Selamat Datang

Terima kasih kepada Anda yang telah berkenan mengunjungi blog ini. Saya bukan seorang penulis, hanya senang menulis. Karena itu, maaf bila tulisan saya mungkin kurang menarik. Silahkan menjelajah dengan terlebih dahulu mengklik Daftar Isi dan membaca Ketentuan Layanan (Terms of Service). Saya sangat menghargai Anda yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menyampaikan sesuatu ...

Esse quam videri

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

Sehari-hari saya bekerja sebagai dosen biasa pada Minat Perlindungan Tanaman, Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana). Saya memilih menjadi dosen karena ingin bekerja dengan mengedepankan prestasi, tetapi ternyata itu salah. Sebelumnya saya menyeselesaikan pendidikan S-1 di Fakultas Pertanian Universitas Mataram pada 1984, kemudian setelah menjadi dosen melanjutkan pendidikan S-2 di Faculty of Agricultural and Environmental Sciences of McGill University, Canada, pada 1991, dan pendidikan S-3 di Charles Darwin University, Australia. Saya melanjutkan pendidikan di luar negeri bukan karena ingin dikira hebat, melainkan karena ingin menunjukkan kepada guru SMP saya dahulu, bahwa saya bisa berbahasa Inggris. Ketika di SMP, saya yang lulusan SD dari kampung, diadu percakapan bahasa Inggris dengan anak-anak keturunan Cina lulusan SD dari kota, dan bisa dipastikan saya selalu kalah dan menjadi bahan tertawaan.

Pernah mengikuti kursus Dasar-dasar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan di ITS 10 November Surabaya pada 1994 dan Environmental Impact Analysis and Management di the University of Aberdeen, UK, pada 1994, tetapi setelah pernah bertugas sebagai Sekretaris Pusat Studi Lingkungan Undana (1993-1995) dan Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam Undana (1997-2003), saya tidak lagi berminat mengerjakan penelitian AMDAL karena tidak ingin ikut melegitimasi perusakan dan pencemaran lingkungan. Pernah pula mengemban tugas sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Arboretum Undana (2006-2011), tetapi saya tidak nyaman harus menanam pohon dan palma introduksi di pintu gerbang kampus. Ketika mengikuti pelatihan pengelolaan politeknik pertanian di Lincol College of Canterbury University (sekarang Lincoln University) pada 1998, saya belajar bahwa pendidikan tinggi terdiri atas jalur akademik dan jalur vokasi, tetapi di negeri ini sama saja, semuanya untuk mengejar gelar.

Selama menjadi dosen sejak 1986, saya pernah menerima penghargaan sebagai dosen teladan II tingkat universitas dan dosen peneliti berprestasi I tingkat universitas. Tetapi itu tidak terlalu penting, bahkan membuat saya malu, karena dosen teladan ITB juga bisa menjadi terdakwa korupsi karena tertangkap tangan KPK. Saya mengampu matakuliah Dasar-dasar Perlindungan Tanaman, Kebijakan Perlindungan Tanaman, Ilmu Gulma, Epidemiologi Penyakit Tumbuhan, dan Pengendalian Hayati. Dahulu, selain mengajar, saya rajin meneliti dan melakukan pengabdian pada masyarakat, dengan dana hibah kompetisi dari Ditjen Dikti Kemendikbud, Kemenristek, dan Kementrian LH maupun kerjasama dengan instansi pemerintah daerah (Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten di Provinsi NTT), BridLife International, USAID, AusAID, ACIAR, Cooperative Research Centre for Plant Biosecurity, Winrock International, Plan International, BirdLife International, World Vision International, FAO, dan World Bank. Saya pernah melakukan penelitian dan pengabdian pada masyarakat di hampir seluruh kabupaten di Provinsi NTT, Provinsi Bali, Provinsi NTB, Provinsi Maluku, dan Provinsi Papua dan bahkan di Timor Leste. Kini, saya tidak perlu lagi merasa malu tidak banyak meneliti karena di negeri ini, guru besar tidak perlu bersaing memperebutkan dana hibah penelitian, melainkan diberikan begitu saja seakan-akan menerima dana BLT.

Banyak mantan mahasiswa yang berterima kasih karena saya telah membimbingnya menjadi sarjana, tetapi banyak juga yang menuduh saya sebagai yang menyebabkan mereka harus mengulang matakuliah beberapa kali. Pada suatu pertemuan seseorang pejabat penting bertanya kepada saya, "Pak Wayan masih ingat saya?" Rupanya, karena dia sudah menjadi pejabat penting, saya harus mengingat dia, bukan sebaliknya. Kali lain, saya bertemu dengan seseorang di sebuah pusat perbelanjaan, menghadang saya dengan berkacak pinggang, "Bapak telah menyebabkan saya DO!" Pernah mendapat tepukan tangan riuh pada saat menyampaikan presentasi dalam seminar, tetapi pernah pula dihujat sebagai hanya bisa berteori tetapi tidak bisa menghijaukan kampus Undana. Di antara itu semua, yang paling membanggakan saya adalah ucapan seorang mantan mahasiswa, yang kini juga bekerja sebagai dosen, katanya, "Tidak banyak dosen 'gila' seperti Pak Wayan". Entah apa yang dimaksudkannya sebagai 'gila', tetapi mungkin karena saya tidak seperti banyak dosen lain di kampus tempat saya mengajar, yang menggunakan segala cara untuk bisa menjadi pejabat.

Saya senang apa adanya ketika begitu banyak orang yang berpura-pura manis di depan tetapi menikung di belakang. Saya senang perbedaan ketika begitu banyak orang masih menggunakan kekerasan untuk menumpas perbedaan. Saya senang perubahan ketika banyak orang yang lebih menyukai kemapanan untuk kepentingan pribadi. Saya lebih menghargai prestasi ketika orang-orang masih begitu mementingkan gelar dan jabatan akademik dan menggunakan gelar dan jabatan akademik untuk memandang rendah orang lain. Mungkin itu yang menyebabkan saya dikatakan 'gila', tidak apa-apa. Saya tidak perlu merasa rendah diri  disebut dosen minimalis hanya karena tidak mempunyai deretan gelar dan jabatan akademik yang panjang. Saya hanyalah seorang 'gurukecil', karena kecil itu indah dan tidak terlalu membebani diri sendiri, orang lain, dan alam sekitar.

Catatan kegiatan saya dalam foto dapat dilihat di bawah ini:
Lalulintas kejadian adalah sedemikian cepat. Hampir tidak ada waktu tenang untuk memikirkan dan merenungkan.
Pramudta Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, 104

Perubahan Iklim

Ingin memperoleh data dan bukti mengenai perubahan iklim? Mengapa tidak mampir di situs NASA? Anda dapat melihat indikator kunci, bukti, penyebab, akibat, konsensus, dan mengakses website lain yang terkait. NASA menyediakan data untuk dipergunakan melakukan visualisasi langsung secara online. Silahkan kemudian pikirkan gaya hidup seperti apa yang kira-kira dapat mengurangi pemanasan global?