Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

08 Mei 2013

Pendidikan Tinggi Bergaya SD Inpres: Akankah Membawa Indonesia Unggul dalam Pendidikan Tinggi?

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Semua tahu apa itu SD Inpres, tetapi mungkin tidak semua tahu alasan didirikannya SD Inpres. Pada tahun 1970-an, sebagian besar penduduk Indonesia tidak menyelesaikan pendidikan dasar. Pada saat itu, jumlah SD masih sangat terbatas sedangkan jumlah anak-anak usia SD diperkirakan akan meningkat mengingat sebelumnya belum ada program KB. Pada saat yang sama, pemerintah perlu meningkatkan kinerjanya yang dalam bidang pendidikan berarti harus meningkatkan jumlah penduduk yang menyelesaikan pendidikan dasar. Oleh karena itu kemudian pemerintah meluncurkan program pembangunan SD secara besar-besaran. Karena merupakan program khusus maka diluncurkan melalui Instruksi Presiden. Dan karena tekanan untuk segera meningkatkan jumlah penduduk yang menyelesaikan pendidikan dasar maka sekolah dijadikan crash program, sama seperti program massal dan darurat lainnya seperti misalnya program Bimas, Inmas, dan Insus pada saat itu. Semuanya harus dilakukan dalam waktu sesingkat-singkatnya untuk menghasilkan sebanyak-banyaknya. Bila ada sekolah yang muridnya banyak tidak naik kelas atau tidak lulus maka yang disalahkan adalah para guru yang dinilai sebagai tidak bisa mengajar. Kelulusan murid dalam ulangan maupun ujian harus mendekati 100% supaya guru dan sekolah dapat dikatakan berhasil.


Maka mudah ditebak bila kemudian jumlah lulusan SD juga meningkat dengan pesat. Hal ini menyebabkan SMP dan seklah sederajat lainnya (dahulu masih ada sekolah kejuruan tingkat SMP) harus menerima murida melewati daya tampung. Maka kemudian, untuk mengatasi permasalahan, pemerintah kembali menggunakan pendekatan yang sama, memassalkan SMP dengan membangun banyak SMP baru supaya bisa menampung lulusan SD yang terus meningkat. Dalam beberapa tahun kemudian, permasalahan yang sama terjadi pula pada jenjang SMA dan sederjat dan untuk mengatasinya pemerintah juga tidak punyai cara lain, selain  membangun SMA dan SMK baru sebanyak-banyaknya. Pendidikan menengah kejuruan dahulu namanya berbeda-beda, bergantung pada bidang kejuruan yang diajarkan. SMP dan SMA (termasuk SMK) pun menggunakan pendekatan massal seperti halnya SD Inpres, harus menamatkan murid dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya. Efisiensi menjadi bagian dari kinerja pendidikan.

Pada saat yang sama pembangunan sektor pertanian juga dilakukan dengan pendekatan yang kurang lebih sama. Mohon dimaklumi, pada saat itu yang menjadi arus utama pembangunan pertanian adalah revolusi hijau. Sama seperti membangun pendidikan dengan memandang sekolah seakan-akan sebagai sebuah pabrik (pabrik ijasah), pembangunan pertanian dengan pendekatan revolusi hijau juga memandang pertanian tidak lebih dari sebuah pabrik. Simak saja apa yang dilakukan melalui program Bimas (Bimbingan Massal), Inmas (Intensifikasi Massal), dan Insus (Intensifikasi Khusus). Untuk meningkatkan keluaran (produksi) maka masukan (harus) harus ditingkatkan, mirip dengan meningkatkan produksi pabrik yang dilakukan dengan meningkatkan masukan (bahan baku, jumlah pekerja, dsb.). Produksi memang berhasil meningkat, tetapi itu hanya terjadi pada produksi beras karena padi merupakan tanaman prioritas. Tetapi kemudian ternyata bahwa peningkatan produksi tidak bisa bertahan lama karena kemudian terjadi ledakan hama wereng. Setelah terjadi ledakan hama wereng itulah kemudian pemerintah pada waktu itu mulai sadar bahwa pertanian tidak bisa diperlakukan sebagai sebuah pabrik.

