Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

18 April 2014

Banjar Bungbungan 1: Catatan Kecil tentang Begitu Banyak Perubahan Besar

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Bungbungan yang saya maksud di sini adalah nama sebuah banjar dan sekalihus juga sebuah desa pakraman di desa dinas Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali. Secara geografik, banjar ini berlokasi di bagian Utara wilayah desa dinas Yehembang, berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung. Saya dilahirkan di banjar ini pada 1959, dari ibu dan ayah kelahiran Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Bali. Ibu mengikuti kedua orang tuanya, kakek dan nenek saya, asal Desa Aan, pindah mengikuti sekitar 40-an kepala keluarga asal Desa Bungbungan, kecamatan dan kabupaten yang sama, ke wilayah Kabupaten Jembrana pada awal tahun 1920-an. Kakek saya menikah dengan nenek yang berasal dari Desa Bungbungan sehingga bisa mengikuti warga asal desa tersebut. Banjar dan desa pakraman baru yang menjadi tempat permukiman warga asal Desa Bungbungan tersebut diberi nama yang sama, Bungbungan, untuk mengenang desa asal mereka.

Saya dibesarkan di banjar tersebut sampai menyelesaikan pendidikan di sebuah sekolah dasar yang pada saat itu bernama SD Bungbungan, berlokasi di banjar Kaleran kurang lebih 3 km ke arah selatan dari perkampungan. Untuk ke sekolah, setiap hari saya dan teman-teman, antara lain I Wayan Dasi, I Nyoman Tunas Ginata, I Made Mudarsana, I Nyoman Waryana, Sang Putu Ruji, Sang Ayu Putu Merta, dan Ni Nyoman Sunandri, berjalan kaki pulang menempuh jalan yang berdebu pada musim kemarau dan berlumpur pada musim hujan. Di wilayah Banjar Kaleran kami melalui jalan yang lengang sebab warganya bermukim saling berjauhan, berbeda dengan warga banjar Bungbungan yang bermukim di kawasan pekarangan yang saling berdekatan. Kami biasanya berjalan bersama-sama karena takut terhadap gerombolan kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang sering menghadang di sekitar kawasan pura yang pada saat itu disebut Pura Gebang. Di sepanjang jalan kami sering memetik buah-buahan seperti berbagai jenis mangga (Mangifera spp., terutama M. indica dan M. odorata), sentul (Sandoricum koetjape), jambu bol (Syzygium malaccense), sirsak (Annona muricata), buni (Antidesma bunius), nenas (Ananas comosus). Kami memetik buah-buahan tersebut karena haus dan lapar. Meskipun begitu, warga Banjar Kaleran melaporkan kami sehingga kepala sekolah, I Gusti Made Dela, menyebut kami 'bojog bungbungan' (kera dari banjar Bungbungan) dan menghukum kami berlari mengelilingi lapangan sekolah.

Kami sebenarnya tidak perlu mengambil buah-buahan tersebut kalau bukan karena haus dan lapar. Pada saat itu orang tua kami tidak mampu memberi kami bekal, baik makanan maupun uang. Kami tidak perlu mengambil buah-buahan dari tegalan orang lain karena berbagai jenis buah-buahan terdapat di pekarangan rumah kami. Ketika itu, rumah keluarga saya masih terletak di dalam kawasan tegalan, di sebelah Timur dari rumah sekarang. Di sekitar rumah saya terdapat banyak pohon mangga gandarasa (Mangifera indica) dan mangga pakel (M. odorata), wani (M. caesia), nangka (Artocarpus heterophyllus), durian (Durio zibethinus), salak bali (Salacca zalacca), sawo (Manilkara zapota), jeruk keprok (Citrus reticulata), pepaya (Carica papaya), dan nenas (Ananas comosus). Saya sering saling tukar buah dengan teman-teman saya yang berasal dari Banjar Kaleran, terutama dengan I Ketut Nita, I Komang Warjana, dan Waktra. Saya biasanya membawakan mereka buah jeruk keprok, sedangkan mereka biasanya membawakan saya mangga golek. Meskipun di sekitar rumah terdapat banyak pohon buah-buahan, kami tidak bisa menjual hasilnya ke pasar di pusat Desa Yehembang sebab ke pasar hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 7 km. Saking tidak bisa menjual, pisang yang seharusnya merupakan jenis buah-buahan dengan harga mahal, ketika itu justru dirajang untuk menjadi campuran nasi, yang lazim disebut 'nasi maoran'.

