Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

30 Juni 2013

Mempertanyakan Proses Suksesi: Akan Menuju ke Mana?

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Hadiah paling bernilai yang terima pada saat pernikahan saya akhir tahun lalu adalah sebuah buku. Itu karena buku tersebut ditulis dan dihadiahkan sendiri oleh penulisnya, yang juga adalah sahabat saya, seorang guru besar FMIPA sebuah universitas terkemuka. Karena berbagai kesibukan, saya baru sempat kembali membaca buku tersebut. Meskipun judulnya 'Ekologi Tumbuhan', buku tersebut juga mencakup bab-bab yang menurut saya lebih cocok sebagai bagian dari buku ekologi umum. Tapi sahabat saya pasti mempunyai pertimbangan lain, mengapa memasukkan bab-bab ekologi umum tersebut ke dalam buku ekologi tumbuhan. Bagi saya, bagian yang cukup menarik adalah dari buku tersebut adalah bab mengenai suksesi. Setidak-tidaknya, bab ini menarik bagi saya dalam kaitan dengan minat saya pada bidang ekologi dan dalam kaitan dengan penggunaannya dalam bidang lain. Kita semua tahu, kata suksesi begitu jamak diucapkan orang akhir-akhir ini, terutama di kalangan politisi, sehingga jangan-jangan orang mengira bahwa istilah ini berasal dari ilmu politik daripada dari ekologi.

Suksesi dibahas dengan menggunakan, sebagaimana disebut oleh penulisnya, pendekatan lama dan pendekatan baru. Penulis buku menyatakan, berdasarkan pendekatan lama, suksesi merupakan proses yang progresif dan dapat diperkirakan, terdiri atas sejumlah fase, dan dari kondisi awal habitat yang berbeda dapat berakhir pada kondisi klimaks yang sama. Suksesi dengan pendekatan ini adalah suksesi sebagaimana digagas oleh F.E. Clements dengan berdasarkan ide awal yang dibangun oleh pendahulunya, H.S. Cowles, pada awal abad ke-19. Menurut Clements:
The developmental study of vegetation necessarily rests upon the assumption that the unit or climax formation is an organic entity. As an organism the formation arises, grows, matures, and dies… Furthermore, each climax formation is able to reproduce itself, repeating with essential fidelity its development.
Saya kurang dapat menangkap apa yang dimaksud penulis buku dengan pendekatan baru. Saya hanya bisa menebak, mungkin yang dimaksud adalah suksesi sebagaimana digagas oleh H. Gleason sebagai tanggapan terhadap gagasan Clements, yang bukti-bukti empiriknya kemudian diberikan oleh R. Witthaker. Saya katakan hanya bisa menebak, sebab meskipun Gleason dan Witthaker adalah tokoh sentral dalam konsep suksesi, penulis buku tidak menyebut kedua nama tersebut dalam bukunya. Menurut Gleason, suksesi merupakan proses kebetulan yang ditentukan oleh kemampuan bersaing individu:
An association [yang dihasilkan melalui proses suksesi] is not an organism, scarcely even a vegetational unit, but merely a coincidence.
Gleason mengaitkan konsep suksesi dengan teori evolusi Darwin yang berbasis pada individual fitness untuk bersaing, yaitu kemampuan untuk menghasilkan keturunan yang produktif (dapat menghasilkan keturunan berikutnya) guna memenangkan persaingan.

Dalam ekologi, konsep suksesi berkaitan dengan apa yang disebut sebagai guncangan (disturbance), yaitu penyimpangan temporal dari kondisi rata-rata lingkungan yang menyebabkan perubahan yang nyata dalam ekosistem. Guncangan dapat bersifat alami, misalnya kebakaran, banjir, angin topan, dsb., atau buatan, seperti misalnya pembalakan hutan, penggenangan oleh bendungan, dsb. Menurut Connell dan Slatyer, melalui artikel berjudul 'Mechanisms of succession in natural communities and their role in community stability and organization' pada jurnal The American Naturalist yang terbit Desember 1977, suksesi bergantung pada guncangan yang menyebabkan terjadinya proses suksesi, dan mengajukan tiga model suksesi, yaitu fasilitasi, toleransi, dan inhibisi, berdasarkan atas teori sejarah kehidupan individu-individu spesies dalam komunitas yang mengalami guncangan. Model yang diajukan oleh keduanya kemudian dikenal sebagai model suksesi ekologis Conell-Slatyer. Dalam model fasilitasi, individu spesies yang mengkolonisasi pada awal guncangan memperbaiki kondisi lingkungan sehingga kemudian memungkinkan individu spesies lain untuk mengkolonisasi. Pada model tolerasi, individu spesies yang mengkolonisasi pada awal guncangan tidak memfasilitasi maupun menginhibisi, melainkan berko-eksistensi dengan individu spesies yang telahb ada pada saat guncangan maupun yang mengkolonisasi kemudian. Pada model inhibisi, individu spesies yang mengkolonisasi pada awal guncangan menginhibisi individu spesies yang telah ada pada saat terjadi guncangan maupun yang mengkolonisasi kemudian. Sekali lagi, penulis buku tidak menyinggung sedikit pun mengenai model suksesi ekologis Conell-Slatyer ini.

