Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

26 April 2014

Banjar Bungbungan 2: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Ketika sedang menjadi mahasiswa di Charles Darwin University, Darwin, Australia, saya sempat mengunjungi seorang teman, Paul Royce, yang berasal dari Kununurra, Australia Barat bagian Utara. Ia mengajak saya berkeliling di kawasan sekitar Kununurra, mengunjungi Bendungan Sungai Orb (Orb Diversion Dam), tetapi yang sangat menarik bagi saya adalah kunjungan ke beberapa kawasan permukiman orang Aborigine, penduduk asli Australia. Saya tertarik karena setiap kali mengunjungi pusat sebuah kawasan, saya disuguhi dengan catatan mengenai sejarah kawasan tersebut. Lalu saya pun teringat dengan kampung kelahiran saya, Banjar Bungbungan, di Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali. Menurut penuturan orang-orang tua yang pernah saya dapat pada masa kecil dahulu, penduduk Banjar Bungbungan sebagian besar berasal dari Desa Bungbungan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Untuk mengenang nama desa asal mereka, para pemukim awal kemudian menamakan tempat permukiman mereka Banjar Bungbungan. Tapi pada tahun berapa mereka pindah, berapa orang dan siapa-siapa saja mereka, bagaimana mereka pindah, saya tidak tahu.

Di sebuah pusat permukiman Aborigine saya menyimak paparan mengenai sejarah permukiman tersebut. Pada awal abad ke-18, orang kulit putih mengusir suku Aborigine dari permukiman tradisional mereka di kawasan Kimberley sekitar Kununurra dengan cara pembunuhan dan peracunan masal. Pada 1901, pemerintah mendirikan depot pembagian jatah dan dua dasawarsa kemudian mendirikan apa yang disebut pusat asimilasi. Kemudian pemerintah mengangkat pejabat yang disebut Pelindung Suku Aborigine (The Chief Protector of Aborigines), yang bukunnya melindungi tetapi malah mengambil alih semakin banyak lahan permukiman suku Aborigin. Alasan yang dikemukakan oleh Pelindung Suku Aborigine adalah untuk `establishing the stations was to pacify the natives and accustom them to white man's ways and thus enable further settlement' (mendirikan stasiun untuk menghentikan perlawanan suku Aborigine dan membiasakan mereka dengan cara hidup orang-orang kulit putih agar pemerintah dapat membangun pusat permukiman lain). Untuk memaksa orang-orang Aborigine pindah ke pusat-pusat permukiman baru yang telah didirikan pada 1926 dan 1935, pemerintah menggunakan kekuasaan untuk menghentikan bantuan jatah makanan kepada yang menolak dan menggunakan polisi untuk memaksa dengan ancaman senjata. Bukan hanya itu, juga tersedia brosur yang memaparkan sejarah secara rinci dan foto-foto peristiwa sejarah yang dijaga dengan rapi.

Ketika masih seorang siswa SD, saya teringat pernah melihat sebuah papan di balai banjar berisi daftar nama orang tua warga banjar. Setiap nama diawali dengan 'pan', kependekan dari 'bapan', yang berarti ayah dari. Orang-orang di kampung saya, dan di Bali pada umumnya, dahulu biasa menyebut nama seseorang dengan sebutan 'pan anu', di mana anu adalah nama anak pertama. Bila anak pertama bernama I Wayan Lodra maka orang tuanya akan dipanggil Pan Lodra. Papan daftar nama tersebut digeletakkan begitu saja di balai banjar, padahal sebenarnya mempunyai nilai sejarah yang sangat penting. Pun balai banjar yang ada sekarang, juga mempunyai nilai sejarah yang tidak kalah penting. Menurut cerita beberapa orang tua, balai banjar tersebut dibangun pada 1966/1967 dengan mempekerjakan tanpa upah orang-orang yang disebut sebagai PKI. Pun kayu yang digunakan untuk membangun balai banjar tersebut merupakan kayu dari pohon yang sudah sangat langka sekarang, yaitu kwanitan (Dysoxylum cyrtobotryum Miq.), yang diambil paksa dari rumah orang-orang yang disebut sebagai PKI. Pasca peristiwa G-30-S/PKI, rumah-rumah orang-orang yang disebut PKI di kampung saya dibakar dan harta bendanya dirampas begitu saja, bahkan banyak pemiliknya diculik dan dibantai, tanpa pengadilan untuk menentukan apa kesalahan mereka.

