Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

25 Juni 2013

Dr. Hendrik Ataupah: Seorang Nasionalis yang Mencintai Alam dengan Sepenuh Hati (bagian 1 dari 2 tulisan)

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Saya bertemu beliau pertama kali di ‘sonaf’ (istana raja) Mollo Selatan di Kesetnana, Soe, pada tahun-tahun pertama saya datang di Kupang. Ketika itu, 1985 atau 1986, saya diajak oleh sahabat saya, Welhelmus I.I. Mella yang biasa kami panggil Emu, bersama dengan beberapa teman, kalau tidak salah Tonny Djogo dan Andi Renggana, berkunjung ke rumah orang tuanya, yang kebetulan adalah mantan temukung (raja kecil) Mollo Selatan. Ketika kami sedang mengobrol, tiba-tiba datang seorang yang rambutnya sudah mulai memutih, entah dari mana, membawa segepok spesimen berbagai jenis tumbuhan. Tiba-tiba saja orang tua ini bertanya kepada kami, apa nama jenis-jenis tumbuhan yang dibawanya. Kami mencoba memeriksa, tidak ada yang tahu. Tiba-tiba Emu memperkenalkan saya, dengan menyebutkan bahwa saya dosen baru bidang perlindungan tanaman, seharusnya lebih tahu daripada mereka yang dosen ilmu tanah. Setelah saya mencoba kembali memeriksa, saya hanya mampu menggeleng, malu. Orang tua itu adalah Hendrik Ataupah, dosen antropologi FISIP (ketika itu masih FIA) Undana, yang sedang melakukan penelitian untuk menyelesaikan disertasi antropologi ekologi di Universitas Indonesia.


Rekan-rekan dan mahasiswanya di FISIP Undana boleh mengenal Dr. Hendrik Ataupah sebagai pakar antropologi. Rekan-rekan dan mahasiswanya di Program Pascasarjana Undana boleh mengenal Dr. Hendrik Ataupah sebagai pakar ekologi manusia. Tetapi saya mengenal beliau lebih daripada itu semua. Bagi saya, beliau adalah seorang bapak, sekaligus teman, nasionalis, guru, peneliti, dan pencinta alam sejati. Sebagai bapak, beliau adalah tempat saya berkeluh kesah saat susah. Sebagai teman, beliau adalah orang yang sangat enak mengobrol mengenai berbagai hal. Sebagai seorang nasionalis, beliau banyak menasihati pentingnya menghayati semangat kebangsaan para pejuang. Sebagai guru, beliau adalah seorang guru yang tidak harus menggurui, melainkan memberikan contoh. Sebagai peneliti, beliau mewariskan kejujuran untuk menyampaikan hasil penelitian apa adanya. Sebagai pencinta alam, beliau tidak hanya prihatin mengenai kerusakan alam dan kehancuran lingkungan hidup, melainkan melakukan banyak hal. Dengan itu semua, beliau adalah orang yang banyak mempengaruhi saya: dari semula berpikir kuantitatif menjadi menghargai mempelajari cara berpikir kualitatif.

Kepala PSL Undana
Saya menjadi dekat dengan Dr. Ataupah ketika saya dipercaya menjadi Sekretaris Pusat Studi Lingkungan Undana pada saat beliau sebagai Kepala, setelah menyelesaikan pendidikan S3 bidang antropologi ekologi di Universitas Indonesia. Ketika itu saya baru pulang setelah menyelesaikan pendidikan S2 bidang ilmu tumbuhan di McGill University di Montreal, Kanada. Ini sekaligus merupakan pertemuan kedua kali saya dengan beliau, setelah –sebagaimana saya sebutkan di atas- pertama kali bertemu di Sonaf Kesetnana di Soe. Kami pun cepat menjadi akrab, bukan lagi sekedar sebagai bawahan dan atasan, melainkan sebagai dua orang teman. Kami sering mengobrol sampai melewati jam kantor mengenai keprihatinan beliau dalam menghadapi berbagai isu lingkungan hidup.

