Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

01 Januari 2015

Perambahan Hutan, Musibah, dan Perayaan Alih Tahun

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Akhir tahun 2014 ini saya mendapat kesempatan untuk kembali mudik ke kampung kelahiran: Banjar Bungbungan. Saya tidak perlu menjelaskan lagi di mana itu Banjar Bungbungan karena sudah berkali-kali menulisnya dalam blog ini. Satu hal yang perlu saya tambahkan adalah bahwa Banjar Bungbungan merupakan banjar 'pengawen'. 'Mengawen' merupakan istilah setempat yang digunakan untuk menyatakan kegiatan merambah hutan untuk menjadi kawasan budidaya. Pohon dalam hutan dibabat dengan semena-mena untuk menanam berbagai jenis tanaman pertanian. Dan 'pengawen' adalah istilah yang diperuntukkan bagi mereka yang melibatkan diri dalam kegiatan 'mengawen'. Di sini saya tidak ingin menulis lebih banyak lagi mengenai kegiatan 'mengawen' ini. Saya hanya ingin bercerita tentang perjalanan saya pulang kampung pada akhir tahun dan beberapa hal yang berkaitan dengan itu.

Saya pulang bersama istri dengan menggunakan angkutan masal bis dari terminal Ubung, terminal bis antarkota Denpasar. Memerlukan waktu lebih dari 3 jam untuk menempuh jarak sekitar 70 km ke pusat desa. Kemacetan terjadi hampir di sepanjang jalan. Dari arah berlawanan saya berpapasan berkali-kali dengan trailer pengangkut mobil baru. Mobil baru terus bertambah, sedangkan jalan raya tidak pernah bertambah panjang maupun lebar. Maka saya merelakan diri untuk menikmati kemacetan sebagai pertanda kemajuan pembangunan, sebagaimana pernah dikatakan oleh seorang pejabat pemerintah kota di mana saya bermukim sekarang. Saya hanya bisa membayangkan, apa yang kira-kira dilihat oleh pejabat kota ini ketika dia melakukan studi banding ke luar negeri. Ketika bis berhenti di pusat desa menuju kampung, saya merasa begitu lega bisa terbebas dari kemacetan yang oleh pejabat kota tadi dikatakan sebagai pertanda kemajuan kota. Saya merasa semakin lega ketika memasuki jalan perkampungan yang di kanan-kirinya dipenuhi pepohonan.

Saya pulang kampung dalam suasana Galungan dan Kuningan sehingga jalan yang saya lewati dijejeri dengan 'penjor'. Penjor melambangkan gunung, merupakan sarana upacara perayaan Hari Raya Galungan, dibuat dari batang bambu dengan ujung melengkung dan dihias dengan janur atau daun enau muda dan daun-daunan lain dengan dilengkapi umbi-umbian, buah-buahan, pangan dan palawija serta di bagian pangkalnya diletakkan 'sanggah' ardha candra yang dilengkapi dengan sesajen. Umat Hindu di kampung saya juga membuat penjor di sepanjang jalan kampung sebagai simbol rasa syukur terhadap gunung yang telah melimpahkan kemakmuran. Sebelumnya, yaitu 25 hari sebelum Hari Raya Galungan, warga telah merayakan Tumpek Wariga, juga disebut Tumpek Bubuh, Tumpek Uduh, atau Tumpek Pengatag, yang menurut I Gusti Ngurah Sudiana, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, "merupakan upacara berkaitan dengan lingkungan, terutama melestarikan pohon. Doa supaya pohon berbuat lebat, berbunga, punya kualitas bagus. Kalau bisa buah bisa untuk Galungan.” Tapi dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar warga kampung saya justru 'mengawen', membabat hutan, yang menurut salah seorang 'pengawen' dilakukan agar bisa "memperoleh biaya untuk memperbaiki rumah, sanggah, dan bahkan termasuk memperbaiki pura di kampung ini".

"Sangat kontradiktif", kata seorang anak muda di kampung saya, ketika kami mengobrol setelah melakukan persembahyangan Hari Kuningan. "Bahkan cenderung menuju ke kemunafikan", katanya melanjutkan, "antara simbol keberagamaan melalui upacara dengan pelaksanaan keberagamaan melalui tindakan sehari-hari". Saya berusaha untuk menjadi pendengar, meskipun mungkin bukan pendengar yang baik. "Ingat tempat kita pernah pergi menangkap udang dahulu? Tempat itu sangat jauh dari tepi batas hutan dengan kampung ini. Tapi itu dahulu. Kini hutan yang ketika itu baru dibabat sebagian, kini sudah dibabat sampai semakin ke hulu, lebih ke hulu dari tempat kita menangkap udang dahulu. Sehingga, untuk mencari kayu untuk membangun sanggah keluarga, saya harus berjalan lebih jauh lagi". Dahulu, pada musim kemarau, saya sering mencari udang ke bagian hulu sungai yang mengalir di bagian kiri kampung. Meski memprotes pembabatan hutan untuk mengawen, anak muda teman saya ini tetap saja harus ikut menebang pohon untuk mencari kayu bahan membangun sanggah keluarga, Kontradiksi memang tidak perlu dicari jauh-jauh, cukup pada diri kita masing-masing.