Saya juga pernah mendapat cerita dari beberapa orang tua bahwa pusat permukiman banjar yang sekarang berada di punggung perbukitan menanjang arah Utara-Selatan pada awalnya berada di lereng di sebelah Barat dari lokasi balai banjar sekarang, dari perempatan menuju ke arah sungai di bagian Barat wilayah banjar. Lokasi permukiman lama tersebut dipilih oleh para pemukim awal mungkin karena dekat dengan sungai. Ada banyak versi cerita yang saya dapat mengenai pemindahan lokasi permukiman tersebut, di antaranya ada yang menyatakan bahwa lokasi lama rawan mengalami longsor. Tetapi ada juga yang menyatakan bahwa pemindahan dilakukan karena kepentingan sejumlah elit yang memperoleh keuntungan dari pemindahan lokasi permukiman tersebut. Di lokasi permukiman sekarang, setiap rumah tangga pemukim awal memperoleh lahan permukiman yang disebut 'karang desa' (pekarangan). Secara tradisional, karang desa tersebut pada dasarnya bukan milik pribadi, melainkan milik banjar yang diberikan kepada rumah tangga yang menjadi anggota banjar.

Seiring dengan perkembangan jumlah penduduk, kemudian rumah tangga anak-anak dari para pemukim awal yang tetap bermukim sebagai anggota banjar menjadi tidak mempunyai karang desa. Mungkin atas dasar pertimbangan tersebut, pada akhir 1970an, lahan di sebelah bawah lokasi kuburan ('sema' atau 'setra'), diubah menjadi lokasi permukiman baru. Saya tidak tahu persis tahun berapa, tetapi ketika itu saya masih bersekolah SMA di Negara dan kemudian di Dompu, Sumbawa (1976-1979, perubahan tahun ajaran). Perubahan tersebut menghasilkan lokasi permukiman bari di pinggir sungai yang ada sekarang. Sebelumnya, pada 1967/1968, pekarangan yang ditempati oleh keluarga yang dicap sebagai PKI diambil oleh banjar, dan beberapa tahun kemudian dikembalikan tetapi dibagi dua, sebagian diberikan kepada kepala keluarga baru keturunan dari orang-orang yang tidak dicap sebagai PKI. Dengan demikian luas karang desa yang sekarang ada menjadi tidak seragam. Selain itu ada juga karang desa yang dibagi secara sukarela bila satu keluarga mempunyai lebih dari satu anak laki-laki yang masing-masing berstatus sebagai warga banjar.

Seiring dengan berdirinya banjar juga didirikan pura, yaitu Pura Dalem dan Prajapati, Pura Bale Agung dan Puseh, dan Pura yang sekarang disebut Puncak Sari. Tidak ada yang tahun kapan pura-pura tersebut didirikan. Di lokasi Pura Bale Agung dan Puseh sekarang sebelumnya hanya ada Pura Puseh. Pura Dalem yang berlokasi di batas Selatan kawasan banjar pada mulanya terdiiri atas tiga bagian, yaitu jaba sisi, jaba tengah, dan jeroan, demikian juga dengan kedua pura lainnya. Di jaba sisi pura Dalem dahulu terdapat satu batang pohon cemara (), sedangkan di sepanjang pagar Pura Puseh yang berbatasan dengan jalan raya terdapat deretan pohon kamboja ('jepun bali'), yang ketika saya masih bersekolah SD, pohonnya sudah sangat tua dan berukuran sangat besar. Pura yang sekarang disebut Puncak Sari dahulu disebut Ulun Suwi, tetapi saya tidak mengerti mengapa nama awal tersebut kemudian diubah dan tidak ingat tahun berapa perubahan tersebut terjadi. Yang saya ingat, setiap pura dahulu mempunyai lahan yang disebut 'bukti', yang ditanami dengan tanaman kopi dan hasilnya digunakan untuk membiayai keperluan pemeliharaan dan upacara pura (piodalan). Saya tidak tahu, apakah lahan bukti tersebut sekarang masih ada atau tidak.