Begitulah maka saya memperoleh pelajaran berharga ketika pada 2000 mendapat kehormatan mendampingi Prof. Andrew P. Vayda, seorang guru besar ekologi manusia terkemuka, pencetus metode kontekstualisasi progresif (progressive contextualization), melakukan penelitian mengenai kebakaran di Timor Barat, dengan lokasi penelitian di Desa Bipolo, di mana terletak kawasan hutan lindung Bipolo, dan Desa Nenas, di dalam wilayah Cagar Alam (CA) Gunung Mutis. Menurut masyarakat Bipolo, kawasan hutan lindung Bipolo ada sampai sekarang karena mereka melindungi dari kebakaran, sedangkan menurut masyarakat Nenas, hutan ampupu yang mendominasi kawasan CA Gunung Mutis dapat bertahan sampai sekarang karena masyarakat setempat secara turun temurun melindunginya dari kebakaran. Sebagai pakar ekologi manusia, Prof. Vayda tentunya harus pusa mendapat jawaban bahwa masyarakat melindungi hutan dari kebakaran karena kearifan lokal yang mereka miliki, dengan membuat sekat bakar, yang disebut 'sako' atau 'siko' di sekeliling lokasi pembakaran, untuk mencegah api meluas ke lokasi di sekitarnya. Tapi ternyata Prof. Vayda tidak puas hanya dengan penjelasan kearifan lokal, sebab menurutnya, kearifan lokal hanya berbeda tipis dengan ketidakpedulian lokal (local ignorance). Menurut beliau, klaim masyarakat bahwa kearifan lokal untuk mencegah kebakaranlah yang menyebabkan ampupu menjadi dominan di kawasan CA Gunung Mutis kemungkinan hanyalah sebuah klaim tidak beralasan. Dengan menggunakan teori suksesi Vayda menjelaskan bahwa kebakaranlah yang justeru memfasilitasi ampupu menjadi dominan. Tanpa kebakaran maka hutan ampupu mungkin tidak sedominan sekarang, katanya.

Kawasan CA Gunung Mutis, sumber: bekamsteriljakarta
Persoalannya, bagaimana Vayda bisa begitu yakin bahwa kebakaranlah yang sebenarnya memfasilitasi ampupu menjadi spesies dominan di CA Gunung Mutis? Vayda menjalskan bahwa pada ketinggian 1.000-2.400 m di kawasan tropik, tipe hutan biasanya adalah hutan pegunungan atas yang didominasi oleh pohon berdaun jarum (kelas ukuran daun mikrofil). Maka, kami dimintanya untuk mencari pohon jamuju (Dacrycarpus imbricatus) dan cantigi gunung (Vaccinium varingiaefolium). Kami pun harus menjalajah kawasan yang banyak berbukit batu menjulang dan berlereng terjal untuk menemukannya. Dan rupanya kami masih beruntung, kami menemukan jenis-jenis pohon dimaksud. Menurut Vayda, kalau pun kami tidak menemukannya, masih terdapat cara lain untuk memastikan, yaitu metode radiokarbon. Sebelumnya saya sudah pernah membaca, pada 1958 Olson menggunakan metode yang sama untuk menunjukkan bahwa suksesi gundukan pasir di tepi danau Michigan berakhir dengan hutan beech-mapple, sebagaimana dihipotesiskan oleh Cowles, adalah salah.
Kabut menyelimuti hutan ampupu,
sumber: bekamsteriljakarta
Karena itu, ketika kemudian kawasan hutan CA Gunung Mutis dan kawasan hutan lindung di sekitarnya mengalami kebakaran hebat pada November 2006 -yang membuat kalangan media massa, media massa nasional, LSM, dan pakar ekologi menjadi panik- saya, yang belajar ekologi langsung di hutan, tenang-tenang saja. Mungkin kearifan lokal membuat sekat bakar sudah tidak lagi mumpuni, atau sekedar akal-akalan sebagaimana saya temukan di Desa Bipolo, di mana peladang membuat sekat bakar hanya selebar 1-2 m. Akibatnya, pada saat berkobar pada tumpukan savana bambu, api dengan mudah melewati sekat untuk membakar kawasan HTI di sebelahnya. Masyarakat yang melakukan pembakaran untuk membuka lahan perladangan tidak dapat dipersalahkan secara adat, sebab mereka telah membuat sekat bakar. Dengan begitu, mereka bisa mengklaim kembali lahan yang sebelumnya diambil alih oleh perusahaan HTI.

