Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

29 Juli 2014

Bambu: Potensi Pulau Timor yang Menunggu untuk Dikembangkan

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Ketertarikan saya pada tumbuhan keluarga rumput-rumptan ini sebenarnya bermula sangat awal, sejak pada masa kecil dahulu di kampung halaman di sebuah kampung miskin di Bali. Ketika itu, kakek saya membangun rumah kami dari bambu, mulai dari tiang, usuk, dan bahkan dindingnya pun dari anyaman bambu. Ibu saya, yang seorang tua tunggal karena ayah saya meninggal muda, juga sering memasak sayur rebung bambu. Ketika bersekolah di SD, kadang-kadang guru meminta kami mengambil air di sungai dengan menggunakan batang bambu besar sebagai wadah air, setelah beberapa bukunya dilubangi dengan meninggalkan buku paling bawah tetap utuh. Di kalangan masyarakat Bali, bambu yang terdiri atas banyak jenis itu, memang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Kami, anak-anak ketika itu, sering membantu orang tua menganyam peralatan sembahyang dari bambu dan bahkan membuat 'penjor', batang bambu yang dihias, pada hari-hari raya keagamaan.

Kemudian saya berkenalan lebih banyak lagi dengan bambu setelah saya bekerja di sebuah universitas di Kupang. Awalnya, saya hanya mendapat cerita dari Dr. Hendrik Ataupah, MA (sekarang alm.), mengenai bambu duri yang menghutan di banyak tempat di Pulau Timor. Beliau menceritakan bagaimana masyarakat membakar hutan bambu untuk membuka ladang baru. Ketika menceritakan itu saya pernah memprotes, mengapa harus dibakar begitu saja, bukankah batang bambu dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan? Seperti biasa beliau menjawab dengan santai, bahwa membakar untuk membuat ladang juga bagian dari upaya pemanfaatan hutan bambu. Tidak lupa beliau menambahkan bahwa kalaupun tidak dibakar, suatu ketika rumpun bambu akan mati serentak dengan sendirinya setelah berbunga. Suatu kali lain, beliau pernah mengajak saya melakukan penelitian agroekosistem, membuat transek melewati hutan bambu duri yang sangat padat, sehingga kami harus merayap untuk melewatinya. Saya pun tergugah untuk mempelajari bambu duri ini, yang nama ilmiah mutakhirnya adalah Bambusa blumeana.

Pada akhir tahun 1900-an, saya mendapat kesempatan meneliti mengenai prakiraan musim tradisional, membantu peneliti senior Prof. Andrew P. Vayda dari Rutgers University, AS. Kami, bersama dengan beberapa asisten peneliti lainnya, berkesempatan menyaksikan pembakaran hutan bambu, setelah terlebih dahulu batang-batang bambu ditebang. Api menyala membubung tinggi sambil mengeluarkan suara gemuruh dari ruas-ruas batang bambu mentah yang meledak ketika terbakar api. Bunga api betebangan ke angkasa sebelum kemudian jatuh pada kawasan di sekitarnya, melewati 'siko', yaitu tepi areal pembakaran yang sengaja dibersihkan untuk mencegah api menjalar ke luar. Kami pun mendapat kuliah lapangan langsung di tempat. Kata beliau, apa yang seakan-akan merupakan kearifan lokal bisa saja menjadi sekedar alasan untuk membela diri dari sanksi adat. Kelompok masyarakat pebuka ladang akan membela diri bahwa mereka telah membuat 'siko', apinya saja yang menjadi terlalu besar dan angin terlalu kuat sehingga api menjalar ke luar. Padahal, bagaimana lebar 'siko' yang tidak lebih dari 2 m dapat mencegah api menjalar ke luar, meski tanpa angin kencang sekalipun.

Kemudian, pada pertengahan 2000-an, saya mendapat kesempatan menjadi peneliti utama pada sebuah penelitian mengenai pemetaan flora di Timor Barat. Sebagai bagian dari pelaksanaan penelitian tersebut, saya berkeliling ke berbagai pelosok Timor Barat, menyusuri pesisir Utara melalui Barate, Manubelon, Naikliu, untuk kemudian tembus di Eban sebelum melanjutkan penjelajahan melalui Kefamenanu menuju Wini, kembali menusuri pesisir Utara, sebelum kemudian menyusuri perbatasan dengan Timor Leste. Dari Betun kami menyusuri kawasan pesisir Selatan, naik melalui Oenlasi kemudian turun kembali ke Kolbano, dan dari Kolbano kembali menyusuri pesisir Selatan sampai tembus di Oekabiti dan kembali melalui Oesao. Dalam penjelajahan itu berkali-kali kami melewati kawasan hutan bambu, beberapa kali juga bermalam di antara rumpun-rumpun bambu. Begitu pun, kami tidak melihat bambu dimanfaatkan sebagai bahan konstrksi rumah sebagaimana di banyak tempat lain. Kami menyaksikan pemanfaatan bambu sebatas sebagai bahan untuk membuat pagar kebun, untuk 'mengandangi tanaman'.

