Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

20 Juli 2015

Awen: Kemakmuran yang Akan Membunuh Masa Depan

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF
Bulan kalender baru sampai pada Juli, tetapi ‘paluh’ (cabang-cabang sungai paling hulu) sudah lama mengering. Bahkan, sungai pun airnya sudah lama mengecil, mengalir gemericik di sela-sela batu-batuan vulkanik bulat hitam untuk kemudian menggenang di ceruk. Dahulu, ketika tegalan belum ditinggalkan pergi ‘mengawen’, merambah kawasan hutan larangan, ‘paluh’ baru mengering pada bulan-bulan Septermber-Oktober. Dahulu, ketika hutan larangan di batas Utara wilayah ‘banjar’(perkampungan adat) masih utuh, sungai masih mengalir deras sampai Agustus. Kini kawasan hutan larangan itu sudah sejak lama berubah menjadi ‘awen’, kawasan hutan yang dirambah untuk ditanami pisang, dan bahkan kini kakao dan cengkeh.


Dahulu, untuk mencari sayur, tinggal pergi ke pinggir-pinggir ‘paluh’, ‘pangkung’ (cabang sungai yang merupakan gabungan beberapa ‘paluh’), atau sungai. Di sana dapat diperoleh pakis sayur, Diplazium esculentum, yang tumbuh liar. Di lereng-lereng sebelah atasnya, pada bagian-bagian yang terbuka, dapat dipetik pucuk ubi kayu yang tumbuh liar dengan subur. Tapi itu dahulu, ketika tegalan masih terawat, ketika orang belum ramai-ramai meninggalkan kawasan tegalannya untuk ‘mengawen’. Itu dahulu, ketika hutan larangan di batas Utara wilayah Banjar masih ada, meskipun pohon-pohon penghasil kayunya sudah dicuri. Itu dahulu, sebelum masyarakat menebang pohon-pohon apa saja untuk dijual gelondongan dan sesudah itu mengubah kawasan hutan larangan menjadi ‘awen’ seperti yang ada sekarang ini. Kini, karena kekeringan, pakis sayur dan ubi kayu tidak lagi berpucuk. Yang tersisa hanyalah alang-alang (Imperata cylindrica), pakis kadal (Cyclosorus aridus), dan mikania (Mikania micrantha).

Semua berubah sejak terjadinya reformasi yang diawali dengan krisis ekonomi pada akhir 1990-an, yang kemudian berlanjut dengan otonomi daerah. Semangat otonomi daerah mendorong Bupati pada masa itu merasa sebagai raja yang mengemban amanat untuk menyejahterakan masyarakat. Maka Sang Bupati mengaspal jalan-jalan desa yang mengubungkan ‘banjar’ di batas kawasan hutan dengan pusat-pusat desa di pesisir. Bukan hanya itu, Sang Bupati bahkan membangun jalan desa di sepanjang batas kawasan hutan larangan, mengelilingi kawasan ‘banjar’ dengan tujuan mulia untuk membantu pengangkutan hasil tegalan guna dijual di pedagang pengumpul di pusat desa. Tujuannya mulia, tetapi yang menjadi alasan yang sebenarnya adalah pelanggengan kekuasaan. Dengan cara seperti itu Sang Bupati bisa dengan mulus mendulang suara untuk melanjutkan masa jabatan kedua.

Kini masyarakat banjar di pinggir kawasan hutan larangan dengan mudah pergi membeli bahan sayur di Pasar Desa Yehembang. Bukan hanya membeli bahan sayur, masyarakat bahkan dapat membeli sayur jadi setiap saat mereka memerlukan. Dari hasil ‘mengawen’ mereka bisa membeli motor untuk pergi ke pasar desa setiap saat mereka mau. Jangankan membeli motor, membeli mobil pun bukan lagi terlalu menjadi soal. Dengan ‘mengawen’ mereka bisa membangun rumah-rumah batu bergaya arsitektur tradisional Bali. Mereka bisa menyekolahkan dan menguliahkan anak-anak mereka di kota. Bahkan mereka bisa memperbarui bangunan pura Kahyangan Tiga, tiga pura yang dimiliki oleh sebuah ‘desa pakraman’, desa adat di Bali, menjadi pura-pura yang megah. Mereka bisa menyelenggarakan upacara ‘piodalan’, merayakan pura, dengan meriah. Mereka bisa ‘ngagalung’, merayakan Galungan dan Kuningan, hari kemenangan kebenaran atas kezaliman, dengan semarak. Juga merayakan ‘tawur agung kesanga’, penyucian jagat raya menjelang Hari Raya Nyepi, dengan gegap gempita mercon dan gemerlap kembang api.