Sehari menjelang saya harus kembali ke kota tempat tinggal sekarang, dua orang warga kampung mengalami kecelakaan lalu lintas. Katanya, sesudah selesai melakukan sembahyang Kuningan, mereka suami-istri, pergi menonton keramaian di kota kecamatan. Sang istri membonceng sang suami naik motor, ditabrak mobil di jalan raya menuju tempat keramaian yang akan dikunjunginya. Istrinya meninggal dunia di tempat, sedangkan suaminya mengalami patah tulang kaki sehingga harus dirawat di rumah sakit kabupaten. "Istrinya adalah tukang membuat 'banten' di banjar ini, sedangkan suaminya adalah 'pengawen' yang sangat tangguh membabat kawasan hutan tanpa pernah henti sehingga mencapi luas belasan hektar. Bahkan ketika anak laki-laki satu-satunya jatuh sakit dia tidak mempedulikan, tetap saja sibuk membabat hutan, sampai anaknya meninggal". Begitu seorang pengawen bercerita tentang kawan sesama 'pengawen' ini. "Dia memang 'pengawen' yang terlalu rakus. Mungkin harus melakukan upacara 'penebusan' ke hutan tempatnya mengawen", katanya melanjutkan. 'Penebusan' merupakan upacara permohonan maaf yang lazim dilakukan ketika seseorang mengalami musibah yang dipandang sebagai peringatan dari Tuhan.

Perjalanan kembali ke kota Denpasar melewati beberapa jembatan. Jembatan pertama merupakan jembatan pada sungai yang cabangnya adalah sungai pada bagian kiri kampung saya. Sungai itu banjir dengan air coklat menggelora, menghanyutkan batang pohon bergelimpangan, merendam permukiman yang berada di bantarannya. Saya, yang dihantar oleh adik ipar, menyempatkan diri berhenti sebentar. "Sungai ini sekarang sering banjir seperti ini Bli", kata adik ipar saya, "padahal dahulu jarang banjir". Saya hanya mengangguk mengiyakan, teringat pada masa kecil saya, sungai ini memang tidak pernah banjir seperti ini. Pada musim hujan airnya memang meningkat, tapi tidak pernah sampai seperti ini. Kami melanjutkan perjalanan untuk singgah di Grya Gede Kapal, untuk bertemu dengan mertua. Di grya, mertua saya menanyakan apakah saya sudah mendengar kabar pesawat AirAsia Indonesia yang hilang kontak dalam penerbangan Surabaya-Singapura. Saya jawab belum. Mertua saya meminta saya tenang saja dan meneruskan perjalanan. Hanya saja di benak saya tak pelak terbersit pertanyaan, mengapa pada akhir tahun sering terjadi musibah?

Akhir tahun memang merupakan awal musim hujan. Tapi apakah hujan yang seharunya menandakan awal musim tanam kini harus menjadi sumber musibah? Entahlah, tetapi sesampai di tujuan saya harus masuk kantor untuk mengikuti rapat akhir tahun. Salah satu agenda rapat adalah perayaan Natal dan Tahun Baru. Diputuskan bahwa perayaan dilakukan secara sederhana setelah tahun baru. Tapi instansi lain, lebih-lebih Kantor Gubernur dan Kantor Walikota, melakukan perayaan besar-besaran tepat pada malam tahun baru dengan pesta petasan dan kembang api mahadahsyat. Kota seakan dihujani bom oleh ledakan petasan dan nyala kembang api yang bersahut-sahutan. Tidak ada sedikitpun terasa suasana dukacita atas terjadinya musibah pesawat AirAsia Indonesia yang baru ditemukan lokasi jatuhnya pesawat pada pagi harinya. Sangat kontras dengan suasana di Crisis Center yang hanya diisi dengan hening dan doa. Pun tidak terasa bahwa provinsi yang pemerintahnya melakukan pesta alih tahun secara besar-besaran tersebut merupakan provinsi termiskin di Indonesia, provinsi yang rakyatnya banyak yang masih mengalami rawan pangan.

Andaikan uang yang digunakan untuk membiayai pesta itu dikumpulkan untuk disumbangkan kepada keluarga yang sedang mengalami musibah. "Akan jauh lebih bermanfaat", tulis seorang sahabat pada akun Facebook-nya, "daripada dibakar percuma". Rupanya sahabat Facebook ini lupa satu hal. Bahwa pesta adalah juga cara untuk melupakan sejenak derita kemiskinan. Para pejabat yang sudah sekian lama mengenyam kemakmuran tentu saja sudah lupa pada masa lalunya sendiri. Dan tentu hatinya sudah terlalu bebal untuk bisa berempati kepada mereka yang sedang mengalami musibah dan kepada kaum miskin yang telah memilihnya menjadi pejabat. Dalam gelegar petasan dan kembang api hampir sampai pagi, di kamar tidur saya berusaha mengurai kekusutan pikiran sendiri, meskipun pada akhirnya harus menyerah pada realitas yang penuh ironi. Saya bukan siapa-siapa, melainkan hanya noktah kehidupan pada arus gaya hidup mahabesar yang sedang melanda negeri ini. Selamat Tahun Baru 2015.


Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?