Tetapi kesadaran hanya terjadi pada sektor pertanian, itupun hanya dalam kurun waktu yang singkat, pada sekitar 1980-an dan 1990-an. Kesadaran yang sama tidak terjadi pada sektor pendidikan dan pada sektor pertanian sesudah 1990-an. Pada sektor pendidikan, pendidikan tetap saja dipandang sebagai sesuatu yang harus dilakukan secara masal, dalam waktu sesingkat-singkatnya, dan untuk menghasilkan lulusan dalam jumlah sebanyak-banyaknya. Bahkan itu terjadi bukan hanya pada jenjang SD, tetapi kemudian menjalar ke jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK. Lalu di mana letaknya mutu (kualitas)? Untuk menjawab pertanyaan ini pemerintah kemudian menggantikan ujian sekolah dengan ujian nasional. Katanya, melalui ujian nasional dapat dihasilkan lulusan dengan kualitas yang terukur. Dan ajaibnya, semua sekolah kemudian mengejar kelulusan ujian nasional mendekati 100%. Ajaib memang, di daerah-daerah terpencil yang gurunya hanya mengajar di sekitar tanggal 1, muridnya juga lulus ujian nasional mendekati 100%, padahal ketika melanjutkan ke SMP mereka masih harus kembali belajar abjad. Dan lebih ironis lagi, keberhasilan sekolah diukur melalui keberhasilan menghantarkan murid lulus ujian nasional mendekati angka 100%.

Tapi rupanya fenomena menghasilkan lulusan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dalam jumlah sebanyak-banyaknya tersebut kini tidak hanya berlaku pada jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK. Dimulai dengan perubahan kurikulum melalui penerapan sistem SKS (satuan kredit semester) pada awal 1980-an (saya adalah mahasiswa yang pertama menerima sistem SKS). Harapannya, dengan sistem SKS, mahasiswa yang kemampuan akademiknya bagus akan bisa menyelesaikan pendidikan lebih cepat. Lagi-lagi, yang menjadi patokan adalah menyelesaikan pendidikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Pada awalnya, mahasiswa yang kemampuan akademiknya bagus memang adalah yang menyelesaikan pendidikan lebih cepat. Kini cara pandang yang digunakan adalah kebalikannya, mahasiswa yang bisa menyelesaikan pendidikan lebih cepat dipandang sebagai prestasi sangat hebat. Sampai-sampai, ada seorang rekan yang begitu bangga karena istrinya berhasil menyelesaikan program doktor dalam waktu kurang dari 3 tahun. Begitu bersemangat rekan ini menyanjung istrinya di berbagai jejaring sosial, sampai-sampai lupa untuk mengunggah disertasi istrinya, sehingga kalau istrinya memang sedemikian hebat maka disertasinya patut menjadi contoh banyak orang.

Kini, beberapa di antara mereka yang mengenyam pendidikan dengan gaya SD Inpres (meluluskan murid dalam waktu sesingkat-singkatnya dengan jumlah sebanyak-banyaknya) telah berhasil menjadi pemimpin. Sistem yang berlaku sekarang juga memang memungkinkan mereka yang mempunyai massa dan uang sebanyak-banyaknya untuk menjadi pemimpin, mereka yang kualitasnya bagus tetapi tidak mempunyai massa dan uang harus merelakan diri menjadi rakyat jelata. Maka, jangan kemudian heran bila ada rektor yang menggunakan ukuran yang sama untuk mengukur keberhasilan kepemimpinannya: menyekolahkan dosen sebanyak-banyaknya untuk menyekesaikan pendidikan magister dan doktor untuk kemudian bisa menjadi guru besar dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dalam jumlah sebanyak-banyaknya. Kebijakan tersebut diambil katanya karena Dikti mengeluarkan kebijakan bahwa untuk naik ke Golongan IV, dosen harus berpendidikan doktor. Saat ini, ketentuan yang sudah berlaku adalah hanya untuk menduduki jabatan guru besar. Banyak dosen yang kemudian resah, tetapi juga ada yang justeru yang menggunakan kesempatan untuk mengikuti program doktor supaya setelah lulus nanti bisa menjadi guru besar dan menduduki jabatan strategis, terutama menjadi rektor.