Bahkan bukan hanya itu. Orang-orang tertentu, terutama di kalangan anak-anak muda yang pernah menikmati gaya hidup kota ketika melanjutkan sekolah atau kuliah tetapi kini kembali ke kampung, menggunakan hasil ‘mengawen’ untuk mengubah gaya hidup. Bukan hanya sekedar berganti motor, mobil, dan gawai (gadget), tetapi juga menghabiskan waktu untuk minum-minum di warung remang-remang pinggir jalan raya, ditemani gadis-gadis yang terus menyemangati untuk menghabiskan jutaan rupiah dalam semalam. Mereka menjual ‘awen’ yang telah mereka buka dan tanami dan kemudian membuka ‘awen’ baru, mereka tanami untuk kemudian mereka jual kembali. Dahulu hanya orang-orang tertentu yang mempunyai tegalan, sekarang siapa kuat bisa membuka ‘awen’ berapa pun luas yang mereka iinginkan. Tidak ada yang mengatur, apalagi melarang. Semua sebebebasnya, semaunya. “Bukankah itu intinya reformasi?”, begitu kira-kira yang ada di pikiran mereka.

Hari Galungan kali ini pun saya kembali mendapat kesempatan untuk ikut merayakan di kampung kelahiran. Saya mengikuti persembahyangan di pura kahyangan tiga, seperti yang saya biasa lakukan sebelumnya. Hanya saja, kali ini saya menemukan perubahan. Dahulu yang melakukan persembahyangan Galungan di pura kahyangan tiga hanyalah anak-anak sekolah dan mahasiswa. Kalaupun ada orang tua, hanyalah orang tua seperti saya, para perantau yang mendapat kesempatan pulang kampung pada Hari Galungan. Sekarang, bukan hanya anak-anak sekolah dan mahasiswa, bukan hanya orang-orang perantauan, tetapi juga orang-orang tua setempat juga ikut melakukan persembahyangan Galungan di pura kahyangan tiga, mengenakan pakaian sembahyang serba putih, yang laki-laki mengenakan ‘destar’ (ikat kepala) gaya mutakhir dan yang perempuan mengenakan baju kepaya model terbaru yang mengedepankan ‘keterbukaan’. Semua membawa gawai model terbaru dan sibuk berkomunikasi sampai detik-detik terakhir sebelum mencakupkan tangan ‘muspa’, bersembahyang. Siapa tahu, mereka tidak hanya mengirimkan selamat hari raya, melainkan juha menyampaikan doa khusuk melalui media sosial, sebagaimana yang lazim dilakukan oleh kalangan orang kota yang merasa telah semakin dekat dengan Tuhan.

Setelah mengikuti persembahyangan, saya diajak untuk ikut pergi ‘mebanten’, menghaturkan sesajian pada bangunan tempat menghaturkan sesajian sebagaimana yang lazim ditemukan di tegalan, tapi ini di ‘awen’. Sebenarnya sejak lama saya sudah ingin kembali melihat dari dekat, setelah beberapa tahun lalu saya pergi melihat bagaimana hutan larangan diluluhlantakkan. Maka karena itu saya langsung mengiyakan, ditemani keponakan dan saudara ipar, pergi menggunakan sepeda motor beriringan menuju ‘awen’. Mula-mula melewati jalan beton sampai di batas lama kawasan hutan larangan, jalan beton warisan Sang Bupati, kemudian berlanjut melewati jalan tanah yang dibuat berkelok-kelok melingkari lereng-lereng bukit, jauh memasuki kawasan yang dahulu merupakan kawasan hutan larangan. Dan saya pun menyaksikan langsung, dengan mata kepala sendiri, bagaimana ‘awen’ bisa membawa kemakmuran bagi warga banjar.