Tapi itu dahulu, ketika saya dan kawan-kawan bersekolah SD pada 1968-1972. Ketika itu tegalan di wilayah banjar masih ditanami kopi robusta (Coffea robusta) yang harganya tidak begitu menguntungkan petani. Kopi robusta ditanam dengan dadap (Erythrina subumbrans) sebagai pohon penaung, terutama dadap berduri ('dadap madui') dan beberapa dadap tidak berduri ('dadap lengis'). Pohon dadap tersebut secara berkala diserang oleh ulat daun berukuran kecil dalam jumlah sangat banyak sebelum kemudian berdaun kembali dan berbunga dengan warna merah menyala. Bunga pohon dadap tersebut sangat disukai oleh berbagai jenis burung penghisap nektar dan juga oleh kalong (Ptaeropus spp.) yang terbang bergerombol pada malam hari. Tapi itu dahulu, sebelum kemudian kopi robusta diganti dengan cengkeh (Syzygium aromaticum) pada awal 1970-an sehingga pohon dadap tidak diperlukan lagi sebagai pohon penanung. Kemudian pada awal 1980-an penduduk menanam vanili (Vanilla planifolia) dengan menggunakan lamtoro (Leucaena leucocephala) sebagai pohon tempat merambat. Ketika pada 1985 lamtoro dihancurkan oleh kutu loncat (Heteropsylla cubana), vanili pun hancur sehingga pada akhir 1980-an dan awal 1990-an penduduk beralih menanam kakao (Theobroma cacao).

Ketika masih bersekolah SD, saya sering mendengar cerita dari kakek, nenek, dan para orang tua-tua lainnya bahwa kawasan permukiman banjar Bungbungan tidak terletak pada lokasi sekarang, melainkan pada jalan ke arah Barat dari lokasi balai banjar, jalan menuju ke arah sungai yang membatasi wilayah banjar dengan wilayah banjar lain di sebelah Baratnya. Lokasi permukiman tersebut berada dekat dengan sungai sehingga lebih memudahkan penduduk mengambil air bersih dari sungai. Tetapi entah mengapa, lokasi permukiman kemudian dipindahkan ke lokasi sekarang, di sebelah Utara balai banjar di sepanjang punggung perbukitan yang mengarah Utara-Selatan. Sebelum pada 1980-an dibangun jaringan air bersih dengan mengambil air dari mata air si sungai batas Barat wilayah banjar, penduduk harus mengambil air bersih dengan cara memikul dari sumur-sumur yang dibuat di sungai-sungai kecil yang disebut 'paluh' di kawasan tegalan atau bahkan dari sungai yang berada di batas Barat dan bagian tengah wilayah banjar. Air bersih biasanya diambil oleh kaum ibu dan remaja perempuan dengan cara menjunjung wadah berupa 'jun', 'blek', dan kemudian ember plastik di atas kepala.

Saya juga mendapat cerita bahwa ketika penduduk baru sampai, mereka tidak medapatkan lahan yang sudah dibuka sebagaimana lokasi transmigrasi sekarang. Penduduk harus membuka lahan sendiri dengan menebang pohon-pohon besar dengan menggunakan kampak besar (disebut 'kandik') dan kemudian membakar batang dan cabang pohon yang bergelimpangan, sebelum kemudian mereka menanam padi ladang (disebut 'ngaga', padi ladang disebut 'padi gaga') untuk memperoleh bahan pangan. Lahan yang dibuka hanyalah lahan di sepanjang lereng kanan dan kiri perbukitan, sedangkan lahan yang bertebing curam di sepanjang kiri dan kanan aliran sungai dibiarkan tetap berhutan (disebut 'telajakan'). Tetapi entah mengapa, 'telajakan' tersebut kemudian juga dibuka pada tahun 1960-an, sebagian oleh warga dan sebagian lagi oleh orang dari banjar lain. Saya menyaksikan sendiri bagaimana penduduk membuka kawasan 'telajakan' tersebut dan kemudian menanaminya dengan padi ladang. Saya masih ingat ketika Gunung Agung meletus pada 1963, saya bersama kakek dan nenek sedang menyiangi padi 'gaga' di 'telajakan' yang dibuka oleh ayah. Dalam hujan abu yang menyebabkan siang menjadi gelap, kakek menggendong saya dengan berpayung daun pisang sambil membawa obor dari daun kelapa kering.