Tugas pertama yang saya rasakan sangat berat ketika itu adalah meredam kemarahan beliau terhadap ketua tim penulisan buku mengenai ekologi Nusa Tenggara dan Maluku, Kathryn A Monk. Saya tidak tahu persis apa yang membuat beliau sangat marah, tetapi dari surat sangat panjang yang beliau tulis, saya menyimpulkan, beliau tidak menyetujui cara yang dilakukan oleh Monk untuk menulis buku tersebut. Beliau menginginkan agar buku ditulis dengan melibatkan seluruh Kepala PSL di wilayah Nusa Tenggara dan Maluku sebagai penulis, tetapi Monk hanya menjadikan kepala-kelapa PSL sekedar sebagai narasumber. Beliau juga menginginkan agar buku ditulis berdasarkan penelitian, sedangkan Monk menulis dengan menggunakan data sekunder. Beliau menyebut Monk sebagai penulis ‘peramu’ yang berdasarkan teori antropologi merupakan tingkat perkembangan masyarakat yang paling dasar. Kesulitan saya adalah bagaimana membahasakan kemarahan beliau menjadi lebih lunak dan dapat dimengerti oleh mereka yang terkait dengan penulisan buku tersebut, yang didanai oleh proyek EMDI (Environmental Management and Development in Indonesia) melalui dukungan pemerintah Kanada.

Beliau memang dikenal sebagai orang yang berpendirian kuat. Hanya saja, orang sering salah memahami hal ini karena gaya bahasa beliau yang -setidak-tidaknya menurut saya- cenderung berputar-putar. Orang cenderung menyimpulkan beliau sebagai orang yang sulit dimengerti dan angkuh. Hal ini terjadi mungkin karena dalam berbicara maupun menulis, beliau cenderung menggunakan kalimat-kalimat panjang yang sulit ditemukan predikatnya merujuk pada subyek yang mana sehingga kerap menimbulkan salah pengertian. Sebagai Sekretaris PSL, saya pun kemudian beliau percaya untuk menyunting setiap surat dinas, sebelum dikirimkan. Ini merupakan tugas yang tidak mudah, mengingat kami berlatar belakang pendidikan yang berbeda. Saya, dengan latar belakang pendidikan ilmu-ilmu alam, cenderung membuat kalimat-kalimat pendek yang padat makna. Beliau, dengan latar pendidikan ilmu-ilmu sosial, cenderung membuat kalimat-kalimat panjang yang memerlukan interpretasi. Kesulitan itu bisa saya atasi hanya dengan belajar berpikir dengan menggunakan paradigma ilmu-ilmu sosial, tentu saja dengan belajar dari beliau dan dengan membaca.

Sebagai pakar ilmu-ilmu sosial, beliau mempunyai kelebihan dari pakar ilmu sosial lainnya. Pemahaman beliau terhadap ilmu-ilmu alam lebih dari memadai, bahkan bila dibandingkan dengan sebagian orang yang secara formal mempunyai latar belakang pendidikan ilmu-ilmu alam. Beliau dapat dengan lancar berbicara mengenai daur unsur hara, mengenai jejaring makanan, mengenai habitat dan relung, mengenai proses suksesi. Lebih khusus lagi dalam bidang taksonomi, beliau tidak hanya hapal nama ilmiah berbagai jenis tumbuhan, melainkan mengerti tatacara penamaan (nomenclature) dan arti penting penggunaan nama ilmiah secara benar untuk berbagai keperluan. Suatu kali, ketika kantor PSL sedang direhabilitasi dan untuk sementara kami berpindah kantor ke gedung yang sebelumnya dipakai oleh Fakultas Non-Gelar Teknologi (FNGT) di kampus baru, beliau berkeluh kesah mengapa di Undana tidak ada dosen yang berminat mendalami taksonomi. Saya menjawab dengan mengatakan bukan tidak ada, melainkan belum ada. Saya juga katakan bahwa taksonomi merupakan ilmu dasar yang menurut banyak kalangan dianggap sebagai ilmu yang sulit dan “kering” (sulit digunakan untuk memperoleh proyek). Beliau menanggapi dengan agak sinis dengan mengatakan bahwa kalau ilmu dipelajari hanya untuk memperoleh proyek, menjadi apa kita nanti.