Setiap rumah tangga pemukim awal memperoleh lahan tegalan (disebut 'tegal') seluas 2 hektar. Menurut cerita kakek saya, lokasi tegal mula-mula dibuka dengan cara menebang dan kemudian memotong pohon yang telah tumbang dan membakarnya setelah kering secara bersama-sama. Peralatan yang digunakan adalah peralatan sederhana seperti kampak besar ('kandik'), parang ('belakas'), dan arit besar ('caluk'). Setelah dibuka, kemudian dilakukan pengukuran oleh petugas untuk selanjutnya dilakukan pembagian lokasi tegal kepada setiap rumah tangga dengan cara diundi. Masih menurut cerita kakek saya, tegal milik setiap rumah tangga tersebut mula-mula ditanami dengan padi ladang dan palawija, sebelum kemudian ditanami kopi robusta. Karena harga hasil kopi robusta yang tidak terlalu menguntungkan petani, pada awal 1970-an, menjelang saya tamat SD pada 1972, orang-orang mulai menanam cengkeh. Saya masih ingat, ketika duduk di kelas 5 SD, diajak oleh nenek untuk meminta buah cengkeh dari seorang kerabat di Bunut Bolong, kawasan Desa Asah Duren, Kecamatan Pekutatan. Ketika harga hasil cengkeh kemudian juga jatuh karena kebijakan monopoli, pada awal 1980-an orang-orang mulai beralih menanam vanili. Saya sempat membantu adik-adik saya melakukan penyerbukan bunga vanili ketika saya masih kuliah di Universitas Mataram, sebelum tamat kuliah pada 1984. Pada 1985, ketika saya sudah bekerja di Kupang, terjadi ledakan kutu loncat yang menghancurkan tanaman lamtoro yang digunakan sebagai panjatan vanili sehingga kemudian orang-orang mulai menanam kakao yang ada sekarang.

Kakek saya juga bercerita bahwa di belakang setiap tegal ke arah sungai di bagian Barat dan Timur kawasan permukiman terdapat kawasan yang belum dibuka, yang disebut 'telajakan'. Kata kakek saya pula, telajakan itu baru akan boleh dibuka oleh pemilik tegal di depannya sesudah seluruh areal tegal ditanami dengan tanaman umur panjang (tanaman tahunan). Tapi entah mengapa, pada awal 1960-an kawasan telajakan tersebut kemudian dibuka oleh bukan pemilik tegal di depannya. Bahkan sebagian kawasan telajakan dibuka bukan oleh warga banjar, melainkan oleh warga Desa Yehembang dari banjar lain. Telajakan tersebut dibuka dengan cara yang sama ketika sebelumnya membuka kawasan tegal dan juga mula-mula ditanami padi ladang. Saya masih ingat pada 1963, ketika terjadi letusan Gunung Agung, kakek menggendong saya pulang dari lokasi menanam padi ladang di telajakan karena siang tiba-tiba menjadi gelap gulita. Ketika itu rumah keluarga saya masih bberada di dalam tegal, belum di pekarangan seperti sekarang. Saya diajak ke lokasi menanam padi ladang untuk membantu menyiang gulma (disebut 'majukut'). Tangan saya dipenuhi oleh getah karena gulma dominan adalah gulma Euphorbia yang bergetah banyak.