Kini Banjar Bungbungan tentu saja sudah sangat maju. Anak-anak tidak lagi harus berjalan kaki jauh untuk pergi ke sekolah. SD Bungbungan yang dahulu berada di Banjar Kaleran kini sudah berada di dalam kawasan permukiman banjar. Lagipula, jalan penghubung ke pusat Desa Yehembang yang dahulu merupakan jalan tanah berdebu pada musim kemarau dan berlumpur pada musim hujan kini sudah berubah menjadi jalan beraspal hotmix. Itu terjadi pada awal tahun 1980-an, ketika saya masih kuliah di Universitas Mataram, Mataram NTB. Pada waktu yang bersamaan listrik juga masuk, mula-mula dengan menggunakan genset yang dikelola oleh kelompok warga dan kemudian masuk melalui jaringan PLN. Anak-anak tidak lagi ke sekolah dengan berjalan kaki atau menumpang angkutan umum, melainkan dengan mengendarai motor pribadi. Orang-orang yang berkerja di luar, terutama di Denpasar, menggunakan motor atau mobil pribadi ketika pulang mudik pada saat 'piodalan' di pura kahyangan tiga atau pada saat hari raya keagamaan. Rumah-rumah yang dahulu berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, dan beratap alang-alang kini telah berubah menjadi rumah berlantai keramik, berdinding tembok dan beratap genteng. Bahkan beberapa rumah tangga sudah pula mempunyai mobil, bukan hanya mobil bak terbuka untuk mengangkut hasil bumi, melainkan juga mobil pribadi.


Lihat Banjar Bungbungan di peta yang lebih besar

Hanya saja, di tengah kemajuan tersebut, setiap kali pulang, saya merasa asing di kampung kelahiran sendiri. Setelah menamatkan kuliah di Mataram, saya bekerja provinsi lain, tetapi selalu menyempatkan diri pulang pada hari raya tertentu karena saya masih berstatus sebagai warga desa pakraman. Perubahan sangat terasa ketika saya pulang setelah menamatkan pendidikan S2 di McGill University, Montreal, Canada. Saya mungkin merupakan orang pertama dari banjar tersebut yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi lanjutan di luar negeri. Itu bukannya membuat saya senang, tetapi sebaliknya merasa semakin hilang di kampung kelahiran sendiri. Saya tidak bisa merasakan langsung perubahan begitu pesat yang terjadi di tempat kelahiran. Bukan hanya perubahan menuju modernitas, tetapi seiring dengan modernisasi, kawasan hutan lindung di sebelah Utara wilayah banjar hancur. Kehancuran kawasan hutan tersebut terjadi sebagai bagian dari kehancuran hampir di seluruh kawasan hutan lindung di wilayah Kabupaten Jembrana. Hal itu terjadi karena pembalakan oleh warga yang meskipun telah diberitakan gencar oleh media massa (1, 2), terus saja berlangsung, seolah-olah dibiarkan saja oleh pemerintah daerah, untuk apa lagi kalau bukan untuk kepentingan mempertahankan kekuasaan. Kerusakan kawasan hutan di bagian utara wilayah Desa Yehembang Kauh, Yehrmbang, dan Yehembang Kangin merupakan kerusakan terparah yang terjadi di seluruh wilayah Kabupaten Jembrana sebagaimana tampak pada hasil analisis citra satelit yang dilakukan oleh Hansen dkk. (2013).