Saya mungkin termasuk dosen yang resah. Bukan karena saya tidak kegabian kesempatan menjadi doktor dan kemudian menjadi profesor, tetapi karena saya harus mengajar melebihi kepatutan jumlah mata kuliah yang harus diajar oleh seorang guru kecil seperti saya. Soal kepatutan ini menjadi penting, karena Dikti menggunakan kepatutan sebagai dasar untuk menilai kinerja dosen. Jumlah publikasi per semester dianggap tidak patut bila melebihi dua artikel pada jurnal internasional, padahal orang yang biasa mempublikasikan hasil penelitian pada jurnal internasional pasti tahu bahwa artikel yang dikirimkan pada semester yang berbeda ke jurnal yang berbeda bisa terbit pada semester yang bersamaan. Kalau jumlah publikasi yang dianggap patut per semester dibatasi, mengapa dosen guru kecil seperti saya harus mengajar matakuliah sampai melebihi batas kepatutan hanya karena dosen lainnya mengikuti crash program mengikuti pendidikan magister atau doktor? Seorang teman, yang kebetulan adalah seorang dosen di universitas yang menerima mahasiswa yang dikirim untuk mengikuti pendidikan magister dan doktor, secara bergurau tetapi menggelitik mengatakan, mereka yang dikirim itu bukan mengikuti pendidikan magister dan doktor, tetapi mengikuti kursus S2 dan S3 untuk memperoleh sertifikat menjadi guru besar.


Pimpinan universitas dan fakultas semestinya tahu bahwa pengiriman dosen untuk mengikuti pendidikan magister dan doktor seharusnya direncanakan dengan baik. Perencanaan sepatutnya dilakukan dengan mempertimbangkan jangan sampai satu jurusan/program studi atau minat menjadi mengalami kekurangan dosen. Demikian juga dengan bidang ilmu, seharusnya direncanakan bidang ilmu apa yang belum mempunyai dosen berjenjang pendidikan magister atau doktor. Kenyataannya, perencanaan seperti itu tidak dilakukan melainkan sekedar bisa menyekolahkan dosen dalam jumlah sebanyak-banyaknya (dan tentu saja mengharapkan dosen yang disekolahkan dapat menyelesaikan pendidikan dalam waktu sesingkat-singkatnya). Maka dapat dimengerti, mengapa kemudian dosen berduyun-duyung melanjutkan pendidikan dengan mengambil bidang ilmu yang mereka anggap 'mudah' (supaya bisa selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya sehingga dengan begitu kemudian bisa membanggakan diri sebagai dosen yang hebat karena dapat menyelesaikan pendidikan dalam waktu yang kurang dari batas waktu yang ditetapkan). Maka dapat pula dimengerti, dosen bidang pemuliaan tanaman di fakultas pertanian tidak melanjutkan pendidikan pada bidang pemuliaan, karena melakukan penelitian dalam bidang tersebut memerlukan waktu lama. Dan hal seperti itu dibiarkan saja oleh pimpinan fakultas dan universitas sebab yang penting mereka bisa menyekolahkan dosen dalam jumlah sebanyak-banyaknya.

Apakah kebijakan seperti ini memang benar-benar akan memajukan institusi? Jawabannya tentu saja bergantung pada tolok ukur yang digunakan. Kalau yang digunakan adalah tolok ukur Dikti maka jawaban terhadap pertanyaan ini sangat mungkin adalah ya. Bagi Dikti, bila suatu jurusan/program studi mempunyai banyak dosen berjenjang pendidikan doktor dan berjabatan guru besar maka jurusan/program studi itu sangat berpeluang memperoleh akreditasi A, tidak peduli apakah doktor dan guru besar tersebut terkumpul dalam satu bidang ilmu tertentu. Kebijakan seperti yang diambil oleh universitas sebagaimana tersebut di atas kemungkinan besar akan menghasilkan beberapa doktor dalam bidang ilmu yang sama (seorang teman iseng bertanya, kenapa ya dosen mengikuti pendidikan lanjut dengan gaya anak SD atau gaya ABG tawuran, berani hanya kalau beramai-ramai). Alhasil, setelah mereka kembali, mereka mengasuh satu matakuliah secara kroyokan juga, sedangkan dosen berjenjang pendidikan S1 dan S2 (yang oleh pimpinan universitas dikategorikan sebagai dosen minimalis) harus berjibaku mengasuh matakuliah yang dikategorikan 'sulit'. Di sebuah fakultas tua, saya mendengar dari seorang kawan, jumlah dosen yang mengasuh satu matakuliah sampai 8 orang, 3 dengan jenjang pendidikan doktor dan 2 di antaranya berjabatan guru besar, padahal jumlah mahasiswa yang memprogramkan matakuliah tersebut hanya 5 orang. Kalau yang seperti ini dipandang sebagai kemajuan maka pendidikan tinggi tidak ada bedanya dengan SD Inpress: massal dan darurat.


Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?