Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

04 Juli 2014

Taman Nasional Nino Konis Santana: Masa Lalu Seharusnya Menjadi Pelajaran untuk Hari Ini

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Ketika saya pertama kali tiba di Dili, ibukota Timor Leste, saya tidak tahu di mana negara ini akan membangun taman nasional dan siapa Nino Konis Santana, orang yang namanya akan dijadikan nama taman nasional pertama di negara tersebut. Saya, bersama dengan pakar bidang lain, dikontrak oleh BirdLife International untuk mempersiapkan rencana penetapan dan pengelolaam taman nasional tersebut. Informasi samar-samar yang saya peroleh adalah bahwa Nino Konis Santana merupakan salah seorang pejuang kemerdekaan Timor Leste yang berasal dari kawasan yang sekarang akan ditetapkan sebagai taman nasional. Setelah kontrak pertama, saya tidak mendengar kabar lebih lanjut sampai pada 2009, ketika saya dikontak kembali sebagai field bilogist untuk melakukan evaluasi lapangan.

Kawasan yang ditetapkan sebagai taman nasional tersebut sebelumnya berstatus sebagai cagar alam. Pada saat Timor Leste berada dalam pemerintahan transisi (UNTAET), kawasan tersebut, ditambah dengan kawasan Tutuala dan Com, bersama dengan laut di sekitarnya, ditetapkan menjadi kawasan konservasi Kategori V menurut IUCN, yang setara dengan kawasan cagar budaya menurut ketentuan UNESCO World Heritage Site. Selanjutnya, kawasan konservasi tersebut diusulkan oleh BirdLife International untuk ditetapkan sebagai taman nasional, dengan dukungan dari the Department of Environment and Climate Change (DECC),New South Wales, (Australia) danAustralian Volunteers International, serta pembiayaan dari Regional Natural Heritage Programme of theAustralian Government, Keidanren Nature Conservation Fund (Japan), dan the Darwin Initiative of the Government of the United Kingdom.

Taman nasional yang luasnya mencapai 125,6 ha tersebut berlokasi pada ujung paling timur Timur Leste, termasuk juga sebuah pulau kecil, yaitu Pulau Jaco, terdiri atas kawasan darat seluas 68 ha, dan sisanya kawasan perairan laut. Taman nasional yang mencakup satu-satunya kawasan hutan hujan basah di Pulau Timor ini, juga menggabungkan kawasan burung penting (important bird areas) Loré,Monte Paitchau,Lake Ira Lalaro, dan Pulau Jaco, yang sebelumnya telah ditetapkan oleh BirdLife International. Selain mencakup kawasan hutan, taman nasional ini juga mencakup kawasan permukiman yang mencakup desa-desa Com, Tutuala, Méhara, dan Maupitine. Di bagian tengah diapit oleh dua pegunungan, terdapat danau Iralaloro, yang airnya mengalir ke dalam gua dan kemudian tembus di pesisir selatan kawasan.

Ketika tiba untuk kali kedua, dengan ditemani oleh dua petugas dari Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Kelautan, saya dan seorang konsultan sistem informasi geografik (SIG), langsung menuju Los Palos, ibukota Distrito Lautem, melalui jalur darat. Kami memilih jalur melalui Com, kemudian melalui jalan pintas dari Com menuju Los Palos, untuk terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak dinas kehutanan Distrito Lautem. Kepala Dinas menugaskan beberapa orang polisi hutan untuk menemani kami, saya dan konsultan SIG, untuk menjelajah kawasan guna memperoleh data ekologis yang diperlukan untuk perencanaan zonasi taman nasional. Ini adalah perkenalan fisik saya yang pertama dengan Taman Nasional Nino Konis Santana, yang ternyata merupakan kawasan yang luar biasa indah.