Sudah menjadi rahasia umum bahwa pembalakan kawasan hutan lindung di wilayah Kabupaten Jembrana semakin menjadi-jadi terutama  menjelang pemilukada Bupati Jembrana tahun 2005, ketika bupati periode sebelumnya kembali maju sebagai incumbent. Untuk menggaet suara, bupati membuat proyek perkerasan jalan dengan beton dari jalan aspal di batas permukiman Banjar Bungbungan menuju batas kawasan hutan lindung dan kemudian mengelilingi wilayah banjar di sepanjang kawasan menyeberangi sungai di bagian tengah wilayah banjar. Dahulu kendaraan seperti truk hanya bisa masuk sampai di batas kawasan permukiman, kini bisa masuk sampai di batas kawasan hutan. Di mana-mana, kalau jalan raya sudah masuk ke dalam kawasan hutan maka kehancuran kawasan hanya soal menunggu waktu. Dan benar saja, bupati kembali terpilih untuk masa jabatan kedua dan kawasan hutan lindung pun menjadi semakin hancur. Warga Banjar Bungbungan dan banjar-banjar lainnya di sepanjang batas kawasan lindung memberikan suara kepada sang bupati yang mereka pandang telah sangat berjasa membangun jalan menuju kawasan hutan lindung sehingga memudahkan mereka mengangkut hasil bumi, hasil dari melakukan pembalakan hutan.

Pembalakan kawasan hutan lindung terjadi seakan-akan mengulang pembukaan hutan yang dahulu dilakukan para pemukim pertama untuk membuka wilayah banjar. Hanya saja, dahulu pembukaan hutan dilakukan dengan menggunakan peralatan seadanya, kini pembalakan dilakukan dengan menggunakan gergaji mesin rantai (chain saw). Warga menyebut kawasan hutan yang mereka balak tersebut dengan sebutan 'awen' dan membalak hutan mereka sebut 'mengawen'. Warga tidak perlu takut terhadap petugas karena mereka telah membayar upeti, baik berupa uang maupun hasil bumi. Seorang kerabat yang ikut 'mengawen' menuturkan bahwa pembalakan dilakukan secara terorganisasi yang memungkinkan dilakukan pemungutan iuran dari warga yang ikut membalak untuk membayar upeti kepada para petugas. Dengan adanya awen banyak warga memperoleh sumber pendapatan tambahan. Tetapi seiring dengan itu, cuaca menjadi semakin panas dan sungai-sungai banjir pada musim hujan dan mengering pada musim kemarau. Kawasan hutan yang dahulu merupakan tempat mencari buah kapundung (Baccaurea racemosa), buah katulampa (Elaeocarpus glaber), dan biji taep (Artocarpus elasticus) kini telah berubah menjadi areal tegalan baru untuk menanam pisang dan kakao.

Kebahagiaan materi telah membuat warga bukan hanya tidak perlu takut melanggar peraturan perundang-undangan, tetapi juga tidak takut melanggar ajaran agama Hindu yang mereka anut. Dalam mengejar kebahagiaan materi tersebut, warga melupakan 'tri hita karana', ajaran mengenai tiga penyebab kebahagiaan yang hanya dapat dicapai melalui menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan ('parhyangan'), dengan sesama manusia ('pawongan'), dan dengan alam sekitar ('palemahan'). Warga memang selalu giat memperbarui tempat ibadah dan melakukan berbagai upacara, bahkan tempat ibadah dan upacara yang semakin mewah seiring dengan bertambahnya kekayaan materi. Warga juga tetap rajin mengikuti berbagai kegiatan adat. Tetapi bersamaan dengan itu, warga sama sekali tidak merasa bersalah untuk merusak alam sekitar mereka sendiri dengan menghancurkan kawasan hutan lindung. Warga bahkan menggunakan hasil dari merusak alam tersebut untuk membangun tempat peribadatan, untuk melaksanakan upacara keagamaan. Ketika ada yang mengalami kecelakaan ketika 'mengawen', warga melakukan upacara butha yadnya, seakan-akan mereka ingin menyogok Tuhan sebagaimana yang mereka lakukan ketika tertangkap petugas.

