti dulu. Sebagai seorang guru kecil saya memang senang membaca, tetapi memperoleh buku-buku teknis di negeri ini bukanlah perkara yang mudah (seorang guru besar peternakan lebih suka menulis buku tentang politik dan hukum karena katanya buku teknis tidak laku). Lebih dari sekedar memperoleh informasi yang akan saya sampaikan untuk menjawab pertanyaan sejawat saya tadi, saya juga memperoleh sesuatu yang baru, GrassWorld dan situs AusGrass2 ternyata menggunakan Scratchpads, layanan hosting gratis yang disediakan oleh The Natural History Museum of London bagi kalangan ilmiah untuk menyimpan dan berbagi informasi mengenai keanekaragaman hayati dengan tampilan antarmuka dan isi yang sangat menarik.

Sebetulnya saya sudah menulis mengenai GrassWorld dan situs AusGrass2 pada blog saya yang lain, Tanaman Kampung. Tetapi saya merasa perlu menulis kembali dari sudut pandang yang lain, yaitu pemanfaatan sumberdaya gratis di Internet untuk melakukan berbagai hal secara profesional, termasuk untuk mempromosikan dan menjaga keanekaragaman hayati yang kita miliki. Sebelum bercerita mengenai hal ini, sebaiknya saya bercerita sedikit mengenai GrassWorld dan situs AusGrass2. Untuk menjelajahi GrassWorld, Anda dapat memulai dengan memilih menu Check List of World Grasses dan kemudian Classification of Grasses untuk mengunduh daftar jenis-jenis rumput menurut sebaran geografiknya dan untuk memahami klasifikasi rumput menurut taksonomi terbaru. Anda dapat memperoleh jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh sejawat saya dengan memilih menu Generic Description, tetapi sayangnya menu ini belum siap sehingga Anda dapat melanjutkan memilih menu Descriptions of World Grasses dan kemudian, memilih English untuk mengunduh file deskripsi dalam bahasa Inggris mengenai jenis-jenis rumput genus Andropogon dengan mengklik huruf A dan genus Heteropogon dengan mengklik huruf  H. Hal yang kurang lebih sama dapat Anda lakukan pada situs AusGrass2, mengingat kedua situs dibangun dengan menggunakan layanan Scratchpads, yang satu oleh perorangan dan yang lain oleh pemerintah Australia.

Kembali ke soal upaya untuk memperomosikan dan menjaga keanekaragaman hayati, pemerintah kita juga telah berupaya melakukannya. Kunjungi saja misalnya situs Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian dan Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Puslit Biologi LIPI) sebagai institusi pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab dalam hal ini. Kementerian Pertanian memang bukan kementerian yang secara langsung bertanggung jawab dalam mempromosikan dan menjaga keanekaragaman hayati, tetapi paling tidak pertanian sebenarnya bukan hanya soal teknologi, tetapi lebih sebagai persoalan keanekaragaman hayati dan ekologi. Kalau Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Puslit Biologi LIPI, sudah tentu merupakan lembaga yang seharusnya bertanggung jawab langsung. Karena itu, prioritas saya adalah mengunjungi situs Puslit Biologi LIPI, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, dan terakhir Kementerian Pertanian.

Puslit Biologi LIPI yang mempunyai layanan IBIS (Indonesian Biodiversity Information System) Online, tetapi mencakup baru 7614 jenis tumbuhan, tetapi ternyata itu tanpa disertai deskripsi, foto, maupun peta sebaran geografik. Padahal, menurut situs tersebut, Puslit Biologi memiliki "2.000.000 contoh tumbuhan yang berasal dari kawasan Malesia yang terdiri dari herbarium kering, herbarium basah, buah kering, biji, paku-pakuan, lumut, dan spesimen bukti penelitian ekologi tumbuhan". Kemudian coba klik menu LIPIMC maka sangat mengagetkan, yang tampil adalah situs bertuliskan: Welcome to lipimc.org This Web page is parked FREE, courtesy of GoDaddy.com. Kementerian Lingkungan Hidup mempunyai program unggulan Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional yang menyediakan layanan informasi Flora Identitas, SIM Hayati, dan Database Sumberdaya Genetik, tetapi isinya, selain beberapa foto, selebihnya kosong. Kemerinterian Kehutanan dan Kementerian Pertanian masing-masing mempunyai situs yang mentereng, tetapi miskin informasi mengenai keanekaragaman hayati. Situs Kementerian Kehutanan justeru memuat berita mengenai Kelahiran Cucu Pertama Menteri Kehutanan.

Pemerintah begitu bangga ketika Indonesia ditetapkan dalam KTT Bumi di Rio de Janeiro pada 1992 ditetapkan sebagai negeri mega-biodiversity. Bacalah pada situs Kementerian Lingkungan Hidup, bagaimana istilah itu berulang kali disebut. Hal ini memang sangat ironis, di kala pemerintah negara lain menggunakan Internet untuk mempromosikan dan menjaga keanekaragaman hayatinya, pemerintah kita justeru menggunakan Internet untuk mengunggah visi dan misi, struktur organisasi dengan foto para pejabatnya, pengumuman mengenai lelang barang dan jasa, dan foto-foto kegiatan pejabatnya. Bagi saya, hal ini sangat menggelitik, apalagi kalau sudah ada alternatif gratis semacam Scratchpads yang saya sebutkan di atas. Daripada membeli domain melalui GoDaddy, mengapa tidak menggunakan layanan gratis semacam yang dilakukan oleh pemerintah Australia untuk membangun situs AusGrass 2? Daripada menggunakan situs resmi sekedar untuk memajang foto-foto kegiatan pejabat, apalagi untuk mengumumkan seorang menteri telah mempunyai cucu, mengapa tidak menggunakan Facebook, Twitter, flickr, dan berbagai layanan media sosial lainnya?

Bandingkan dengan negara lain, jangan jauh-jauh. Tidak perlu melakukan studi banding jauh-jauh ke Amerika atau Eropah kalau bukan untuk menghabiskan uang rakyat untuk pelesir, tengok saja melalui Internet negara tetangga Australia yang mempunyai Atlas of Living Australia dan negara bagiannya  Australia Barat yang mempunyai FloraBase dan teritorinya Australia Utara yang mempunyai  Plants and Animlas of Northern Territory. Bahkan negara-negara berkembang yang pertumbuhan ekonominya di bawah Indonesia, sebut saja Papua Nugini yang mempunyai Digital Flora of Papua New Guinea dan Filipina yang mempunyai Philippine Biodiversity. Negara yang menurut para pejabat tinggi adalah negara bangsa serumpun, Malaysia mempunyai Malaysian Flora and Fauna dan Singapura mempunya Biodiversity Portal of Singapore. Sekarang bandingkan dengan situs IBIS (Indonesian Biodiversity Information System) Online dan situs Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional yang dimiliki negara kita, negara yang katanya mega-biodiversity ini. Silahkan Anda kecewa atau justeru membela, yang penting sudah ada niat, masih perlu melakukan studi banding lebih banyak lagi.
Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?