Seminggu lebih saya kemudian menelusuri kawasan taman nasional untuk menentukan keadaan kawasan. Saya masuk/keluar satu desa ke/dari desa lainnya, satu kawasan hutan ke/dari kawasan hutan lainnya. Setiap kali saya selalu ditemani oleh sejumlah polisi hutan dari dinas setempat. Menurut kepala dinas, yang sebelumnya menerima saya dengan sangat ramah, saya akan aman di tangan mereka. Tentu saja saya harus percaya, meskipun dalam hati kecil sempat juga bertanya-tanya, mengapa kepala dinas harus menyampaikan ini. Cukup lama juga pertanyaan itu mengganggu pikiran, sampai pada akhirnnya, seiring dengan persahabatan yang semakin akrab, rasa saling percaya di antara kami pun semakin terbangun.

Hari pertama kami menuju ke desa Muapitine, menyaksikan ratusan ternak sapi dan kerbau merumput di tepi danau Ilalairo, menemui warga yang sedang bekerja menyiapkan lahan untuk musim tanam berikutnya. Kami kemudian menuju ke arah sungai yang mengalirkan air danau ke lubang gua untuk kemudian menghilang ke dalam perut bumi di bawah pegunungan selatan. Hutan sangat lebat, benar-benar merupakan hutan hujan tropis paling lebat yang pernah saya temukan di Pulau Timor. Beberapa kali saya tergelincir karena di kawasan tersebut masih turun hujan sehingga permukaan tanahnya licin. Setiap kali, para polisi hutan selalu membantu, setelah sesekali mereka mulai berani mengolok saya. Kami pun tertawa bersama-sama.

Suatu kali, ketika beristirahan di tengah kawasan hutan, iseng saya bertanya, siapa itu Nino Konis Santana. Meskipun sudah mempunyai sedikit gambaran, saya ingin memperoleh informasi lebih banyak lagi dari kalangan bawah. Seorang di antara polisi hutan yang menemani kami menceritakan bahwa dia dahulu adalah atasan mereka, Komandan FALENTIL, pasukan pejuang kemerdekaan Timor Leste. Dia adalah putra daerah Tutuala, menghabiskan masa kecilnya di kawasan taman nasional tersebut. Dia gugur dalam persembunyian, terjatuh dari tebing ketika berusaha menghindar dari kejaran pasukan TNI ketika itu. “Jadi”, kata seorang polisi lainnya, “kami semua ini dahulu adalah anggota FALENTIL yang berperang melawan TNI”. Saya menawari mereka rokok, untuk mengalihkan perhatian, sehingga tidak terlalu memperhatikan perubahan ekspresi saya, ketika ia menyebut TNI.

Kami melanjutkan perjalanan, hari ke hari. Sampai pada suatu hari, senja ketika itu, kami tiba di bawah sebatang pohon sangat besar dan menjulang. Di bawahnya tidak ada tumbuhan lapis bawah yang bisa tumbuh. Kami beristirahat di sana, setelah perjalanan melelahkan. “Pohon ini bersejarah bagi kami”, kata seorang polisi hutan. “Di luar tajuk pohon ini dahulu kami membuat kebun untuk menanam cabai, ya menanam cabai di tengah hutan”. Saya sedikit heran, apa istimewanya menanam cabai di tengah hutan. Di tempat asal saya, cabai bahkan tumbuh liar di dalam kawasan hutan. Tapi saya terlalu capai, sehabis menempuh perjalanan panjang. Saya hanya berusaha mendengarkan.

“Kami tahu bahwa prajurit TNI suka makanan pedas. Karena itu kami menanam cabai di dalam hutan. Kami mengintai mereka memetik cabai. Tapi bukan itu yang membuat pohon ini bersejarah. Bukan cabai, melainkan di tempat ini kami pernah hampir membunuh seorang jendral TNI. Kami sebut hampir membunuh karena kami memang tidak membunuhnya. Kami justru melepasnya. Karena kalau kami membunuhnya maka kami menjadi sama dengan dia. Kami melepasnya karena kami berbeda, kami ingin dia mengenang kami sepanjang hidupnya”, polisi hutan itu bercerita dengan suara pelan. Tapi saya dapat menangkapnya. Ia berbisik kepada saya, “Pak tahu, siapa yang saya maksud!”.