Mungkin itu adalah bagian dari perubahan yang diperlukan untuk mencapai kemajuan materi yang kini dicapai oleh warga banjar. Ketika setelah disertasi S3 saya dinyatakan diterima di Charles Darwin University, Australia, saya pulang pada Hari Raya Nyepi 2014, saya menyaksikan banyak ironi dalam kehidupan warga banjar. Warga merayakan 'pangrupukan' pada akhir tahun menjelang Hari Raya Nyepi dengan upacara 'pacaruan tawur kesanga' untuk mengusir para buta kala dengan mengusung ogoh-ogoh berkeliling kawasan permukiman. Saya justru seperti melihat bahwa yang menjadi buta kala adalah warga sendiri, yang begitu bernafsu membalak kawasan hutan lindung untuk menjadikannya 'awen'. Saya justru melihat para anak muda pengusung ogoh-ogoh sebagai refleksi dari para buta kala yang pada suatu saat akan membalak kawasan hutan lebih luas lagi. Saya menulis disertasi mengenai tatakelola pemerintahan (governance) yang menghancurkan ketahanan hayati masyarakat (community biosecurity) di kawasan pegunungan Timor Barat, tetapi justru hanya dapat menyaksikan warga banjar tempat kelahiran saya sendiri menghancurkan ketahanan hayati mereka. Saya tidak dapat berbuat banyak karena setiap kali berbincang dengan warga, saya merasa mereka seperti memperingatkan agar saya tidak usah mengusik kehidupan mereka 'mengawen').

Warga yang tidak ikut 'mengawen' pun hanya bisa melihat tegalan mereka menjadi semakin kering. Sungai-sungai kecil yang disebut 'paluh' dan 'pangkung' sudah lama mengering. Warga mungkin tidak begitu terganggu dengan mengeringnya 'paluh' dan 'pangkung' ini sebab kini mereka memperoleh air bersih dari jaringan perpipaan. Tetapi sampai kapan? Sungai yang menjadi sumber air dari jaringan perpipaan itu pun kini sudah mulai semakin berkurang airnya. Dahulu, setelah turun hujan, sungai tidak seketika banjir. Air sungai akan meluap secara perlahan-lahan karena pepohonan menahan air hujan di kawasan hutan lindung. Kini, begitu hujan turun, sungai segera meluap dengan air berwarna coklat keruh, membawa lumpur dan potongan batang dan cabang pohon dari kawasan hutan lindung yang telah dibalak menjadi 'awen'. Tapi air hanya meluap beberapa jam saja, tidak seperti dahulu, air sungai tetap besar sampai berhari-hari setelah hujan turun. Banjir telah membuat kawasan permukiman baru yang berada di tebing sungai mengalami longsor, sebagaimana terjadi pada musim hujan 2010. Tetapi warga dan pemerintah kabupaten sepertinya tidak mempedulikan bahwa itu terjadi ulah warga sendiri. 'Mengawen' telah menciptakan orang-orang kaya baru yang dengan kekayaannya memperoleh status lebih tinggi di kalangan warga.

Dalam perjalanan kembali ke kota tempat saya bekerja, saya membayangkan banjar tempat kelahiran saya suatu saat mungkin akan menjadi sama dengan kawasan perladangan tebas bakar di Timor Barat. Tegalan akan berubah menjadi padang rumput karena cuaca yang semakin panas tidak memungkinkan tanaman pepohonan tumbuh sebagaimana sebelumnya. Cengkeh dan kakao yang sekarang masih mendominasi tegalam mungkin pada suatu saat nanti akan hanya tinggal kenangan. Kalaupun bukan karena cuaca yang semakin mengering, penggerek buah kakao (Conopomorpha charemerella) akan membuat kakao menjadi tidak ekonomis lagi sebagai sumber pendapatan tunai sehingga pohonnya menjadi kurang dipelihara. Demikian juga dengan cengkeh, penggerek batang akan semakin membuat pertumbuhannya semakin merana. Bahkan pisang, yang pada 1990-an pernah menjadi sumber pendapatan tunai, kini telah dihancurkan oleh penyakit layu fusarium. Dan juga, penyakit kerdil pisang (banana bunchy top) yang disebabkan oleh virus BBTV mungkin akan menjadikannya semakin tidak produktif. Dalam perjelanan kembali ke Kupang, saya tidak dapat berpaling dari perubahan besar-besaran telah terjadi di Banjar Bungbungan.

Lanjutkan membaca Banjar Bungbungan 2
Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?