Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

30 Juni 2013

Mempertanyakan Proses Suksesi: Akan Menuju ke Mana?

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Hadiah paling bernilai yang terima pada saat pernikahan saya akhir tahun lalu adalah sebuah buku. Itu karena buku tersebut ditulis dan dihadiahkan sendiri oleh penulisnya, yang juga adalah sahabat saya, seorang guru besar FMIPA sebuah universitas terkemuka. Karena berbagai kesibukan, saya baru sempat kembali membaca buku tersebut. Meskipun judulnya 'Ekologi Tumbuhan', buku tersebut juga mencakup bab-bab yang menurut saya lebih cocok sebagai bagian dari buku ekologi umum. Tapi sahabat saya pasti mempunyai pertimbangan lain, mengapa memasukkan bab-bab ekologi umum tersebut ke dalam buku ekologi tumbuhan. Bagi saya, bagian yang cukup menarik adalah dari buku tersebut adalah bab mengenai suksesi. Setidak-tidaknya, bab ini menarik bagi saya dalam kaitan dengan minat saya pada bidang ekologi dan dalam kaitan dengan penggunaannya dalam bidang lain. Kita semua tahu, kata suksesi begitu jamak diucapkan orang akhir-akhir ini, terutama di kalangan politisi, sehingga jangan-jangan orang mengira bahwa istilah ini berasal dari ilmu politik daripada dari ekologi.

28 Juni 2013

Tidak Lagi Ada Seribu Kunang-kunang di Kampungku

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Kunang-kunang
"Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela." Kutipan ini berasal dari cerita pendek Umar Kayam, Seribu Kunang-kunang di Manhattan (silahkan baca dahulu sebelum melanjutkan membaca tayangan ini). Saya belum membaca cerita pendek ini, ketika dahulu, di masa kanak-kanak, menyaksikan bukan hanya seribu, melainkan beribu-ribu kunang-kunang di kampung saya. Kini, jangankan seribu, mencari beberapa ekor saja mungkin sudah tidak lagi mudah. Anak-anak kecil di kampung saya mungkin juga tidak lagi suka bermain dengan kunang-kunang, atau bahkan mungkin tidak lagi pernah tahu apa sebenarnya itu kunang-kunang. Atau mungkin, apakah mereka masih perlu bermain dengan kunang-kunang, memasukkannya ke dalam kapas dan membiarkannya berkelap-kelip di ruang gelap? Pada saat ini kunang-kunang dari Manhattan telah lama menerangi rumah-rumah kampung, lorong-lorong kampung. "Lampu-lampu yang berkelipan di belantara pencakar langit yang kelihatan dari jendela mengingatkan Marno pada ratusan kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah embahnya di desa."

26 Juni 2013

SBY: Begitu Mudah Meminta Maaf kepada Pihak Asing, Begitu Sulit Meminta Maaf Kepada Rakyat Sendiri

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Pada 25 Juni 2013, saya menyaksikan di MetroTV, Presiden SBY meminta maaf kepada negara jiran, Malaysia dan Singapura, atas kabut asap asal Sumatera yang melanda kota-kota negeri jiran tersebut. "Saya selaku Presiden Republik Indonesia meminta maaf dan meminta pengertian saudara-saudara kami di Singapura dan Malaysia," katanya. Setelah tayangan pidato, MetroTV menayangkan wawancara dengan seorang tokoh masyarakat. Menurut tokoh masyarakat tersebut, Presiden tidak perlu minta maaf kepada kedua negeri jiran tersebut. Alasan yang disampaikan tokoh masyarakat yang diwawancarai, kabut asap terjadi bukan dengan disengaja oleh negara maupun bangsa Indonesia, melainkan oleh oknum tertentu. Tokoh masyarakat tersebut justeru menyatakan bahwa Presiden seharusnya meminta maaf kepada masyarakat karena ketidakmampuannya selama dua priode kepemimpinannya dalam mengatasi permasalahan asap.

25 Juni 2013

Dr. Hendrik Ataupah: Seorang Nasionalis yang Mencintai Alam dengan Sepenuh Hati (bagian 2 dari 2 tulisan)

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Dr. Ataupah berulang kali menyampaikan keinginannya agar kampus Undana dapat menjadi lokasi di mana orang dapat melihat contoh berbagai jenis tumbuhahan yang tumbuh di kawasan savana (beliau menyebut savana dengan menggunakan ejaan sabana). Karena itu, ketika Rektor Prof. Frans Umbu Datta menunjuk saya sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Arboretum (Puslitbang Arboretum), saya berharap menjadikan kawasan bagian depan kampus Undana senagai kawasan pengembangan arboretum. Tetapi rupanya Rektor, dengan visi menjadikan Undana sebagai universitas berorientasi gobal (global oriented university), berkeinginan membangun gapura global dan memindahkan rektorat ke tepi jalan raya. Sebagai bawahan ketika itu, tentu saja saya harus menyesuaikan dengan visi pimpinan. Namun ketika hal itu saya sampaikan kepada Dr. Ataupah, beliau justeru menyayangkan keputusan saya. Menurut beliau, saya lebih baik mengundurkan diri saja dari jabatan Kepala Puslitbang Arboretum karena tidak ada gunanya lagi bila tidak diajak bicara mengenai penataan kampus. Saya tidak sepenuhnya menuruti nasihat beliau, tetapi kemudian, dengan alasan berkonsentrasi pada studi lanjut, saya menyampaikan kepada Rektor untuk mengangkat Kepala Puslitbang Arboretum baru.

Dr. Hendrik Ataupah: Seorang Nasionalis yang Mencintai Alam dengan Sepenuh Hati (bagian 1 dari 2 tulisan)

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Saya bertemu beliau pertama kali di ‘sonaf’ (istana raja) Mollo Selatan di Kesetnana, Soe, pada tahun-tahun pertama saya datang di Kupang. Ketika itu, 1985 atau 1986, saya diajak oleh sahabat saya, Welhelmus I.I. Mella yang biasa kami panggil Emu, bersama dengan beberapa teman, kalau tidak salah Tonny Djogo dan Andi Renggana, berkunjung ke rumah orang tuanya, yang kebetulan adalah mantan temukung (raja kecil) Mollo Selatan. Ketika kami sedang mengobrol, tiba-tiba datang seorang yang rambutnya sudah mulai memutih, entah dari mana, membawa segepok spesimen berbagai jenis tumbuhan. Tiba-tiba saja orang tua ini bertanya kepada kami, apa nama jenis-jenis tumbuhan yang dibawanya. Kami mencoba memeriksa, tidak ada yang tahu. Tiba-tiba Emu memperkenalkan saya, dengan menyebutkan bahwa saya dosen baru bidang perlindungan tanaman, seharusnya lebih tahu daripada mereka yang dosen ilmu tanah. Setelah saya mencoba kembali memeriksa, saya hanya mampu menggeleng, malu. Orang tua itu adalah Hendrik Ataupah, dosen antropologi FISIP (ketika itu masih FIA) Undana, yang sedang melakukan penelitian untuk menyelesaikan disertasi antropologi ekologi di Universitas Indonesia.
Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?