Hari berikutnya kami diajak mengelilingi Pulau Jaco dengan menumpang perahu cepat fibreglass. Ketika itu siang hari dan langit gelap, menandakan akan turun hujan. Saya sebenarnya enggan ikut karena khawatir akan diterjang ombak besar. Tapi saya tidak bolah menunjukkan ketakutan saya. Kami menyewa dua perahu cepat, masing-masing berpenumpang 4 orang, untuk mengitari Pulau Jaco dari arah kanan. Mula-mula laut tenang, tetapi ketika berada di bagian tenggara pulau, hujan turun dan ombak meninggi. Perahupun terangkat dan terhempas kembali di antara gulungan ombak menjulang. Kami pun terpaksa merapat di pantai timur pulau, di tengah hujan deras. Kami duduk saling berpandangan, menyalakan rokok untuk menghangatkan badan. Kemudian ketika hujan berhenti dan laut menjadi lebih tenang, kami meneruskan berlayar kembali ke titik awal kami berangkat tadi.

Hari sudah sangat siang dan kami semua lapar. Kami menuju ke arah lokasi tempat wisata, kalau tidak salah Pantai Vero namanya, di tengah hutan. Memang ada beberapa pondok wisata, dan bangunan semacam rumah makan. Kami menunggu pelayan menyiapkan ikan bakar untuk kemudian kami sikat habis. Setelah selesai menyantap makanan, kami pun mengobrol ke sana ke mari, terutama soal hubungan Indonesia-Timor Leste. “Kami tidak pernah memusuhi rakyat Indonesia, kami hanya memusuhi TNI ketika itu. Kami juga tidak pernah mendendam. Kalau saja kami mendendam, kami dengan mudah dapat membunuh bapak di tengah hutan atau di tengah laut tadi”. Kami pun tertawa, entah apa makna tertawa itu. Tapi benar, kalau saja mereka mendendam, dengan mudah mereka dapat membunuh saya dan kawan saya yang ahli SIG itu.

“Kami tidak sebanding dalam menghadapi TNI ketika itu. Tapi kami tidak kehabisan akal. Kami biarkan komandan kami Xanana Gusmao tertangkap bukan tanpa perhitungan. Dengan ditahan di Jakarta, komandan kami itu menjadi semakin terekspose secara internasional. Itu yang mereka tidak duga. Kami pun menyusupkan orang-orang kami, di berbagai kampus dan bahkan di kalangan militer. Jangan kira kami tidak bermain dalam tragedi Trisakti. Mengapa? Karena kami tahu, kami baru bisa bebas bila rezim Orde Baru runtuh. Juga dalam berbagai kerusahan lainnya kemudian, seperti kerusuhan Ambon dan Poso, kami juga terlibat. Banyak yang mengira kalau yang terlibat hanyalah milisi bentukan tentara. Bukan, kami juga ikut bermain, untuk memastikan bahwa rezim Orde Baru tidak memperoleh memontum untuk bangkit kembali”. Saya terkaget-kaget dengan ocehan polisi hutan mantan FALENTIL ini, antara percaya dan tidak.

Suatu hari lain, kami menjelajah hutan di pesisir selatan, dari Lore ke arah barat dan kemudian ke arah timur. Kami berangkat ke Lore dari Los Palos dengan menumpang kendaraan roda empat, melewati jalan berbatu dengan menyinggahi beberapa pemukiman. Ketika menjelang sebuah kawasan pemukiman, seorang polisi hutan berkata bahwa kami harus berhenti untuk menunggu seorang kawannya, yang belum kembali dari melakukan patroli. Sambil menunggu, seorang polisi hutan lain bercerita bahwa rumah yang kami datangi dahulu adalah markas cabang FALENTIL dan orang yang kami tunggu adalah komandannya. Saya mengiyakan dan entah mengapa, sekarang saya justru merasa lebih aman. Mereka semua kini telah menjadi para sahabat, meskipun kami baru bersama selama beberapa hari. Di dalam hutan kami membakar ubi, “mengenang masa-masa perjuangan”, kata seorang di antara mereka.
Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?