Sebagai Kepala PSL Undana beliau berpandangan bahwa PSL bertanggung jawab menghijaukan kampus Undana. Saya berbeda pendapat dengan beliau dalam hal ini. Sebagai kelembagaan penelitian, tugas utama PSL menurut saya adalah melakukan penelitian dalam bidang lingkungan hidup, sedangkan tugas menghijaukan kampus hanya merupakan tugas pengabdian. Meskipun begitu, saya melaksanakan tugas akhir minggu yang beliau berikan kepada kami semua, dengan menggunakan mobil dinas dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup, untuk ke lapangan mengumpulkan benih dan anakan berbagai jenis pohon untuk ditanam di kampus Undana. Hanya saja, saya memfokuskan untuk menanam di sekitar kantor PSL yang pada saat itu dipenuhi dengan hamparan putri malu dan pohon gamal yang telah beliau tanam sebelumnya. Beliau melakukan dengan menebar benih dan menanam anakan begitu saja, saya mengubahnya dengan membibitkan benih dan anakan terlebih dahulu sebelum menanam dan melakukan penamaman dengan sedikit melakukan penataan. Kegiatan ini menjadi cikal bakal kawasan hutan mini di sekitar kantor PSL yang kemudian saya mantapkan setelah saya diangkat sebagai Kepala PPLHSA Undana pada 1996.

Membangun PPLHSA Undana
Saya diangkat sebagai kepala setelah PSL Undana ditingkatkan status dan bidang tugasnya menjadi Pusat Penelitian Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam Undana (PPLHSA Undana). Perubahan status ini dilakukan setelah PSL Undana yang dibentuk sebagai PSL percontohan dengan dukungan kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup (MNLH) dialihkan pengelolaannya sepenuhnya kepada Undana. Hal ini menjadi tugas berat bagi saya sebab dukungan skema pendanaan, khususnya pendanaan penelitian, dari kantor MNLH dihentikan secara bertahap. Saya pun harus melakukan pembenahan besar-besaran, baik pembenahan secara internal maupun pembenahan secara eksternal. Secara internal, saya mengusulkan kepada Rektor Undana untuk meniadakan SK Rektor mengenai dosen yang ditetapkan sebagai tenaga peneliti PSL Undana sehingga PPLHSA Undana menjadi terbuka bagi siapa saja yang ingin meneliti dengan melembaga pada PPLHSA Undana. Secara eksternal saya mengembangkan jaringan kerjasama dengan instansi lain, baik instansi pemerintah maupun bukan pemerintah (LSM dan swasta). Semua ini dapat saya lakukan dengan dukungan penuh dari Dr. Ataupah.

Secara internal, beliau merupakan orang yang disegani oleh Rektor Undana ketika itu, Prof. Dr. Agustinus Benu, MS. Beliau juga sahabat Prof. Herman Tiluata (alm.) yang pada saat itu adalah Kepala Pusat Penelitian Undana (Kalemlit) yang terkenal sangat keras sehingga menyulitkan bagi kepala pusat-pusat lainnya untuk berkoordinasi. Dalam hal hubungan koordinasi ini, Dr. Ataupah senantiasa membantu dengan terlebih dahulu menyampaikan secara informal kebijakan dan program yang saya laksanakan kepada Rektor dan kepada Kalemlit. Beliau juga membantu saya memberikan penjelasan kepada banyak orang yang sebelumnya ditetapkan sebagai staf peneliti PSL Undana bahwa mereka tidak lagi memperoleh status istimewa tersebut. Status istimewa tersebut terutama dalam kaitan dengan pelaksanaan kursus-kursus Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL), yang pada saat itu pelaksanaannya menjadi kewenangan PSL/PPLH seluruh Indonesia, yang di PSL Undana hanya dipegang oleh orang-orang tertentu, baik sebagai panitia pelaksana maupun pengajar.

Dr. Ataupah terutama tidak menyukai pengajar kursus AMDAL yang menyampaikan materi dengan menggunting dan kemudian menempelkan guntingan tersebut untuk kemudian diketik oleh panitia. Beliau berulang-ulang menyampaikan bahwa ini merupakan plagiarisme, tetapi tidak tahu bagaimana cara mentatasinya. Saya kemudian memodifikasi kurikulum kursus dengan menyesuaikan terhadap perkembangan dan mensyaratkan bahwa materi harus disampaikan materi dalam bentuk file paling lambat seminggu sebelum pelaksanaan kursus. Hal ini memang tidak sepenuhnya mengatasi masalah plagiarisme, tetapi setidak-tidaknya mengurangi beban panitia pelaksana karena tidak lagi harus mengetik makalah yang dipenuhi dengan tempelan guntingan fotokopi halaman buku dan makalah orang lain. Pengajar yang tidak mampu melakukan ini dengan sendirinya tersisih dan kemudian saya ganti dengan yang lebih mampu menyeduaikan diri dengan perubahan. Materi beliau yang biasanya sangat panjang juga saya sunting dan saya format seperlunya untuk menyesuaikan dengan format yang telah ditetapkan oleh panitia.