Sebelum kawasan permukiman sekarang memperoleh air bersih dari jaringan perpipaan, penduduk mandi, mencuci, dan mengambil air minum di sungai. Sekembali dari sungai, para ibu dan anak gadis biasanya membawa air dalam 'jun', 'blek', dan kemudian ember plastik yang diusung di kepala. Para bapak biasanya membawa kayu bakar, ada juga yang membawa batu sungai yang digunakan untuk membangun rumah. Anak-anak biasanya hanya membantu, ada yang membawa cucian, kayu bakar, atau batu sungai pada saat pulang. Mandi di sungai dilakukan di lokasi-lokasi tertentu, biasanya di bagian hulu untuk para laki-laki dan di bagian hilir untuk para perempuan. Orang mandi dengan bertelanjang, sebelum membersihkan badan didahului dengan berendam (disebut 'mememan'). Anak-anak biasanya belajar berenang di bagian sungai yang airnya dalam (disebut 'bebengan'), ada juga yang menangkap ikan-ikan kecil seperti 'nyalian' dan 'uceng', udang, dan kepiting sungai. Saya juga sering memancing ikan dan udang, pernah juga memungut ikan dan udang ketika ada orang menebar racun ke air sungai (disebut 'nuba'). Di bagian 'bebengan' terdapat ikan berukuran besar yang disebut 'be julit', yang biasanya ditangkap dengan menggunakan pancing oleh laki-laki dewasa.

Ketika itu sungai yang berada di bagian Barat dan tengah wilayah banjar berair besar sepanjang tahun. Hanya pada tahun-tahun tertentu, ketika terjadi kemarau sangat panjang, air sungai menjadi berkurang. Tapi itu dahulu, sebelum setelah reformasi kawasan hutan lindung di sebelah Utara wilayah banjar dibabat untuk dijadikan tempat bercocok tanam secara ilegal, yang oleh penduduk setempat disebut 'awen'. Pembalakan hutan lindung menjadi semakin merajalela ketika jalan jalan tanah yang tidak dapat dilalui kendaraan roda empat dari ujung jalan aspal di batas Utara kawasan permukiman menuju kawasan hutan dibeton oleh pemerintah kabupaten menjelang pemilihan bupati pada 2005. Di mana-mana, kalau jalan yang dapat dilakui kendaraan roda empat dibuka menuju ke kawasan hutan, pembalakan hutan pasti hanya soal menunggu waktu. Pemerintah kabupaten seharusnya mengetahui itu, tetapi karena kepentingan bupati incumbent untuk kembali terpilih menjadi bupati periode kedua, apapun dilakukan. Para pengawen menjadi semakin makmur dan sebagai wujud terima kasih maka tidak mengherankan bila bupati incumbent pun terpilih kembali. Tetapi sesudah itu, kawasan permukiman menjadi sangat panas dan sungai-sungai pun menjadi berair sangat kecil pada musim kemarau. Dan pada musim hujan, sungai-sungai menjadi banjir dan tanah longsor terjadi di mana-mana.

Saya terhenjak dari lamunan panjang saya. Ketika sesudah menyelesaikan sekolah saya pulang kampung dan menanyakan beberapa hal untuk pendalaman, tidak banyak orang yang tahu. Para orang tua yang pernah terlibat dalam pembukaan lahan sebagai pemukim awal tinggal hanya beberapa orang, sebagian besar sudah meninggal dunia. Dan ironisnya tidak ada generasi penerus yang berusaha mencatat berbagai perubahan yang terjadi di Banjar Bungbungan, sejak banjar tersebut berdiri sampai sekarang. Teman-teman SD seangkatan saya hampir seluruhnya bermukim di luar sepertinya juga tidak ada yang peduli. Apalagi generasi muda sekarang, yang lebih suka menulis status keluh kesah di Facebook daripada menulis mengenai sesuatu yang pernah mereka alami di kampung kelahiran mereka. Sejarah Banjar Bungbungan sepertinya akan pelan-pelan sirna ditelan zaman karena tidak ada yang mencatat. Padahal, Soekarno, proklamator dan presiden pertama negeri ini, menyampaikan pidato kenegaraan terakhir pada 17 Agustus 1966 dengan judul 'Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah' yang oleh kalangan mahasiswa demonstran pro-Soeharto ketika itu disingkat menjadi Jasmerah, mungkin dengan maksud mendiskreditkan Soekarno.

Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?