Begitu lepas dari batas lama kawasan hutan larangan, di kiri kanan jalan saya menyaksikan hamparan tanaman pisang. Bukan hanya di bagian lahan yang datar, tetapi yang seterjal apapun, bahkan sampai ke puncak-puncak bukit, sepanjang masih ada tanah, ditanami pisang. Bukit-bukit yang dahulu ditumbuhi pohon-pohon hutan tropis menjulang tinggi kini ditutupi oleh hamparan tanaman pisang. Tiba-tiba terbersit di benak, mungkin ini tidak jauh berbeda dengan kawasan hutan tropis basah Brazil yang juga mengalami nasib serupa, diubah menjadi perkebunan pisang. Hanya bedanya, kalau di sana pisang ditanam untuk memasok kebutuhan orang-orang di negara-negara maju, di sini pisang ditanam untuk memasok kebutuhan masyarakat lokal Bali untuk menghaturkan sesajian persembahyangan. Kebutuhan untuk bersembahyang meningkat seiring dengan kesadaran beragama masyarakat dan kebutuhan itu memerlukan banyak buah pisang yang produksinya di pusat-pusat produksi tradisional sebelumnya, di pekarangan dan tegalan, menjadi sangat berkurang karena penyakit layu fusarium dan penyakit darah. Maka tumbuhnya kesadaran bersembahyang tersebut menciptakan pasar yang menguntungkan untuk memproduksi pisang di ‘awen’ yang belum tertular penyakit.

,




Tapi bukankah kawasan hutan larangan sebenarnya tidak boleh dibuka untuk menjadi kawasan kawasan budidaya? Bukankah agama Hindu, selain mengajarkan ‘dharma agama’ juga mengajarkan ‘dharma negara’? Selain mengajarkan agar masyarakat taat melaksanakan ajaran agama juga mengajarkan agar masyarakat patuh pada aturan bernegara? Bukankah menggunakan kawasan hutan larangan untuk kawasan budidaya sama saja artinya dengan melanggar ajaran ‘dharma negara’? Bukankah mengunakan hasil dari melakukan pelanggaran untuk melalsanakan upacara agama sama artinya dengan menggunakan hasil mencuri untuk tujuan yang sama? Jawaban atas pertanyaan ini tentu hanya para pemuka agama yang tahu, para pinandita dan terlebih juga para pejabat parisada, orgaisasi umat Hindu. Yang saya lihat, mereka sibuk dengan menyelenggarakan ritual. Para pejabat parisada sibuk berpolitik untuk melanggengkan jabatan dan kekuasaan. Mungkin mereka lupa, atau bisa saja pura-pura lupa, bahwa kehidupan beragama memerlukan dimensi lain, dimensi pelaksanaan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Sepulang dari ‘awen’ saya merasa melewati jalan berliku yang suram. Saya merasa pohon-pohon yang tersisa berteriak-teriak membuntuti, ketika saya melewati jalan suram itu. Saya mendengar lengkingan suara burung yang masih tersisa bagaikan lengkingan bayi-bayi yang lapar dan kehausan. Di lereng-lereng tebing terjal yang sekarang ditanami hamparan tanaman pisang saya melihat setiap saat bisa terjadi tanah longsor yang akan menumpahi sungai-sungai di bawahnya. Saya mengendarai sepeda motor menuju rumah seperti ada yang mengejar, menggugat, tidak perlu belajar ekologi dan ilmu lingkungan sampai ke manca negara, untuk meraskan ada bahaya yang menghantui. Tiba-tiba terbayang pinandita yang begitu piawai ‘nguncarang japa mantra’ dan ‘muput karya’, tapi tidak melakukan apa-apa untuk menyadarkan umat dari menjadikan alam sebagai korban persembahan ritual yang dipimpinnya.

Lalu apa yang sudah saya lakukan? Saya sadar bahwa kawasan hutan harus bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Tapi memanfaatkan bukan berarti harus merusak, apalagi mengkapling-kapling lahan kawasan hutan larangan seakan-akan lahan milik pribadi. Saya sudah berulang-kali menyampaikan kepada siapa saja yang saya kenal bahwa merusak kawasan hutan itu berbahaya. Tetapi apa kata mereka? Beberapa orang mendengarkan sambil mangut-mangut, tetapi tetap saja 'mengawen'. Yang lain bahkan menjawab lebih frontal, "Jangan terlalu banyak omong kalau belum pernah berbuat apa-apa untuk warga banjar". Saya hanyalah seorang perantau, yang bisa saya lakukan hanyalah memberitahukan bahaya yang saya ketahui bisa terjadi bila kawasan hutan larangan diporakporandakan. Saya berusaha memberi tahu langsung maupun melalui tulisan, tulisan, tulisan, tulisan, tulisan, dan tulisan pada blog ini. Tapi kalau itu juga bukan berarti saya telah berbuat sesuatu, silahkan hadapi risikonya. Silahkan tunggu saja, bahwa kemakmuran yang dibawa oleh 'awen' akan membunuh diri semuanya nanti, pada suatu ketika, entah kapan.


Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?