Dalam hal membangun jejaring eksternal, Dr. Ataupah tidak pernah bosan-bosan bersedia saya ajak untuk menemui para pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi NTT. Beliau menemani saya untuk bertemu dengan Kepala BAPPEDA Provinsi NTT, yang ketika itu dijabat oleh Ir. Esthon Foenay, dengan Kepala Biro Lingkungan Hidup dalam lingkungan Sekretariat Daerah (kemudian berubah menjadi Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah, BAPEDALDA), dengan Kepala Dinas Kehutanan, dengan Kepala BKSDA, dan dengan banyak pejabat lainnya. Beliau juga dengan senang hati tetap datang ke kantor setiap kali saya minta untuk memberikan masukan mengenai proyek-proyek penelitian yang memperoleh dukungan pendanaan dari lembaga-lembaga internasional. Misalnya, beliau banyak memberikan masukan terhadap penelitian penyadaran masyarakat mengenai Chromolaena odorata dengan dukungan AusAID melalui Plan Internasional dan penelitian pengendalian gulma tersebut dengan dukungan ACIAR melalui kerjasama dengan The University of Queensland. Diskusi dengan beliau menghantarkan saya pada kesimpulan bahwa Chromolaena odorata tidak bisa dipandang hanya sebagai gulma, melainkan juga sebagai vegetasi perintis yang mempercepat proses penutupan lahan setelah diberakan dari perladangan tebas bakar.

Seorang Pencinta Alam Sejati
Setelah tidak lagi sebagai Kepala PSL Undana, Dr. Ataupah tetap berkeinginan untuk menghijaukan kampus Undana. Ketika saya masih sebagai Kepala PPLHSA Undana, berulang kali beliau datang membawa benih dan anakan berbagai jenis tumbuhan. Benih dan anakan tersebut saya semaikan terlebih dahulu sebelum kemudian menanamnya pada awal musim hujan. Saya berkeinginan supaya anakan berbagai jenis tumbuhan tersebut ditanam di sekitar kantor PPLHSA Undana untuk lebih memudahkan pemeliharaan. Bagi saya hal ini penting karena di kawasan yang bertipe iklim semi ringkai, memelihara selama paling tidak 3-5 tahun pertama jauh lebih penting daripada sekedar menanam jutaan pohon. Sama penting pula bahwa sebelum menanam jenis-jenis pohon tertentu, kawasan terlebih dahulu harus ditanami dengan jenis-jenis perintis seperti gamal untuk memodifikasi lingkungan mikro. Saat itu, kawasan di sekitar kantor telah dipenuhi dengan gamal yang penanamannya dipelopori dan digerakkan oleh Dr. Ataupah. Untuk menanam anakan berbagai jenis pohon yang beliau kumpulkan di sekitar kantor, saya harus menebang pohon gamal yang batangnya sudah sangat besar.

Saya dapat saja melakukan penebangan tanpa terlebih dahulu meminta ijin beliau, tetapi karena saya belajar mengenai hak atas lahan dan tanaman menurut adat orang Meto dari beliau, sebelum melakukan penebangan saya terlebih dahulu meminta ijin beliau sebagai orang yang menanam. Setelah menjelaskan maksudnya, beliau bukan hanya menyetujui melainkan justeru mendukung saya untuk menebang bukan hanya belasan, melainkan puluhan pohon gamal. Oleh karena itu, saya kaget mendengar pidato Rektor Prof. Umbu Datta pada hari pemakaman Dr. Ataupah bahwa pernah dimarahi karena menebang pohon gamal di depan rektorat lama untuk digunakan sebagai lokasi pembangunan PLTS mini. Bagi saya, bukan hanya penebangan pohon gamal yang membuat beliau marah, melainkan cara yang seharusnya dilalui sebelum melakukan penebangan. Mungkin Rektor tidak perlu meminta ijin, melainkan setidak-tidaknya memberitahu beliau. Beliau sering menasihati saya, bahwa kalau menjadi pemimpin jangan hanya menggunakan pendekatan kekuasaan, tetapi lebih baik menggunakan pendekatan pendekatan kemanusiaan. Bagi beliau, negeri ini sudah sangat dipenuhi oleh penguasa sehingga yang diperlukan bukan seorang penguasa baru, melainkan melainkan seorang pemimpin.

Lanjutkan membaca Bagian 2
Baca dan unduh kedua bagian dalam format PDF:
Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?