Tapi konsep mengenai suksesi tidak hanya merupakan monopoli ekologi. Konsep suksesi juga menjadi bagian dari ilmu politik dan ilmu manajemen. Dalam kedua bidang ilmu ini, suksesi dapat berarti pergantian kepemimpinan, baik kepemimpinan negara, partai politik, organisasi pemerintahan, maupun perusahaan. Dalam konteks ini dikenal suksesi model kerajaan, model keagamaan, dan model republik. Pada model pertama, suksesi kepemimpinan diwariskan berdasarkan keturunan, pada model kedua berdasarkan wahyu, dan pada model ketiga berdasarkan peraturan perundang-undangan. Pada dasarnya, suksesi kemepimpinan diperlukan untuk melahirkan pemimpin terbaik. Pada model pertama, pemimpin terbaik diharapkan terlehir dari keluarga yang telah menunjukkan kualitas kepemimpinan terbaik pada jaman sebelumnya. Pada model kedua, pemimpin terbaik adalah pemimpin yang dikehendaki oleh Tuhan. Dan pada model ketiga, pemimpin terbaik ditentukan melalui proses yang diatur undang-undang dengan memberikan kesempatan kepada rakyat untuk memilih. Pertanyaannya kemudian adalah apakah pemimpin yang dihasilkan memang benar-benar dapat menjadi pemimpin terbaik? Dalam kaitan dengan suksesi ekologis, pertanyaannya menjadi, misalnya, model suksesi mana yang akan menghasilkan ekosistem dengan keanekaragaman spesies maksimum?


Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dalam ekologi kemudian muncul apa yang dikenal sebagai hipotesis guncangan sedang (Intermediate Disturbance Hypothesis, IDH), sebagaimana digagas oleh D.M. Wilkinson melalui artikelnya yang berjudul 'The disturbing history of intermediate disturbance' yang dimuat pada jurnal ekologi Oikos pada 1999. Menurut hipotesis ini, keanekaragaman spesies lokal akan menjadi maksimum bila guncangan terjadi tidak terlalu jarang dan juga tidak terlalu jarang, tidak terlalu ringan dan juga tidak terlalu berat, melainkan sedang-sedang saja sehingga spesies-spesies berstrategi r dan spesies-spesies berstrategi K dapat saling berko-eksistensi. Hipotesis ini didasarkan pada tiga premis, yaitu guncangan berpengaruh besar terhadap kekayaan spesies dalam wilayah terjadinya guncangan, kompetisi antar spesies menggiring spesies lain ke arah kepunahan dan spesies tertentu menjadi dominan, dan guncangan sedang tidak menyebabkan terjadinya persaingan bebas antar spesies. Hasil sejumlah penelitian yang dilakukan untuk menguji hipotesis ini memang sampai sekarang belum konklusif. Meskipun demikian, hipotesis ini mungkin juga dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa suksesi kepemimpinan tidak selalu menghasilkan pemimpin terbaik.