Kesempatan lain akhirnya saya peroleh untuk meneliti pemanfaatan bambu secara lebih mendalam ketika sebagai mahasiswa Charles Darwin University, saya diminta membantu seorang kawan sesama mahasiswa yang sedang melakukan penelitian mengenai sistem informasi geografik kawasan hutan di Kabupaten Kupang. Saya pun menjadi semakin terkaget-kaget, betapa luas sebenarnya kawasan hutan bambu yang ada. Dengan bantuan citra satelit, dapat ditentukan pada kawasan hutan mana bambu merupakan vegetasi yang dominan. Kami menghitung potensi batang bambu yang dapat dipanen dan seharusnya diolah untuk menghasilkan sesuatu yang mempunyai nilai tambah, selain sekedar dibakar dan digunakan sebagai bahan pagar. Mungkin benar bahwa kualitas batang bambu duri tidak sebagus kualitas batang bambu lainnya. Tetapi dengan teknologi pengolahan dan pengawetan yang memadai, bukan tidak mungkin batang bambu dengan kualitas lebih rendah pun dapat diubah menjadi bernilai ekonomis. Lagipula, yang terdapat di Timor Barat bukan hanya bambu duri, melainkan juga jenis-jenis bambu lainnya. Bambu hitam, yang nama ilmiahnya adalah Bambisa lako, merupakan bambu endemik Timor yang kualitas batangnya bagus.
Pada akhir tahun 2000-an saya kembali mendapat kesempatan untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan hutan, kali ini sebagai bagian dari studi kelayakan penetapan Taman Nasional Nino Konis Santana di Timor Leste. Kembali saya bertemu dengan kawasan hutan bambu duri. Pun kembali saya bertemu dengan bambu hitam dibudidayakan di banyak pekarangan di negara tetangga tersebut. Rupanya bambu duri dan bambu hitam rupanya merupakan identitas bersama seluruh wilayah pulau Timor. Tapi di negara tetangga Timor Leste pun kedua jenis bambu itu masih belum dimanfaatkan banyak. Kedua jenis bambu itu tentu saja seharusnya dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk kepentingan meningkatkan perekonomian masyarakat kedua negara. Memanfaatkannya lebih daripada sekedar membakarnya guna membuka ladang baru. Memanfaatkan batangnya lebih daripada sekedar sebagai pagar mati untuk melindungi tanaman dari ancaman serbuan ternak sapi dan jenis-jenis ternak lainnya.

Bambu sesungguhnya merupakan tumbuhan rumput-rumputan multiguna. Sebagai tumbuhan hidup, bambu dapat ditanam untuk tujuan konservasi dan rehabilitasi lahan. Bambu duri dapat ditanam sebagai pagar hidup, bukan hanya ditebang batangnya untuk membuat pagar mati yang setiap tahun harus diperbaiki. Bukan hanya itu, batang bambu merupakan bahan konstruksi yang seharusnya dapat digunakan untuk menggantikan kayu. Bahkan batang bambu dari jenis-jenis yang sesuai dapat diolah menjadi bahan atap rumah, bahan membuat mebel, dan bahkan bahan untuk membuat berbagai barang kerajinan seperti dinding bambu, keranjang bambu, dan mebel bambu. Pun bambu dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat barang-barang sederhana yang bernilai ekonomis semisal tusuk sate, tusuk gigi, dan sumpit.

Menganyam Dinding Bambu
Menganyam Bakul Bambu
Diskusi dengan Kades
Mebel Bambu
Konstruksi Bangunan Bambu
Arsitektur Rumah Bambu
Tapi mengapa itu semua tidak dilakukan? Apakah kualitas batang bambu duri sebegitu kurang memadai untuk menjadi bahan-bahan keperluan tersebut? Bila jawaban atas pertanyaan ini adalah ya maka menjadi tantangan bagi peneliti untuk mengembangkan teknologi pengolahan dan pengawetannya. Itu menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan bambu sebagai alternatif pengembangan sumber-sumber perekonomian rakyat, selain sekedar membabi buta mengembangkan jagung dan sapi.

Ketika saya dipercaya oleh pimpinan universitas untuk memimpin sebuah pusat penelitian, saya menanam beberapa jenis bambu di halaman belakang kantor. Tapi kini tinggal hanya satu jenis, bambu betung Dendrocalamus asper, yang masih bertahan. Menurut pegawai di pusat penelitian itu, beberapa kali ada orang yang meminta untuk menebang batang bambu betung itu. Di rumah saya yang sempit, saya hanya bisa menanam bambu buluh Schizostachyum brachycladum forma kuning, yang juga dikenal sebagai bambu gading bali, dan bambu hitam timor Bambusa lako sebagai tanaman hias.

Rumpun bambu buluh Schizostachyum brachycladum forma kuning
Rumpun bambu hitam timor Bambusa lako
Sesekali saya diprotes tetangga karena daun bambu kering mengotori halaman rumah mereka. Saya terima protes tetangga itu dengan permohonan maaf, sebab saya tidak sampai hati harus menebang rumpun kedua jenis bambu yang tampak begitu anggun itu. Saya tidak ingin kehilangan semilir angin meniup daun-daun bambu, sekedar pengobat rindu kepada masa kecil dahulu.


Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?