Ambil sekedar sebagai contoh kepemimpinan di universitas yang oleh kepemimpinan sekarang dideklarasikan sebagai universitas berwawasan global. Dalam rangka mewujudkan wawasan global tersebut, gedung rektorat dipindahkan dari tengah-tengah kampus menjadi mejeng di pinggir jalam raya setelah sebelumnya, di sebelahnya,dibangun gerbang yang mengusung bola dunia tapi dengan poros tegak lurus. Sebagai universitas di negara republik, tentu saja pimpinan universitas ditentukan melalui pemilihan. Hanya saja, meskipun kalangan perguruan tinggi memotori lahirnya paradigma pemilihan langsung, universitas tetap mempertahankan pemilihan melalui perwakilan. Lebih ironis lagi, ketika setelah perguruan tinggi memotori lahirnya parlemen yang terpisah dari kekuasaan eksekutif, badan perwakilan di kalangan perguruan tinggi tetap bercampur-aduk dengan pihak kekuasaan eksekutif. Lihat saja, siapa yang menjadi anggota badan perwakilan di perguruan tinggi, yang disebut senat itu. Rektor, pembantu rektor (4 orang), para dekan fakultas, dan para ketua lembaga, semuanya berdasarkan jabatannya langsung menjadi anggota senat. Katanya, undang-undang mengatur begitu, tapi undang-undang bukan jatuh dari langit, melainkan dibuat manusia juga. Konsekuensinya, pimpinan yang sedang berkuasa akan dengan mudah mengendalikan agar suksesi kepemimpinan terjadi tanpa guncangan besar, melainkan guncangan sedang sehingga pimpinan yang sedang berkuasa dapat mengatur siapa yang akan meneruskan kepemimpinannya. Caranya? Apalagi kalau bukan dengan mendirikan fakultas baru dan lembaga baru sehingga dapat mengatur pemilihan dekan fakultas dan mengangkat ketua lembaga yang dapat dititipi suara untuk memilih calon penggantinya.

Tapi pemimpin yang sedang berkuasa seharusnya juga belajar dari sejarah bagaimana ia memperoleh kekuasaannya. Ia memperoleh kekuasaan melalui mekanisme pemilihan yang diatur oleh pimpinan pendahulunya, tetapi setelah berkuasa melupakan proses suksesi yang menghantarkannya menjadi penguasa. Bukan tidak mungkin proses yang sama juga akan terulang kembali, penguasa yang diatur untuk menggantikannya, setelah berkuasa kelak, juga akan mencampakkan penguasa yang mengatur sekarang. Dalam konteks ini, penguasa yang mengatur pimpinan penggantinya seharusnya mempelajari proses suksesi menurut Gleason, bahwa spesies dominan tidak selalu difasilitasi oleh spesies pendahulunya, melainkan spesies yang menjadi dominan secara alami saja. Kalau saja penguasa yang sedang berkuasa menyadari ini, dan membiarkan suksesi kepemimpinan berlangsung apa adanya, mungkin ia tidak akan didepak setelah tidak lagi menjadi penguasa. Tapi kalau dia sudah merasa tidak perlu belajar dari sejarah tampilnya dirinya sebagai penguasa, dan juga tidak perlu mempelajari teori suksesi ekologis modern, melainkan merasa aman setelah memfasilitasi penggantinya, maka jangan salahkan siapa-siapa, kalau kelak dia berakhir sama dengan penguasa sebelumnya.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyampaikan sekali lagi, bahwa buku Ekologi Tumbuhan adalah hadiah paling bernilai yang saya terima. Saya sangat berterima kasih kepada seorang sahabat yang telah begitu berbaik hati telah memberikan hadiah buku yang ditulisnya sendiri, dengan tandatangan dan pesan agar saya menggunakannya sebagai referensi. Tapi,  lebih penting daripada sekedar menggunakannya sebagai referensi, sekarang sekarang saya tahu, bahwa menulis buku memang tidak mudah, apalagi buku teks untuk kalangan akademik semisal buku teks ekologi tumbuhan. Terlepas dari siapa pun yang menulis, entah seorang guru besar atau dosen minimalis seperti saya sendiri, kalau tidak berusaha cukup keras untuk mengikuti perkembangan, hasilnya hanya akan menghadirkan semakin banyak pembaca yang bukannya semakin mengerti, melainkan semakin bingung. Untung saja, dalam kebingungan saya masih punya Prof. Google untuk bertanya, yang menyarankan saya untuk lebih baik membaca tulisan Prof. Wikipedia. Kalau tidak, saya tidak akan bisa membuat tulisan ini. Sayang, Prof. Google dan Prof. Wikipedia bungkam, ketika saya mencoba bertanya, sudah sampai di mana orientasi global sudah dapat diwujudkan. Lebih-lebih ketika saya tanyakan pula, model proses suksesi apa yang diusung untuk menentukan rektor periode berikutnya.

Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?